aamir khan, film, Sejarah Film India, terjemahan

Taare Zameen Pe – Bukan Sebuah Review*

kashyapOleh Anurag Kashyap; terj. Mahfud Ikhwan

Pengantar Penerjemah

Taare Zameen Par (2007) adalah salah satu film terbaik yang pernah dibuat India, jika bukan yang terbaik. Ketika film ini diajukan sebagai wakil India untuk diajukan ke Panitia Oscar sebagai film berbahasa asing terbaik dan tak lolos masuk seleksi, publik India marah dan menyalahkan Slumpdog Milionaire, film Inggris tentang anak-anak miskin India, yang tahun itu merajai penghargaan Oscar. Film ini juga dianggap sebagai kesempurnaan dari sang Mr. Perfectionist, Aamir Khan, baik sebagai aktor, produser dan kemudian sutradara. Yang tak banyak disebut adalah adanya rumor bahwa film ini sebenarnya film Amol Gupte, sang penulisnya, yang “diambil alih” oleh Aamir Khan, yang jadi produser sekaligus aktornya. Baca lebih lanjut

Standar
film india dan saya

Nana dan Saya (2): Beberapa Penebusan dan Sebuah Penemuan*

oleh Mahfud Ikhwan

cz8xvfpusaakg_v

 

Risume Bagian (1)

Saya sudah menyukainya bahkan sebelum tahu namanya.

Tak seperti kata orang Jawa bahwa rasa suka muncul dari seringnya berjumpa, saya menyukainya karena ia begitu sulit ditemui. Ia begitu misterius. Hampir selalu muncul tanpa tanda pengenal, tanpa inisial, tapi daya pukaunya luar biasa. Pertemuan dengannya selalu jadi peristiwa fenomenal dalam ingatan saya. Saya hampir selalu bisa mengingat pertemuan itu, detil-detilnya, kapan dan di mana.

Saya menemukannya Nana pertama kali pada 1997-an, dalam sebuah film di televisi yang bertahun-tahun kemudian baru saya ketahui judulnya, Agni Shaksi (1996). Ini kisah tentang seorang suami kejam yang mengejar-ngejar istrinya yang dikawin orang lain. Lalu, sedikit lebih mengenalnya, saya menontonnya kembali dalam sebuah drama politik yang sangat menempel di kepala, berjudul Angaar (1992), yang berkisah tentang pengembang muslim yang lebih memilih membunuh diri dan keluarganya dibanding menyerahkan diri kepada masyarakat miskin tergusur yang tengah mengamuk.

Lalu di era internet, saya menemukannya pada drama-drama politik macam Rajneeti (2010), yang menggambarkan kisruh politik keluarga Nehru dan parabelnya yang mirip dengan kisah Mahabarata, dan Apaharan (2006) yang menggabarkan dengan realitas yang benar-benar gamblang tentang dekatnya kehidupan politik di India dengan organisasi-organisasi kriminal di India.

Tapi, pertemuan-pertemuan itu jauh dari memuaskan, dan malah mengundang rasa penasaran. Sebagian karena film2 itu ditonton di televisi, dan kadang-kadang tidak ditonton dengan itu. Yang lain, karena saya segera tahu, masih sangat banyak film-film Nana Patekar yang lebih bagus belum saya tonton.

 

Beberapa Penebusan

Setelah sekian lama, beberapa hal yang terlewat dari Nana bisa sedikit saya tambal. Sedikit, sebab memang tetap tak banyak.

Beberapa tulisan menyebut, jika ingin tahu film Shah Rukh Khan yang ikonik, maka ia perlu menonton Raju Ban Gaya Gentleman (1992). Ya, itu memang salah satu film pertamanya Shah Rukh. Tapi, alasan kenapa film itu ingin sekali saya tonton adalah karena di film tersebut ada nama Nana Patekar. Dan, saya rasa, Raju Ban Gaya Gentleman memang layak ditonton karena Nana.

Nana berperan menjadi Jai, seorang gelandangan sinis tapi ramah yang sekaligus seorang “pembual” yang menjual omongannya di jalanan Mumbai. Ia yang pertama kali memberi makan dan tempat bagi Raju (Shah Rukh Khan), seorang insinyur lulusan Darjeeling yang baru pertama kalinya ke Mumbai. Tapi bahkan sebelum itu, Jai jugalah yang sejak awal mengingatkan bahwa Mumbai tak akan memberi kesempatan kepada seorang pengecut dan bahwa kota itu penuh dengan kebohongan.

Dalam kisah insinyur desa yang mencoba bertahan dari kebobrokan moral kota besar ini, Jai adalah suara hati Raju. Ia orang yang pertama bernyanyi ketika Raju akhirnya jadi “orang” (gentleman). Ia juga yang sangat awal tahu bahwa Raju telah tertelan bulat-bulat oleh keserakahan Mumbai. Tapi bagi film pertama seorang calon superstar, yang untuk banyak hal mudah dilupakan, Jai yang diperankan Nana adalah seorang penyelamat.

Selalu ada sinar terang dari wajah Nana yang gelap itu di tiap frame yang menampilkan Jai. Ia tersenyum kecil, mencibir, merengut, meraung, semuanya pantas, semua meninggalkan bekas. Tapi, terutama, nikmatilah tiga monolog Jai di film ini, ketika ia “membual” kepada kerumunan di jalan-jalan di Mumbai tentang betapa tak bergunanya pendidikan, betapa konyolnya jatuh cinta, dan betapa mudahnya orang menjadi anjing penurut di bawah uang dan kedudukan.

Lalu Shakti: The Power (2002). Film yang selalu disebut-sebut jika membicarakan keaktoran Nana itu akhirnya tertonton juga. Bercerita tentang seorang perempuan India berkebangsaan Kanada yang melarikan diri dari lingkaran kekerasan keluarga almarhum suaminya, film ini sebenarnya milik si bintang perempuannya, Karisma Kapoor. Dan Karisma memang berhak untuk itu oleh karena permainan bagusnya. Film ini boleh juga jadi pengingat bahwa Shah Rukh Khan, dalam penampilannya yang pendek, bisa juga berakting. Tapi tentu saja Nana adalah rajanya.

Nana menjadi Narasimha, seorang kepala suku, yang tak membiarkan menantu yang dibencinya membawa pergi cucu laki-lakinya. Ia memuja kejantanan dengan cara mengerikan. Semua persoalan diselesaikan dengan tamparan dan bentakan. Semua urusan harus dituntaskan dengan bedil dan parang. Ia menendang istrinya, menampar dan menjambak menantunya, dan menyeret paksa cucunya yang masih kecil. Tapi ia tampak mengerikan bahkan saat tersenyum, tertawa-tawa dengan anak buahnya, atau bahkan saat mencoba bersikap ramah terhadap cucunya. Saya bahkan tak bisa menghilangkan bayangan buruk dari caranya jongkok dan mengibaskan tangan sampai bertahun-tahun setelah menontonnya, dan karena itu juga tak bisa tidak untuk semakin mencintainya. “Jao, jao!” katanya, saat pada akhirnya membiarkan menantu dan cucunya pergi.

Setelah beberapa kali mencicilnya, Khamoshi: The Musical (1996) selesai juga ditonton. Ya, saya mencicilnya dalam arti sebenar-benarnya. Film indah dengan latar Goa, lengkap dengan pantai dan suasana Kristianinya yang syahdu, yang semua lagunya saya hapal ini, belum pernah saya temukan di televisi, meskipun beberapa teman bercerita pernah menontonnya beberapa kali. Dan saya juga tak kunjung menemukannya bahkan setelah bertahun-tahun mencarinya, baik dalam bentuk fisik maupun dalam bentuk file. Ketika kemudian Youtube jadi tempat mencari semua hal yang tak ditemukan dalam kehidupan nyata, saya juga mencarinya ke sana. Dan ketemu. Lengkap dengan subtitle yang jelas. Tapi menontonnya adalah hal lain.

Tak pernah dikaruniai pulsa yang cukup dan kecepatan akses yang memadai, saya membutuhkan waktu yang tepat untuk berani menontonnya secara online. Ketika kemudian keinginan itu menjadi sangat menggebu, usaha menonton itu gagal oleh tanda lingkaran yang berputar tak henti-henti di tengah video. Lalu coba lagi. Kali ini dengan keyakinan bahwa sinyal cukup kuat dan pulsa masih cukup banyak. Dan karena itu, saya ajak teman menonton bersama, lengkap dengan penyorot layar. Namun, belum setengah jam film berlangsung, gambar bergerak itu berhenti sama sekali. Pulsa habis. Penonton bubar. Dongkol, film itu baru saya selesaikan berbulan-bulan kemudian.

Khamoshi adalah debut sutradara Sanjai Leela Bhansali, yang hanya beberapa tahun kemudian telah menjadi salah satu sutradara terpenting dan tentu saja terbaik di Bollywood. Film ini dimainkan oleh sepasang bintang yang sedang laris-larisnya, Salman Khan dan Manisha Koirala. Tapi, tak bisa tidak, ini adalah filmnya Nana.

Dibanding kisah tentang pasangan yang dipertemukan oleh musik, Annie (Koirala) dan Raj (Khan), Khamoshi (yang berarti “hening”) adalah kisah tentang kebisuan yang melingkupi Joseph Braganza (Patekar) dan keluarganya. Joseph dan Flavia (Seema Biswas) adalah pasangan bisu-tuli yang bahagia ketika mendapat dua anak yang normal, Annie dan Sam. Keluarga itu begitu semarak oleh bunyi dan musik ketika Annie menunjukkan bakat dan kecintaan yang sangat kepada musik. Mereka juga keluarga Katolik yang taat. Tapi semua segera berubah ketika Sam meninggal dalam sebuah kecelakaan. Joseph marah kepada Tuhan, dan untuk selanjutnya membenci musik. Dan kisah selanjutnya adalah bagaimana Annie (yang dibantu Raj) mengembalikan musik, kegembiraan, kemudian “Sam”, dan pada akhirnya Tuhan, ke rumah keluarga Braganza.

Video lagu terbaik di film itu, “Bahon Ke Darmiyan”, mungkin sudah saya tonton ratusan kali (Manisha Koirala tampak sangat cantik tapi sekaligus rapuh di pikturisasi lagu itu). Tapi tak saya ragukan, adegan terbaik di film ini adalah ketika Joseph meraung melihat anak laki-lakinya jatuh dari menara gereja, mengibaskan tangannya ke langit, dan kemudian dengan telanjang dada berlari memanggul salib besar di rumahnya, membawanya ke pantai, dan mencemplungkannya ke laut. Saya tak tahu pada bagian mana saya menangis dan kemudian tertawa, tapi saya merasakan kedua-duanya saat melihat adegan itu. Meski begitu, jangan lewatkan pidato tujuh menitnya dalam kebisuan pada pembaptisan cucunya.

 

Natsamrat: Sebuah Penemuan Besar

Ketika menulis bagian ini, saya juga baru saja menyelesaikan menonton Taxi No. 9211 (2006) di Youtube, dan sangat ingin berbagi pengalaman, betapa malangnya saya yang baru bisa nonton film ini meskipun pernah membeli kepingan DVD-nya nyaris 10 tahun lalu; ini film sangat bagus, dan sungguh beruntung John Abraham, aktor dengan tubuh berpunuk seperti sapi itu, pernah dipasangkan dengan Nana dan itu membuatnya—setidaknya—pernah bermain lumayan baik. Tapi, saya jauh lebih ingin membicarakan Natsamrat (2016), temuan besar dan terbaik saya tahun ini.

Natsamrat bercerita tentang Ganpat Belwalkar, seorang bekas aktor hebat yang memperoleh julukan Raja Panggung (natsamrat), yang menjadi gelandangan setelah dicampakkan oleh anak-anak yang mewarisi hartanya. Diangkat dari lakon teater berjudul sama yang ditulis Kusumagraj, yang telah dipentaskan sejak 1970, Natsamrat menghubungkan diri dengan tradisi teater Maharashtra yang sangat dipengaruhi lakon-lakon Barat, terutama lakon-lakon Shakespearean. Tapi, pada saat yang sama, film ini “sangat India” karena aroma drama keluarganya yang kuat—aroma yang melahirkan ribuan judul film pertahun dan telaga air mata di seluruh dunia. Dan ini memberi pengalaman menonton yang unik.

(Perlu diketahui, Natsamrat memang bukan film Bollywood, tapi film Marathi. Meskipun sama-sama berbasis di Mumbai, kedua jenis produksi sinema ini berbeda di bahasa dan orientasi; Bollywood dengan bahasa Hindi dan orientasi uangnya, sementara sinema Marathi memakai bahasa Marathi dan lebih berorientasi seni—meskipun perlu dicatat bahwa dari sinema Marathi-lah Bollywood dimulai.)

Nana tentu saja menjadi Ganpat, aktor kawakan yang jadi gelandangan. Dan itu membuat kita akan dimanjakan oleh banyak monolog, gumaman-gumaman larik-larik dialog dari Beckett, Ibsen, hingga lakon Mahabarata, dari mulut Nana, tapi terutama dari naskah-naskah tenar Shakespeare. Tapi bukan hanya itu. Sebab di Natsamrat Nana bukanlah penjahat bermuka dingin atau seorang pencinta atau suami yang obsesif, atau peran-peran stereotipe di kebanyakan film-film Bollywood yang dimainkan sebelumnya. Bukan cuma aktor kawakan yang kemudian jatuh, Ganpat adalah suami yang cengengesan tapi mesra, ayah yang terlalu mencintai anak-anaknya dan kemudian kecewa, kakek yang direnggutkan dari cucu kesayangannya, sekaligus sahabat yang merasa berdosa. Itu pemandangan langka.

Yang lebih langka, di film ini, tak seperti di kebanyakan film Bollywood-nya yang biasanya single fighter, nyaris sendirian memanggul beban film-filmnya, Nana punya sekondan yang sepadan pada diri Medha Manjrekar (berperan sebagai Kaveri alias Sarkar, istri Ganpat) dan Vikram Gokhale (sebagai Rambhau, sahabat dan sejawat aktornya). Frame-frame yang menampilkan Nana dan Manjrekar, dengan obrolan soal anak-anak mereka dan cinta yang tanpa syarat di masa tua, selalu membuat mata merembang—entah karena ikut bahagia, turut terharu, atau karena merasa sama sekali hancur. Dan itu hanya terjadi karena akting yang mumpuni.

Tapi yang paling mahal dalam Natsamrat tentu adalah melihat bertandingan akting dua aktor hebat pemenang Penghargaan Film Nasional untuk Aktor Terbaik, Nana dan Gokhale. Digambarkan sebagai dua aktor panggung yang bersahabat tapi sekaligus bersaing, Ganpat dan Rambhau selalu terlibat saling ejek, saling membongkar aib, saling tempeleng di depan istri masing-masing, sebelum saling berbisik untuk curi-curi minum di halaman belakang, atau saling memeluk ketika salah satu sedang terpuruk. Tapi yang paling tak bisa saya lupakan adalah dialog antara Rambhau dan Ganpat di bangsal rumahsakit.

Rambhau tengah terbaring sakit dan sedang bosan hidup setelah kematian istrinya, sementara Ganpat menyuapinya makan dengan rasa sayang sekaligus rasa bersalah. Tiba-tiba saja, Rambhau mengubah nada suaranya, menjadikan dirinya Karna yang tengah sekarat dan sedang menggugat takdirnya. Seluruh perawat terkejut, demikian juga Ganpat. Tapi, segera tahu apa yang mesti dilakukan, Ganpat segera malih rupa jadi Krishna yang bijak, dan mengingatkan kepada ksatria tertua Pandawa bahwa ia mesti memenuhi darmanya.

Sesudahnya, Anda hanya bisa memilih: jatuh dan berurai air mata atau bertepuk tangan, atau melakukan keduanya secara bersamaan.

 

Kerinduan yang Tak jua Terbayar

Peran Nana di Apaharan memperlihatkan dengan gamblang alasan kenapa Nana selalu saya rindukan.

Dia secara jelas memberi dimensi berbeda pada perfilman India. Perlu ada sosok antara yang bisa merukunkan karakter-karakter rata macam Inspektur Vijay dan Tuan Takur. Dan itu adalah karakter-karakter abu-abu yang banyak dimainkan Nana. Perlu ada kisah berbeda yang menyelingi cerita-cerita cinta berakhir bahagia ala Karan Johar. Dan itu adalah cerita-cerita di mana Nana bermain.

Tapi, dengan apa yang ditunjukkannya di Khamoshi dan terutama di Natsamrat, tak perlu ada penjelasan yang lebih panjang kenapa sinema India, lebih-lebih Bollywood, sangat membutuhkannya.

Dalam pada itu, secara bersamaan, menyaksikan Nana kembali selalu saja menimbulkan rasa sakit. Sebab, hal itu akan mengingatkan betapa saya merindukan kembali menonton Agni Sakshi, melengkapi menonton Angaar, melihat lebih utuh Kohram, Wajood, Krantiveer, Yeshwant, Hu Tu Tu, Yatra, dan film-film Nana lain yang saya lewatkan. Juga, karena saya tahu, tak seperti Shah Rukh atau Hrithik atau Salman, Nana selalu saja lebih sulit ditemukan.

Hal macam itu menimbulkan perasan serupa orang yang berjumpa orang tercinta namun hanya untuk berpisah lagi. Dalam keadaan seperti itu, rindu jadi tak pernah terbayar dengan sempurna.

Ah, Nana.

 

*merupakan spinn-off dari tulisan lama “Nana dan Saya”

Standar
aamir khan, PK, Sejarah Film India

Aamir Khan dan Kisah-kisah Tiruan

Oleh Mahfud Ikhwan

akele_hum_akele_tum

 

*Untuk Lubabun Ni’am

Belum lama ini, seorang teman yang kurang berpengalaman dan sedikit berpengetahuan dalam hal film India sedang tergila-gila dengan sebuah film India lama. Film itu saya putar dalam sebuah kesempatan bersama beberapa teman, dan tiga jam kemudian semua orang yang menonton—termasuk saya (sebagaimana sebelum-sebelumnya)—tersengguk-sengguk. Salah seorang yang menangis malam itulah yang kemudian membicarakan film itu pada teman yang saya ceritakan di awal kalimat ini. Dan temannya teman yang juga teman saya itu, kemudian menontonnya, dan—seperti yang diduga—menangislah ia. Baca lebih lanjut

Standar
film dan agama, Film India dan Islam, Film India dan Religiositas, Sejarah Film India, terjemahan

Islam di Film India (Bag. 5)*

Oleh Rachel Dwyer; Terj. Mahfud Ikhwan

ManishaAdult.preview 2

Busana “Bercorak Islam”

Bermacam genre film-film bercorak Islam menunjukkan beragam busana yang dianggap cocok untuk dipakai seorang muslim di istana Mughal, busana biduan istana (kotah), atau orang-orang Islam di jalanan Bombay modern. Film-film dongeng bercampur dengan gaya oriental ala Hollywood, terlihat di film-film Valentino, Douglas Fairbanks Jr., dan film-film epik injili Cecil B. deMille (yang menyajikan Timur Tengah kontemporer dan imej-imej populer lain untuk menggambarkan ‘Timur’), sementara film-film sejarah menampilkan dokumen-dokumen sejarah. Kedua genre ini secara bersamaan juga menampilkan seni, kromolitografi, dan teater bercorak Islam.

Dalam film-film sosial Islam, juga genre lain, pria muslim sering tidak memakai pakaian yang khusus, yaitu dengan tampilan ala Barat atau piyama-kurta, namun ada juga beberapa yang menggunakan pakaian yang menandakan bahwa mereka muslim. Beberapa pria muslim, sebagaimana juga pendeta Hindu, intelektual, penjahat, dan orang Sikh, memakai jenggot dan mengenakan kopiah, seperti salah satu karakter teman dalam film Salim Langde Pe Mat Ro (1989, stdr. Saeed Mirza). Untuk suasana formal, terutama di film-film sejarah, orang Islam digambarkan memakai sherwani (sejenis baju-rok) dan piyama longgar atau ketat. Ini adalah pakaian yang diadopsi oleh Nehru dan sering disebut sebagai pakaian paling resmi di India, karena dianggap diadaptasi dari pakaian istana, meskipun peci ala Nehru bukan pakaian muslim. Seorang Pathan (suku muslim dari Afghan) memakai gaya yang khas dengan turban dan rompi berbordir, seperti tokoh yang diperankan aktor Pran di Zanjeer (1973, stdr. Prakash Mehra). Sementara, Muslim Punjabi biasanya memakai sejenis salwar khameez. Kadang, busana yang dipakai itu dibuat sangat spesifik untuk Muslim, meskipun itu tidak realistis. Misalnya, para pelajar yang memakai kopiah Turki di film Phool (1942, stdr. K. Asif), boleh jadi dipakai oleh para pendukung kekhalifahan Turki, namun belakangan malah sering dipakai untuk komedi, seperti yang dipakai Shammi Kapoor di Dil Deke Dekho (1958, stdr. Nasir Husain) atau Rishi Kapoor dalam Amar, Akbar, Anthony (1977, stdr. Manmohan Desai)—pakaian yang tak lagi dipakai namun dicap sebagai ciri orang Islam (Amin 2004). Pakaian lain yang dilebih-lebihkan sebagai ciri Muslim daalah pakaian yang dipakai pemain qawwali, yang sering dilengkapi oleh gerak-gerik dan bahasa yang dimirip-miripkan (aslinya).

Pakaian perempuan muslim biasanya lebih realistis karena mereka ditunjukkan memakai jenis pakaian muslim seperti salwar khameez atau baju Punjabi, yang aslinya merupakan busana Muslim yang menjadi populer di India barat daya, dan juga menjadi pakaian nasional atau bahkan pakaian internasional. Pakaian itu terdiri atas celana panjang (salwar longgar atau churidars ketat), baju panjang, dan kerudung. Macam gayanya tak terbatas, sementara kerudung sendiri bisa dipakai dengan cara berbeda-beda, tergantung tujuan dipakainya, apa dipakai menutup kepala, menutup dada, atau dipakai seperti kerudungnya orang Barat. Dalam beberapa film, perempuan Muslim memakai sherara (kulot panjang berbahan kaos). Untuk film masa kini (pakaian) itu biasa dipakai untuk acara perkawinan, meskipun di film lama dipakai dalam keseharian.

Sementara para perempuan Hindu yang berkerudung muncul sebagai perempuan tua, yang menutupi kepalanya dan kadang wajahnya, dengan kerudung yang kebanyakan dikaitkan dengan Islam. Begitulah yang muncul di film, dan hal itu memainkan peran penting dalam beberapa genre, semisal genre film sosial bercorak Islam dan film Islam bertema biduan. Dalam film sosial bercorak Islam, si lakon pria menangkap kelebatan sekilas si lakon perempuan, namun kerudungnya (burqa tertutup) seringkali menuntunnya pada tragedi pada kesalahan mengenali, semisal di film Chaudhvin ka chand (1960, strd. M. Sadiq). Dibukanya burqa bisa jadi adalah tanda sebuah transisi di film, seperti yang terlihat pada Bombay (1995, stdr. Mani Ratnam) ketika burqa Shaila Bano tertiup angin saat ia berlari untuk bertemu Shekhar, yang menandakan bahwa dia telah menanggalkan nilai-nilai tradisionalnya. Di film bertema biduan, si lakon perempuan memang memakai kerudung, namun kehormatannya bukan untuk khalayak umum. Di Pakeezah (1971, stdr. Kamal Amrohi), si lakon perempuan bersikeras mempertahankan kehormatannya (karena itulah orang yang mencintainya menamainya Pakeezah, Suci), dan menuduh orang yang mencoba merampoknya dengan menyingkap kerudungnya di lagunya yang sangat terkenal ‘Inhe logon ko’ (‘Tanya orang ini’). Kerudung memiliki nilai erotis karena ide menutup dan membukanya, dan sejumlah lagu di film Hindi berbicara soal kerudung, bahkan ketika si lakon perempuan tak lagi memakainya.

Ringkasnya, tradisi berbahasa, sastra,, musik dan busana yang memiliki akar di dunia Muslim India Utara telah beralihrupa menjadi sebuah estetika bercorak Islam yang kosmopolitan di Bombay, dimuali di teater dan kemudian di film, yang kemudian merembes ke seluruh kultur masyarakat India dari abad ke-20 hingga sekarang.

 

*Diterjemahkan tanpa izin dari Filming The Gods (2006, Routledge), khususnya Bab 3 (The Islamicate Film).

Standar
film, Mumbai Noir, sejarah india

Bombay Velvet: Bercitarasa Amerika, Berbau Indonesia

Mahfud Ikhwan

bv

Bombay akhir ’60-an. Sebuah metropolis yang tumbuh. Dua koran yang bersaing. Keduanya menjuluki satu sama lain sebagai agen CIA dan antek KGB. Torrent di sisi kanan, Glitz di sisi kiri. Khambatta, walikota, dan rekan-rekan investornya versus Jimmy dan sekutu menteri dan aktivis komunisnya. Proyek reklamasi dan investor-investor haus tanah yang mengincarnya menghadapi protes buruh yang sengit dan menjengkelkan. Di antara dua kekuatan yang bertarung adalah Johnny Balraj, si bajingan kecil, anak seorang sundal, petarung jalanan yang ingin kaya, dan Rosie, sang penyanyi jazz dengan masa kecil yang kelam di Goa. Semua ketemu di sebuah klab bernama Bombay Velvet.

Anurag Kashyap tampaknya tetap selalu layak ditunggu. Setelah menggegerkan dan sangat sukses dengan dua seri Gang of Wasseypur (2012), terlibat dengan proyek Bombay Talkies (2013) yang kecil tapi menyenangkan, menyentak dengan Ugly (2014), ia muncul kembali dengan warna gelap yang sama, yang selalu dibawanya, dengan Bombay Velvet (2015). Dan seperti film-film Kashyap sebelumnya, film ini tampak begitu India di satu sisi, tapi pada saat yang sama sulit sekali mendapati karakter Bollywood-nya.

Ia meramu kisah-kisah gelap yang menghubungkan penguasa media, politisi korup, pemilik uang, artis, dan para bajingan, yang juga sering muncul di film-film sutradara-sutradara besar Bollywood lain macam Mani Ratnam atau Ram Gopal Varma, tapi ia menyajikannya dengan gambar-gambar ala Coppola atau Scorsese. Pertarungan ideologi politik yang ditampakkan film ini jelas membuatnya bisa dijajarkan dengan film-film para sineas paralel yang tersebar dari Chennai hingga Kolkata. Namun, dalam beberapa adegan dan gambaran, dan itu tidak jarang, kita seperti sedang pergi sebentar dari Bombay untuk mampir ke New York atau LA. Lepas bahwa Amit Trivedi, yang memkomposeri lagu dan musik latar, menghasilkan musik jazz ala India yang aneh (baik untuk pendengar jazz maupun pendengar musik film Bollywood) namun asyik untuk film ini, para penari dan pakaian yang dipakai Rosie untuk menyanyi seperti diimpor langsung dari Amerika masa Depresi Besar. Sementara Thompson Gun yang dipakai Johnny dan temannya Chimman seperti dipinjam langsung dari anak buah Al Capone.

Beberapa ulasan di media-media India menyebut Bombay Velvet lebih mementingkan gaya dibanding isi. Saya rasa itu tak terlalu salah. Tapi, untuk orang yang sudah membuat Gang of Wasseypur dan mengubah industri film India untuk selamanya, sedikit bergaya tentu tak apa. Maklumi saja. Walaupun tak menggeser Gang of Wasseypur dan Gulaal sebagai film Kashyap yang paling saya suka, Bombay Velvet jelas bukan film yang buruk–meski pada saat yang sama saya juga bisa membayangkan kenapa film ini kabarnya flop di India sana.

***

Ranbir, anak manis Bollywood yang sangat diperhitungkan mengambil tempat Shah Rukh di masa depan, putra dari raja drama ’80-an Rhisi Kapoor, cucu dan cucu keponakan dari para raja perfilman Bollywood tahun 60-an, tengah mencoba keluar dari zona nyamannya. Ini langkah yang patut dipuji, sebagaimana pujian diberikan kepada Sahid Kapoor, anak manis Bollywood lain yang dengan sangat sukses mengubah imejnya melalui film Shakespearean yang penuh darah, Haider.

Dan menurut saya, apa yang disajikan Ranbir memang patut dipuji. Ia tetap tampak manis tentu saja, sebagaimana di film-film cinta-cintaan yang banyak dibintanginya. Namun tak seperti di film-film sebelumnya, yang berperan sebagai sales, anak band, fotografer, atau karyawan agen periklanan, ia kali ini muncul sebagai petarung jalanan yang bisa dibayar untuk membunuh. Dan menjadi tetap tampak manis namun sekaligus mengerikan adalah karakter yang agak langka di film-film India. Keluar dari kerangkeng pakem angry youngman yang kasar dan kusam, yang diletakkan dasarnya oleh Bachchan dan ditegaskan oleh Sanjay Dutt, Johnny yang dimainkan Kapoor malah terasa lebih dekat dengan karakter-karakter yang dimainkan Joe Pesci di film-film Scorsese.

Pujian perlu ditambahkan karena pilihannya untuk bermain di Bombay Velvet sangat berisiko.

Sudah jadi diktum di Bollywood, melebihi apa yang terjadi di Hollywood, bahwa sutradara, apalagi aktor, tak boleh salah pilih film. Sekali jangan, apalagi berkali-kali. Sebab tak terhitung insan film yang buru-buru sudah jadi veteran hanya karena salah pilih film. Makanya, ambillah risiko jika dirasa diperlukan. Jika tidak, tak usah dilakukan. Tak perlu mengambil risiko itulah resep Rajinikant menjadi lebih besar di industri film Tamil dibanding Kamal Hasaan yang meletup-letup. Resep yang sama juga yang membuat Shah Rukh (setidaknya pasca-Kuch Kuch Hota Hai) merajai Bollywood, melampaui Aamir yang selalu resah dengan tema dan peran-peran baru. Dan resep inilah yang “dilanggar” Ranbir. Ia keluar dari cangkang anak manisnya, bertarung, menjadi kejam dan serakah, bersimbah darah, membunuh, bahkan membunuh dengan keji, dan mati di akhir film. Dan mungkin ini tak dikehendaki publik film di India yang mencintai karakter-karakter manisnya. Bombay Velvet pun jatuh, bahkan dilabeli “disaster” oleh media-media India.

Tapi film ini tak hanya memberi risiko pada Ranbir. Juga Karan Johar, sutradara Kuch Kuch Hota Hai. Seperti banci tampil, Johar belakangan semakin sering muncul di di layar, ikutan main. Biasanya hanya cameo, atau berperan sebagai dirinya sendiri, tapi kali ia tampil penuh, dan main sebagai antagonis. Dan wow, bukan hanya tampak tahu akting, ia malah tampil sangat menonjol sebagai Kaizat Khambatta, bos media pro-modal yang kebanci-bancian. Dan menjadi lebih menonjol lagi karena karakter Khambatta ini seperti tengah berolok-olok dengan opini khalayak yang, di kehidupan nyata, sejak lama menggunjingkan Johar sebagai seorang gay. Entah mau senang-senang atau memang serius berakting, dengan kemampuan macam itu, di masa depan ia bisa bermain berpasangan dengan karibnya, Shah Rukh. Itu kalau Shah Rukh mau ambil sedikit risiko.

Meski demikian, risiko terbesar tentu saja ditanggung sang sutradara, Anurag Kashyap—meskipun, setahu saya, ia tak pernah membuat film yang aman-aman saja. Film berlatar belakang masa lalu bukan hal baru di Bollywood, lebih-lebih belakangan ini, ketika kecakapan teknik para sineasnya sudah sama memadainya dengan para pekerja film di belahan bumi lainnya. Tapi mengangkat kisah dunia hitam Bombay (yang kemudian jadi Mumbai) tahun 60-70-an dengan tanpa menyinggung secara pantas para gembong preman Muslim-nya bukan hanya memunggungi sejarah Bombay tapi juga mengabaikan khittah Bollywood sendiri.

Perlu diketahui, sampai kematiannya tahun 1994, penguasa dunia hitam Bombay pasca-Kemerdekaan India adalah Haji Mastan, seorang Robinhood Muslim buta huruf asal Tamil Nadu. Itu di dunia nyata. Di layar, kehidupan Mastan dan dunia hitam yang dibesarkannya bukan saja menginspirasi puluhan film, tapi bahkan membentuk sejarah Bollywood itu sendiri. Deewaar (1975, std. Yash Chopra), film yang ditulis berdasar riwayat hidup Mastan, disebut oleh Danny Boyle sebagai “kunci bagi khazanah sinema India” dan dianggap mempengaruhi karyanya, Slumdog Millionaire. Terus diproduksi spin-off dan replikanya bahkan hingga saat ini, Deewaar adalah fondasi bagi apa yang saat ini disebut sebagai Mumbai Noir, sebuah genre yang juga dihidupi oleh film-film awal Kashyap. Lucunya, Bombay Velvet tampaknya ingin keluar dari kerangka Mumbai Noir-nya. Dan mungkin ini salah satu alasan kenapa film ini terpelanting di bioskop.

***

Selain bercitarasa Amerika, Bombay Velvet sebenarnya menggemakan realitas aktual di Indonesia (baik ekonomi, sosial, juga politik). Dan itulah salah satu alasan kenapa tulisan ini lahir.

Film ini jelas tak ditujukan untuk khalayak Indonesia, tapi, entah kenapa, memiliki koneksi yang aneh (tapi nyata) dengan kita. Pasti dibikin jauh sebelum tahun rilisnya (2015), apalagi cerita ini berdasar buku Mumbai Fables (2010) karya sejarawan Gyan Prakash, film berseting Bombay akhir ’60-an ini, dengan ketepatan yang luar biasa, terasa seperti bicara tentang Jakarta masa kini. Gambaran ekspansi modal yang gila-gilaan, perang media yang ngawur-ngawuran, reklamasi pantai dan perebutan lahan yang dibayar dan dilakukan dengan cara apapun, tak bisa tidak mengingatkan kita dengan apa yang kini terjadi di bekas Pantai Utara Batavia. Makanya, seorang teman yang kebetulan juga kritikus Ahok yang gigih, bersorak riuh manakala menemukan adegan pertemuan antara pemilik media, pengusaha, politisi, dan preman tengah bersekongkol soal reklamasi.

Tapi jika mau lebih cermat sedikit, gema ke-Indonesia-an film ini juga bisa didapatkan pada sisi lain. Coba perhatikan sosok Jimmy Mistry, editor Glitz, koran yang kontra modal. Ia kekiri-kirian, ada di pihak buruh dan aktivis komunis, namun pada saat yang sama sangat mudah membedakannya dengan pemimpin buruh dan aktivis komunis di film ini, misalnya Kamerad Dhespande. Jimmy berpakaian rapi dan dandi, sama flamboyannya dengan musuhnya, Khambatta yang pro-modal. Ia ajeg mengunjungi bar jazz, kedapatan main billiard, dan senang mani-padi, meski di banyak kesempatan ia juga muncul di panggung demonstrasi para buruh. Dan, yang terpenting untuk alur film ini, ia juga senang dengan perempuan cantik, dan tak sungkan memperalatnya untuk tujuan-tujuan taktik-politik.

Mengabaikan satu-dua hal pokok yang tak sesuai, lalu iseng-iseng bermain anagram dan inisial, dan membayangkan bahwa Anurag Kashyap mungkin sempat membaca studi-studi tentang industri cetak di Indonesia (Wars Within-nya Steele, misalnya), saya tampaknya menemukan sosok mirip Jimmy Mistry ini di sini, di Indonesia. Sambil senyum-senyum saya berandai-andai, kalau di Indonesia, JM si editor ini tampaknya lebih condong jadi PSI dibanding PKI.

Standar
film dan agama, film india dan film indonesia, Film India dan Islam, Vishal Bhardwaj

Fiksi Islami dan Fiksi Berwarna Islam: Perspektif Penonton Film India

Oleh Mahfud Ikhwan

2f9bda8df0e75f318c2ee62bae3c02cb

 

Tentang “Tukang Ngarang” yang “Menegakkan Kalimat Allah”: Pengantar

Bersamaan dengan terbitnya novel saya, Kambing dan Hujan, term-term lawas yang dulu sempat mengitari kepala saya, terutama di masa-masa awal menulis, ketika masih belajar teori fiksi Stanton, kembali menghampiri: tentang fiksi Islami. Ini dikarenakan munculnya beberapa tanggapan atas novel tersebut, juga beberapa kategorisasi yang sering kali terdengar rumit yang kemudian disematkan.

Pada dasarnya, saya tak ada persoalan dengan itu. Term-term tersebut, baik di lingkup industri dan terutama di kalangan pembaca memang nyata dan kadang diperlukan. Industri butuh itu untuk membuat distingsi produknya dari produk-produk lain yang menyandang term-term lain yang juga muncul menjamur macam fiksi remaja, fiksi urban, fiksi motivasi, fiksi sejarah, dan masih banyak lagi (belakangan malah dengan istilah-istilah yang bahkan asing), dan terutama bisa memastikan di mana nanti barangnya akan ditaruh di lapak toko. Sementara itu, di pihak pembaca, ia akan dimudahkan untuk memilih buku yang disukainya. (Mereka sudah keluar uang untuk membeli buku, masa suruh mumet untuk hal-hal lain yang tak masuk hitungan harga?) Beberapa penulis tampaknya juga membutuhkannya—mungkin untuk membuat pekerjaannya lebih mudah, mungkin. Yang nyaris pasti, semua penulis saat ini tampaknya harus hidup dengan hal itu, sebagaimana seorang pemain sepakbola harus masuk lapangan dengan memakai sepatu. Baca lebih lanjut

Standar
musik, satire, shah rukh khan

5 Lagu India Paling Cocok Bagi Para Pesepeda*

Oleh Mahfud Ikhwan

 

BILLU-02

 

1. “Haule Haule” (OST Rab Ne Bana Di Jodi, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh)

Sedang ingin menikmati setiap kayuhan, mensyukuri setiap embusan angin yang menerpa wajah dan dada, menghirup sepuasnya oksigen yang dihasilkan rindang pohon tepi jalan, mengucap wirid dan mensyukuri nikman Tuhan pada tiap pancalan, maka lagu ini untuk Anda. “Haule Haule” artinya “pelan-pelan”. Ia mengacu pada sikap penuh kesabaran, tak tergesa, tapi sekaligus—meminjam judul lagu mantan Presiden SBY—“yakin sampai di sana”. Meski demikian, musik lagu ini tidak sepelan judulnya, malah terkesan rancak, terutama setelah reff. Ia meruapkan optimisme, bahwa apa yang tengah dilakukannya ada di jalur yang benar, pasti tidak sia-sia. Seorang pengarang yang memiliki keangkuhan, yang menganggap bahwa seluruh dunia tak akan bergerak kecuali setelah menyaksikannya karyanya terbit dan memukai jagad raya, sangat cocok dengan lagu ini.

Namun, tampaknya, tak ada yang lebih cocok dengan lagu ini melebihi seorang pesepeda yang baru pulang dari kencan, ngapel, dan terutama yang sehabis nembung dan diterima. Sembari membayangkan Surinder Sahni dengan kumisnya yang kuno dan kotak makanan terkalung di leher tengah mengendarai skuter kuningnya yang meluncur pelan menuju kantor, lagu ini akan membuat Anda merasa selama mungkin dekat dengan si dia yang Anda tinggal di belakang, dan merasa lambaian tangan dan senyum selamat jalannya ada di jangkauan. Dan, dengan perasaan macam itu, apa gunanya cepat sampai rumah?

Tapi, jangan lupa menyanyikan lagu ini sembari berdoa. Sebab, bagaimanapun, cewek yang Anda tinggalkan sangat rentan dari godaan cowok pengendara KLX atau penunggang Vespa Ndog yang sudah dimodivikasi belasan juta.

 

2. “Omkara” (OST Omkara, 2006; penyanyi: Sukhwinder Singh)

“Omkara” adalah sebuah himne tentang seseorang yang bisa mengalahkan siapa pun, melempangkan jalan ke tujuan akhir dengan cara apapun. Ia menyimpan amarah dan dendam sekaligus keberanian, tapi terutama keyakinan. Tak lama lagi, dunia akan digenggaman. Tidak gampang, tapi itu niscaya.

Jika Anda dan ontel Anda meninggalkan rumah dengan perasaan macam itu, tak salah lagi inilah lagu Anda. Ia cocok untuk penyair yang baru saja melahirkan masterpiece, dan di tempat ia nanti membacakan puisi itu, hadirin sudah membeludak tidak sabar; pengarang yang baru saja menyelesaikan novel tebalnya, dan ia merasa para penerbit tidak akan punya pilihan lain begitu membacanya selain menekuk lutut dan memohon-mohon untuk menerbitkannya, dan tentunya; seorang pencinta yang berangkat kencan dan merasa yakin bahwa status-status hebat dan buku-buku berat yang diunggahnya di facebook akan membuat cewek yang akan ditemuinya menerima cintanya bahkan tanpa ditembaknya.

Cermati tepat di koor “Ooom…kara! Ooom… kara!”, cerap suara perkusinya yang mentah dan garang itu, dan bayangkan Anda adalah Omi Shukla yang perkasa dan tak terkalahkan. Niscaya sepeda Anda akan meluncur dengan mulus, lobang-lobang di jalan akan menutup dengan sendirinya, dan para pengendara mobil akan menyisi jika tidak malah membuka kaca mobilnya dan mengulurkan salam takzim. Jika sepeda Anda bergigi ganda, pastikan setel di gigi paling tinggi. Sebab memang tak akan ada yang bisa menghalangi laju Anda.

Tapi tetap harus hati-hati. Sumber Kencono masih terus hidup dan beranak pinak.

 

3. “Dhan Te Nan” (OST Kaminey, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh & Vishal Dadlani)

Bayangkan Anda mengalahkan lawan Anda dengan cara yang paling memalukannya. Bayangkan Anda memenangkan sebuah kompetisi dengan cara yang paling tidak disangka. Bayangkan Anda berjingkrak berpesta juara dan orang-orang hanya bisa menonton dan merasa bodoh. Tak ada yang lebih cocok untuk perasaan macam itu selain lagu “Dhan Te Nan”, “Dhan te nan….. rerereret!

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika memutar lagu ini saat bersepeda: 1) pastikan earphone terpasang dengan rapi, sebab nanti kepala Anda tak akan henti untuk mengangguk-angguk, bahkan dengan keras; 2) pastikan skrup di sadel terpasang dengan kuat, karena badan Anda tak akan berhenti meliuk; 3) perhatikan jalan, banyak lobang.

 

4. “Jaon Kahaan” (OST Billu, 2009; penyanyi: Rahat Fateh Ali Khan)

Lagu ini muncul sesaat setelah Billu, seorang tukang cukur sederhana di sebuah kota kecil, gagal bertemu sang bintang film Sahir Khan, yang sudah kadung dianggap oleh orang seluruh kampungnya sebagai sahabatnya, dan karena itu ia dicap sebagai penipu. Maka, orang-orang yang dulu memujanya menjauhinya, pemodal yang menghibahkan perangkat salonnya merampasnya kembali, pesaing bersukaria di tengah dukanya, bahkan anak-istrinya ikut-ikutan tak mempercayainya. Singkatnya, lagu ini mewakili perasaan hancur, kehancuran yang Anda tak tahu cara mengatasinya kecuali meratap kepada Yang di Atas (burung-burung?).

Ada setidaknya dua tips bersepeda sembari mendengarkan lagu ini: 1) tepat saat luka hati tak tertahan lagi, ikutilah teriakan meliuk “aaaaaa……..” Rahat Fateh di pengujung bait pertama. Akan lebih pas jika dibarengi dengan mengangkat sebelah tangan ke udara, kemudian menepi, merubuhkan sepeda, lalu terduduk dan menangis; 2) buka tutup pentil ban, kempiskan sampai sekempis-kempisnya, kemudian tuntunlah pelan-pelan; akan lebih sempurna jika hari hujan.

 

5. “Jag Soona Soona Lage” (OST Om Santi Om, 2007; penyanyi: Richa Sharma & Rahat Fateh Ali Khan)

Jika perasaan hancur yang Anda tanggung tak lagi terwakili oleh “Jaon Kahaan”, maka hanya lagu ini yang bisa menangani. Tapi, tetap harus diperhatikan bahwa Anda membanting sepeda di tempat yang tepat, tidak di tengah jalan atau di depan rumah bakul besi tua—agar, setidaknya, kalau perasaan hancur itu siapa tahu bisa sembuh, sepeda Anda setidaknya masih bisa dikendarai.

Namun yang terpenting: hindari pinggir jembatan dengan dasar sungai yang terjal atau perseberangan kereta api tanpa pintu. Bukan apa-apa, cuma sayang kalau lagu ini hanya didengar sampai di bagian ral Richa Sharma yang tinggi parau nyaris histeris itu. Bagiannya Rahat juga menyayat, tapi cukup mendayu untuk membuat hati yang hancur meleleh sebentar, menangis meraung, untuk kemudian jadi lebih tenang.

 

* tentu dengan catatan

(bersambung)

 

Standar