film dan agama, Film India dan Islam, Film India dan Religiositas, Sejarah Film India, terjemahan

Islam di Film India (Bag. 5)*

Oleh Rachel Dwyer; Terj. Mahfud Ikhwan

ManishaAdult.preview 2

Busana “Bercorak Islam”

Bermacam genre film-film bercorak Islam menunjukkan beragam busana yang dianggap cocok untuk dipakai seorang muslim di istana Mughal, busana biduan istana (kotah), atau orang-orang Islam di jalanan Bombay modern. Film-film dongeng bercampur dengan gaya oriental ala Hollywood, terlihat di film-film Valentino, Douglas Fairbanks Jr., dan film-film epik injili Cecil B. deMille (yang menyajikan Timur Tengah kontemporer dan imej-imej populer lain untuk menggambarkan ‘Timur’), sementara film-film sejarah menampilkan dokumen-dokumen sejarah. Kedua genre ini secara bersamaan juga menampilkan seni, kromolitografi, dan teater bercorak Islam.

Dalam film-film sosial Islam, juga genre lain, pria muslim sering tidak memakai pakaian yang khusus, yaitu dengan tampilan ala Barat atau piyama-kurta, namun ada juga beberapa yang menggunakan pakaian yang menandakan bahwa mereka muslim. Beberapa pria muslim, sebagaimana juga pendeta Hindu, intelektual, penjahat, dan orang Sikh, memakai jenggot dan mengenakan kopiah, seperti salah satu karakter teman dalam film Salim Langde Pe Mat Ro (1989, stdr. Saeed Mirza). Untuk suasana formal, terutama di film-film sejarah, orang Islam digambarkan memakai sherwani (sejenis baju-rok) dan piyama longgar atau ketat. Ini adalah pakaian yang diadopsi oleh Nehru dan sering disebut sebagai pakaian paling resmi di India, karena dianggap diadaptasi dari pakaian istana, meskipun peci ala Nehru bukan pakaian muslim. Seorang Pathan (suku muslim dari Afghan) memakai gaya yang khas dengan turban dan rompi berbordir, seperti tokoh yang diperankan aktor Pran di Zanjeer (1973, stdr. Prakash Mehra). Sementara, Muslim Punjabi biasanya memakai sejenis salwar khameez. Kadang, busana yang dipakai itu dibuat sangat spesifik untuk Muslim, meskipun itu tidak realistis. Misalnya, para pelajar yang memakai kopiah Turki di film Phool (1942, stdr. K. Asif), boleh jadi dipakai oleh para pendukung kekhalifahan Turki, namun belakangan malah sering dipakai untuk komedi, seperti yang dipakai Shammi Kapoor di Dil Deke Dekho (1958, stdr. Nasir Husain) atau Rishi Kapoor dalam Amar, Akbar, Anthony (1977, stdr. Manmohan Desai)—pakaian yang tak lagi dipakai namun dicap sebagai ciri orang Islam (Amin 2004). Pakaian lain yang dilebih-lebihkan sebagai ciri Muslim daalah pakaian yang dipakai pemain qawwali, yang sering dilengkapi oleh gerak-gerik dan bahasa yang dimirip-miripkan (aslinya).

Pakaian perempuan muslim biasanya lebih realistis karena mereka ditunjukkan memakai jenis pakaian muslim seperti salwar khameez atau baju Punjabi, yang aslinya merupakan busana Muslim yang menjadi populer di India barat daya, dan juga menjadi pakaian nasional atau bahkan pakaian internasional. Pakaian itu terdiri atas celana panjang (salwar longgar atau churidars ketat), baju panjang, dan kerudung. Macam gayanya tak terbatas, sementara kerudung sendiri bisa dipakai dengan cara berbeda-beda, tergantung tujuan dipakainya, apa dipakai menutup kepala, menutup dada, atau dipakai seperti kerudungnya orang Barat. Dalam beberapa film, perempuan Muslim memakai sherara (kulot panjang berbahan kaos). Untuk film masa kini (pakaian) itu biasa dipakai untuk acara perkawinan, meskipun di film lama dipakai dalam keseharian.

Sementara para perempuan Hindu yang berkerudung muncul sebagai perempuan tua, yang menutupi kepalanya dan kadang wajahnya, dengan kerudung yang kebanyakan dikaitkan dengan Islam. Begitulah yang muncul di film, dan hal itu memainkan peran penting dalam beberapa genre, semisal genre film sosial bercorak Islam dan film Islam bertema biduan. Dalam film sosial bercorak Islam, si lakon pria menangkap kelebatan sekilas si lakon perempuan, namun kerudungnya (burqa tertutup) seringkali menuntunnya pada tragedi pada kesalahan mengenali, semisal di film Chaudhvin ka chand (1960, strd. M. Sadiq). Dibukanya burqa bisa jadi adalah tanda sebuah transisi di film, seperti yang terlihat pada Bombay (1995, stdr. Mani Ratnam) ketika burqa Shaila Bano tertiup angin saat ia berlari untuk bertemu Shekhar, yang menandakan bahwa dia telah menanggalkan nilai-nilai tradisionalnya. Di film bertema biduan, si lakon perempuan memang memakai kerudung, namun kehormatannya bukan untuk khalayak umum. Di Pakeezah (1971, stdr. Kamal Amrohi), si lakon perempuan bersikeras mempertahankan kehormatannya (karena itulah orang yang mencintainya menamainya Pakeezah, Suci), dan menuduh orang yang mencoba merampoknya dengan menyingkap kerudungnya di lagunya yang sangat terkenal ‘Inhe logon ko’ (‘Tanya orang ini’). Kerudung memiliki nilai erotis karena ide menutup dan membukanya, dan sejumlah lagu di film Hindi berbicara soal kerudung, bahkan ketika si lakon perempuan tak lagi memakainya.

Ringkasnya, tradisi berbahasa, sastra,, musik dan busana yang memiliki akar di dunia Muslim India Utara telah beralihrupa menjadi sebuah estetika bercorak Islam yang kosmopolitan di Bombay, dimuali di teater dan kemudian di film, yang kemudian merembes ke seluruh kultur masyarakat India dari abad ke-20 hingga sekarang.

 

*Diterjemahkan tanpa izin dari Filming The Gods (2006, Routledge), khususnya Bab 3 (The Islamicate Film).

Standar
film, Mumbai Noir, sejarah india

Bombay Velvet: Bercitarasa Amerika, Berbau Indonesia

Mahfud Ikhwan

bv

Bombay akhir ’60-an. Sebuah metropolis yang tumbuh. Dua koran yang bersaing. Keduanya menjuluki satu sama lain sebagai agen CIA dan antek KGB. Torrent di sisi kanan, Glitz di sisi kiri. Khambatta, walikota, dan rekan-rekan investornya versus Jimmy dan sekutu menteri dan aktivis komunisnya. Proyek reklamasi dan investor-investor haus tanah yang mengincarnya menghadapi protes buruh yang sengit dan menjengkelkan. Di antara dua kekuatan yang bertarung adalah Johnny Balraj, si bajingan kecil, anak seorang sundal, petarung jalanan yang ingin kaya, dan Rosie, sang penyanyi jazz dengan masa kecil yang kelam di Goa. Semua ketemu di sebuah klab bernama Bombay Velvet.

Anurag Kashyap tampaknya tetap selalu layak ditunggu. Setelah menggegerkan dan sangat sukses dengan dua seri Gang of Wasseypur (2012), terlibat dengan proyek Bombay Talkies (2013) yang kecil tapi menyenangkan, menyentak dengan Ugly (2014), ia muncul kembali dengan warna gelap yang sama, yang selalu dibawanya, dengan Bombay Velvet (2015). Dan seperti film-film Kashyap sebelumnya, film ini tampak begitu India di satu sisi, tapi pada saat yang sama sulit sekali mendapati karakter Bollywood-nya.

Ia meramu kisah-kisah gelap yang menghubungkan penguasa media, politisi korup, pemilik uang, artis, dan para bajingan, yang juga sering muncul di film-film sutradara-sutradara besar Bollywood lain macam Mani Ratnam atau Ram Gopal Varma, tapi ia menyajikannya dengan gambar-gambar ala Coppola atau Scorsese. Pertarungan ideologi politik yang ditampakkan film ini jelas membuatnya bisa dijajarkan dengan film-film para sineas paralel yang tersebar dari Chennai hingga Kolkata. Namun, dalam beberapa adegan dan gambaran, dan itu tidak jarang, kita seperti sedang pergi sebentar dari Bombay untuk mampir ke New York atau LA. Lepas bahwa Amit Trivedi, yang memkomposeri lagu dan musik latar, menghasilkan musik jazz ala India yang aneh (baik untuk pendengar jazz maupun pendengar musik film Bollywood) namun asyik untuk film ini, para penari dan pakaian yang dipakai Rosie untuk menyanyi seperti diimpor langsung dari Amerika masa Depresi Besar. Sementara Thompson Gun yang dipakai Johnny dan temannya Chimman seperti dipinjam langsung dari anak buah Al Capone.

Beberapa ulasan di media-media India menyebut Bombay Velvet lebih mementingkan gaya dibanding isi. Saya rasa itu tak terlalu salah. Tapi, untuk orang yang sudah membuat Gang of Wasseypur dan mengubah industri film India untuk selamanya, sedikit bergaya tentu tak apa. Maklumi saja. Walaupun tak menggeser Gang of Wasseypur dan Gulaal sebagai film Kashyap yang paling saya suka, Bombay Velvet jelas bukan film yang buruk–meski pada saat yang sama saya juga bisa membayangkan kenapa film ini kabarnya flop di India sana.

***

Ranbir, anak manis Bollywood yang sangat diperhitungkan mengambil tempat Shah Rukh di masa depan, putra dari raja drama ’80-an Rhisi Kapoor, cucu dan cucu keponakan dari para raja perfilman Bollywood tahun 60-an, tengah mencoba keluar dari zona nyamannya. Ini langkah yang patut dipuji, sebagaimana pujian diberikan kepada Sahid Kapoor, anak manis Bollywood lain yang dengan sangat sukses mengubah imejnya melalui film Shakespearean yang penuh darah, Haider.

Dan menurut saya, apa yang disajikan Ranbir memang patut dipuji. Ia tetap tampak manis tentu saja, sebagaimana di film-film cinta-cintaan yang banyak dibintanginya. Namun tak seperti di film-film sebelumnya, yang berperan sebagai sales, anak band, fotografer, atau karyawan agen periklanan, ia kali ini muncul sebagai petarung jalanan yang bisa dibayar untuk membunuh. Dan menjadi tetap tampak manis namun sekaligus mengerikan adalah karakter yang agak langka di film-film India. Keluar dari kerangkeng pakem angry youngman yang kasar dan kusam, yang diletakkan dasarnya oleh Bachchan dan ditegaskan oleh Sanjay Dutt, Johnny yang dimainkan Kapoor malah terasa lebih dekat dengan karakter-karakter yang dimainkan Joe Pesci di film-film Scorsese.

Pujian perlu ditambahkan karena pilihannya untuk bermain di Bombay Velvet sangat berisiko.

Sudah jadi diktum di Bollywood, melebihi apa yang terjadi di Hollywood, bahwa sutradara, apalagi aktor, tak boleh salah pilih film. Sekali jangan, apalagi berkali-kali. Sebab tak terhitung insan film yang buru-buru sudah jadi veteran hanya karena salah pilih film. Makanya, ambillah risiko jika dirasa diperlukan. Jika tidak, tak usah dilakukan. Tak perlu mengambil risiko itulah resep Rajinikant menjadi lebih besar di industri film Tamil dibanding Kamal Hasaan yang meletup-letup. Resep yang sama juga yang membuat Shah Rukh (setidaknya pasca-Kuch Kuch Hota Hai) merajai Bollywood, melampaui Aamir yang selalu resah dengan tema dan peran-peran baru. Dan resep inilah yang “dilanggar” Ranbir. Ia keluar dari cangkang anak manisnya, bertarung, menjadi kejam dan serakah, bersimbah darah, membunuh, bahkan membunuh dengan keji, dan mati di akhir film. Dan mungkin ini tak dikehendaki publik film di India yang mencintai karakter-karakter manisnya. Bombay Velvet pun jatuh, bahkan dilabeli “disaster” oleh media-media India.

Tapi film ini tak hanya memberi risiko pada Ranbir. Juga Karan Johar, sutradara Kuch Kuch Hota Hai. Seperti banci tampil, Johar belakangan semakin sering muncul di di layar, ikutan main. Biasanya hanya cameo, atau berperan sebagai dirinya sendiri, tapi kali ia tampil penuh, dan main sebagai antagonis. Dan wow, bukan hanya tampak tahu akting, ia malah tampil sangat menonjol sebagai Kaizat Khambatta, bos media pro-modal yang kebanci-bancian. Dan menjadi lebih menonjol lagi karena karakter Khambatta ini seperti tengah berolok-olok dengan opini khalayak yang, di kehidupan nyata, sejak lama menggunjingkan Johar sebagai seorang gay. Entah mau senang-senang atau memang serius berakting, dengan kemampuan macam itu, di masa depan ia bisa bermain berpasangan dengan karibnya, Shah Rukh. Itu kalau Shah Rukh mau ambil sedikit risiko.

Meski demikian, risiko terbesar tentu saja ditanggung sang sutradara, Anurag Kashyap—meskipun, setahu saya, ia tak pernah membuat film yang aman-aman saja. Film berlatar belakang masa lalu bukan hal baru di Bollywood, lebih-lebih belakangan ini, ketika kecakapan teknik para sineasnya sudah sama memadainya dengan para pekerja film di belahan bumi lainnya. Tapi mengangkat kisah dunia hitam Bombay (yang kemudian jadi Mumbai) tahun 60-70-an dengan tanpa menyinggung secara pantas para gembong preman Muslim-nya bukan hanya memunggungi sejarah Bombay tapi juga mengabaikan khittah Bollywood sendiri.

Perlu diketahui, sampai kematiannya tahun 1994, penguasa dunia hitam Bombay pasca-Kemerdekaan India adalah Haji Mastan, seorang Robinhood Muslim buta huruf asal Tamil Nadu. Itu di dunia nyata. Di layar, kehidupan Mastan dan dunia hitam yang dibesarkannya bukan saja menginspirasi puluhan film, tapi bahkan membentuk sejarah Bollywood itu sendiri. Deewaar (1975, std. Yash Chopra), film yang ditulis berdasar riwayat hidup Mastan, disebut oleh Danny Boyle sebagai “kunci bagi khazanah sinema India” dan dianggap mempengaruhi karyanya, Slumdog Millionaire. Terus diproduksi spin-off dan replikanya bahkan hingga saat ini, Deewaar adalah fondasi bagi apa yang saat ini disebut sebagai Mumbai Noir, sebuah genre yang juga dihidupi oleh film-film awal Kashyap. Lucunya, Bombay Velvet tampaknya ingin keluar dari kerangka Mumbai Noir-nya. Dan mungkin ini salah satu alasan kenapa film ini terpelanting di bioskop.

***

Selain bercitarasa Amerika, Bombay Velvet sebenarnya menggemakan realitas aktual di Indonesia (baik ekonomi, sosial, juga politik). Dan itulah salah satu alasan kenapa tulisan ini lahir.

Film ini jelas tak ditujukan untuk khalayak Indonesia, tapi, entah kenapa, memiliki koneksi yang aneh (tapi nyata) dengan kita. Pasti dibikin jauh sebelum tahun rilisnya (2015), apalagi cerita ini berdasar buku Mumbai Fables (2010) karya sejarawan Gyan Prakash, film berseting Bombay akhir ’60-an ini, dengan ketepatan yang luar biasa, terasa seperti bicara tentang Jakarta masa kini. Gambaran ekspansi modal yang gila-gilaan, perang media yang ngawur-ngawuran, reklamasi pantai dan perebutan lahan yang dibayar dan dilakukan dengan cara apapun, tak bisa tidak mengingatkan kita dengan apa yang kini terjadi di bekas Pantai Utara Batavia. Makanya, seorang teman yang kebetulan juga kritikus Ahok yang gigih, bersorak riuh manakala menemukan adegan pertemuan antara pemilik media, pengusaha, politisi, dan preman tengah bersekongkol soal reklamasi.

Tapi jika mau lebih cermat sedikit, gema ke-Indonesia-an film ini juga bisa didapatkan pada sisi lain. Coba perhatikan sosok Jimmy Mistry, editor Glitz, koran yang kontra modal. Ia kekiri-kirian, ada di pihak buruh dan aktivis komunis, namun pada saat yang sama sangat mudah membedakannya dengan pemimpin buruh dan aktivis komunis di film ini, misalnya Kamerad Dhespande. Jimmy berpakaian rapi dan dandi, sama flamboyannya dengan musuhnya, Khambatta yang pro-modal. Ia ajeg mengunjungi bar jazz, kedapatan main billiard, dan senang mani-padi, meski di banyak kesempatan ia juga muncul di panggung demonstrasi para buruh. Dan, yang terpenting untuk alur film ini, ia juga senang dengan perempuan cantik, dan tak sungkan memperalatnya untuk tujuan-tujuan taktik-politik.

Mengabaikan satu-dua hal pokok yang tak sesuai, lalu iseng-iseng bermain anagram dan inisial, dan membayangkan bahwa Anurag Kashyap mungkin sempat membaca studi-studi tentang industri cetak di Indonesia (Wars Within-nya Steele, misalnya), saya tampaknya menemukan sosok mirip Jimmy Mistry ini di sini, di Indonesia. Sambil senyum-senyum saya berandai-andai, kalau di Indonesia, JM si editor ini tampaknya lebih condong jadi PSI dibanding PKI.

Standar
film dan agama, film india dan film indonesia, Film India dan Islam, Vishal Bhardwaj

Fiksi Islami dan Fiksi Berwarna Islam: Perspektif Penonton Film India

Oleh Mahfud Ikhwan

2f9bda8df0e75f318c2ee62bae3c02cb

 

Tentang “Tukang Ngarang” yang “Menegakkan Kalimat Allah”: Pengantar

Bersamaan dengan terbitnya novel saya, Kambing dan Hujan, term-term lawas yang dulu sempat mengitari kepala saya, terutama di masa-masa awal menulis, ketika masih belajar teori fiksi Stanton, kembali menghampiri: tentang fiksi Islami. Ini dikarenakan munculnya beberapa tanggapan atas novel tersebut, juga beberapa kategorisasi yang sering kali terdengar rumit yang kemudian disematkan.

Pada dasarnya, saya tak ada persoalan dengan itu. Term-term tersebut, baik di lingkup industri dan terutama di kalangan pembaca memang nyata dan kadang diperlukan. Industri butuh itu untuk membuat distingsi produknya dari produk-produk lain yang menyandang term-term lain yang juga muncul menjamur macam fiksi remaja, fiksi urban, fiksi motivasi, fiksi sejarah, dan masih banyak lagi (belakangan malah dengan istilah-istilah yang bahkan asing), dan terutama bisa memastikan di mana nanti barangnya akan ditaruh di lapak toko. Sementara itu, di pihak pembaca, ia akan dimudahkan untuk memilih buku yang disukainya. (Mereka sudah keluar uang untuk membeli buku, masa suruh mumet untuk hal-hal lain yang tak masuk hitungan harga?) Beberapa penulis tampaknya juga membutuhkannya—mungkin untuk membuat pekerjaannya lebih mudah, mungkin. Yang nyaris pasti, semua penulis saat ini tampaknya harus hidup dengan hal itu, sebagaimana seorang pemain sepakbola harus masuk lapangan dengan memakai sepatu. Baca lebih lanjut

Standar
musik, satire, shah rukh khan

5 Lagu India Paling Cocok Bagi Para Pesepeda*

Oleh Mahfud Ikhwan

 

BILLU-02

 

1. “Haule Haule” (OST Rab Ne Bana Di Jodi, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh)

Sedang ingin menikmati setiap kayuhan, mensyukuri setiap embusan angin yang menerpa wajah dan dada, menghirup sepuasnya oksigen yang dihasilkan rindang pohon tepi jalan, mengucap wirid dan mensyukuri nikman Tuhan pada tiap pancalan, maka lagu ini untuk Anda. “Haule Haule” artinya “pelan-pelan”. Ia mengacu pada sikap penuh kesabaran, tak tergesa, tapi sekaligus—meminjam judul lagu mantan Presiden SBY—“yakin sampai di sana”. Meski demikian, musik lagu ini tidak sepelan judulnya, malah terkesan rancak, terutama setelah reff. Ia meruapkan optimisme, bahwa apa yang tengah dilakukannya ada di jalur yang benar, pasti tidak sia-sia. Seorang pengarang yang memiliki keangkuhan, yang menganggap bahwa seluruh dunia tak akan bergerak kecuali setelah menyaksikannya karyanya terbit dan memukai jagad raya, sangat cocok dengan lagu ini.

Namun, tampaknya, tak ada yang lebih cocok dengan lagu ini melebihi seorang pesepeda yang baru pulang dari kencan, ngapel, dan terutama yang sehabis nembung dan diterima. Sembari membayangkan Surinder Sahni dengan kumisnya yang kuno dan kotak makanan terkalung di leher tengah mengendarai skuter kuningnya yang meluncur pelan menuju kantor, lagu ini akan membuat Anda merasa selama mungkin dekat dengan si dia yang Anda tinggal di belakang, dan merasa lambaian tangan dan senyum selamat jalannya ada di jangkauan. Dan, dengan perasaan macam itu, apa gunanya cepat sampai rumah?

Tapi, jangan lupa menyanyikan lagu ini sembari berdoa. Sebab, bagaimanapun, cewek yang Anda tinggalkan sangat rentan dari godaan cowok pengendara KLX atau penunggang Vespa Ndog yang sudah dimodivikasi belasan juta.

 

2. “Omkara” (OST Omkara, 2006; penyanyi: Sukhwinder Singh)

“Omkara” adalah sebuah himne tentang seseorang yang bisa mengalahkan siapa pun, melempangkan jalan ke tujuan akhir dengan cara apapun. Ia menyimpan amarah dan dendam sekaligus keberanian, tapi terutama keyakinan. Tak lama lagi, dunia akan digenggaman. Tidak gampang, tapi itu niscaya.

Jika Anda dan ontel Anda meninggalkan rumah dengan perasaan macam itu, tak salah lagi inilah lagu Anda. Ia cocok untuk penyair yang baru saja melahirkan masterpiece, dan di tempat ia nanti membacakan puisi itu, hadirin sudah membeludak tidak sabar; pengarang yang baru saja menyelesaikan novel tebalnya, dan ia merasa para penerbit tidak akan punya pilihan lain begitu membacanya selain menekuk lutut dan memohon-mohon untuk menerbitkannya, dan tentunya; seorang pencinta yang berangkat kencan dan merasa yakin bahwa status-status hebat dan buku-buku berat yang diunggahnya di facebook akan membuat cewek yang akan ditemuinya menerima cintanya bahkan tanpa ditembaknya.

Cermati tepat di koor “Ooom…kara! Ooom… kara!”, cerap suara perkusinya yang mentah dan garang itu, dan bayangkan Anda adalah Omi Shukla yang perkasa dan tak terkalahkan. Niscaya sepeda Anda akan meluncur dengan mulus, lobang-lobang di jalan akan menutup dengan sendirinya, dan para pengendara mobil akan menyisi jika tidak malah membuka kaca mobilnya dan mengulurkan salam takzim. Jika sepeda Anda bergigi ganda, pastikan setel di gigi paling tinggi. Sebab memang tak akan ada yang bisa menghalangi laju Anda.

Tapi tetap harus hati-hati. Sumber Kencono masih terus hidup dan beranak pinak.

 

3. “Dhan Te Nan” (OST Kaminey, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh & Vishal Dadlani)

Bayangkan Anda mengalahkan lawan Anda dengan cara yang paling memalukannya. Bayangkan Anda memenangkan sebuah kompetisi dengan cara yang paling tidak disangka. Bayangkan Anda berjingkrak berpesta juara dan orang-orang hanya bisa menonton dan merasa bodoh. Tak ada yang lebih cocok untuk perasaan macam itu selain lagu “Dhan Te Nan”, “Dhan te nan….. rerereret!

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika memutar lagu ini saat bersepeda: 1) pastikan earphone terpasang dengan rapi, sebab nanti kepala Anda tak akan henti untuk mengangguk-angguk, bahkan dengan keras; 2) pastikan skrup di sadel terpasang dengan kuat, karena badan Anda tak akan berhenti meliuk; 3) perhatikan jalan, banyak lobang.

 

4. “Jaon Kahaan” (OST Billu, 2009; penyanyi: Rahat Fateh Ali Khan)

Lagu ini muncul sesaat setelah Billu, seorang tukang cukur sederhana di sebuah kota kecil, gagal bertemu sang bintang film Sahir Khan, yang sudah kadung dianggap oleh orang seluruh kampungnya sebagai sahabatnya, dan karena itu ia dicap sebagai penipu. Maka, orang-orang yang dulu memujanya menjauhinya, pemodal yang menghibahkan perangkat salonnya merampasnya kembali, pesaing bersukaria di tengah dukanya, bahkan anak-istrinya ikut-ikutan tak mempercayainya. Singkatnya, lagu ini mewakili perasaan hancur, kehancuran yang Anda tak tahu cara mengatasinya kecuali meratap kepada Yang di Atas (burung-burung?).

Ada setidaknya dua tips bersepeda sembari mendengarkan lagu ini: 1) tepat saat luka hati tak tertahan lagi, ikutilah teriakan meliuk “aaaaaa……..” Rahat Fateh di pengujung bait pertama. Akan lebih pas jika dibarengi dengan mengangkat sebelah tangan ke udara, kemudian menepi, merubuhkan sepeda, lalu terduduk dan menangis; 2) buka tutup pentil ban, kempiskan sampai sekempis-kempisnya, kemudian tuntunlah pelan-pelan; akan lebih sempurna jika hari hujan.

 

5. “Jag Soona Soona Lage” (OST Om Santi Om, 2007; penyanyi: Richa Sharma & Rahat Fateh Ali Khan)

Jika perasaan hancur yang Anda tanggung tak lagi terwakili oleh “Jaon Kahaan”, maka hanya lagu ini yang bisa menangani. Tapi, tetap harus diperhatikan bahwa Anda membanting sepeda di tempat yang tepat, tidak di tengah jalan atau di depan rumah bakul besi tua—agar, setidaknya, kalau perasaan hancur itu siapa tahu bisa sembuh, sepeda Anda setidaknya masih bisa dikendarai.

Namun yang terpenting: hindari pinggir jembatan dengan dasar sungai yang terjal atau perseberangan kereta api tanpa pintu. Bukan apa-apa, cuma sayang kalau lagu ini hanya didengar sampai di bagian ral Richa Sharma yang tinggi parau nyaris histeris itu. Bagiannya Rahat juga menyayat, tapi cukup mendayu untuk membuat hati yang hancur meleleh sebentar, menangis meraung, untuk kemudian jadi lebih tenang.

 

* tentu dengan catatan

(bersambung)

 

Standar
aamir khan, film, film dan agama, Film India dan Religiositas, PK

Setelah Setahun Menonton ‘PK’: Tiga Hal yang Saya Ingat

anushka-sharma-pk

 

Oleh Mahfud Ikhwan

1/

Setahun lalu, seorang teman yang menonton film hanya dan hanya jika pemainnya cantik, untuk pertama kalinya bertanya kepada saya tentang film PK-nya Aamir Khan. Saat itu saya belum nonton, dan tentu saja belum satu hal pun bisa saya bagi tentang film itu kepada orang lain.

Ya, sejak Lagaan (2001) saya tidak pernah bisa melewatkan film-film baru Aamir, bahkan termasuk film yang hanya melibatkannya sebagai produser, meskipun kadang harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa menontonnya. Perjumpaan dengan Mangal Pandey: The Rising (2005) dan Rang De Basanti (2006) misalnya, adalah usaha yang sangat memutusasakan. PK, karena kehebohan yang ditimbulkannya, dan tentunya karena orang-orang yang biasanya nonton sinetron tiba-tiba menjadi kritikus yang bersemangat karenanya, adalah film yang mudah didapatkan, sebagaimana dulu saya mendapatkan 3 Idiots. Tapi, ya.. seperti kebiasaan saya, setiap ada yang heboh, saya biasanya memilih menepi dulu, menonton lainnya dulu, nyinyir-nyinyir dulu. Setelah kepala menjadi lebih bersih, entah dari pengaruh kehebohan atau dari keinginan untuk melawannya, saya baru memutuskan menontonnya. Sayangnya, saya rasa, saat menonton PK, kepala saya tak benar-benar bersih-bersih amat. Buktinya, saya menghasilkan ulasan yang jika ditotal mencapai tak kurang dari 15 halaman, ditambah satu ulasan tambahan yang tidak jadi kelar.

2/

Setelah nyaris setahun menontonnya, atau tepat setahun setelah seorang teman menanyakan pendapat saya tentang PK, nyaris hanya tiga hal yang benar-benar saya ingat tentang film ini. Dan tiga hal itu kebetulan adalah hal-hal yang tidak begitu penting, bukan bagian dari alasan kenapa orang seperti Goenawan Mohamad (pakai “oe”) sampai ikut-ikutan mengulasnya.

1) Kata Hindi “baghwan” (tuhan). Di film-film India lain, setiap mendengar kata “baghwan”, saya biasanya tidak akan tahan untuk tidak membandingkannya dengan kata “begawan” dalam bahasa kita. Tapi, PK, dengan pesannya yang cenderung muluk tentang cara kita berkomunikasi dengan Tuhan, justru mengingatkan saya dengan kata lain yang kita punya, yang jika ditilik tampaknya tak memiliki hubungan, yaitu “bakwan”. Baghwan-nya PK, menurut saya, memiliki ciri yang sama atau tampak serupa dengan bakwan kita, yaitu memiliki sebutan berbeda-beda di tempat yang berbeda. “Bakwan”, perlu diketahui, hanya dikenal di Jogja dan sekitarnya, sementara di tempat saya namanya “ote-ote”, padahal di Malang orang-orang menyebutnya “weci”. Bisa lebih macam-macam lagi tentunya jika dilihat dari jenis dan rasanya, tergantung bikinan warung mana dan siapa yang buat. Ada yang pedas, ada yang manis, dan ada pula yang murni rasa micin atau bumbu instan. Ada yang terlalu banyak tepungnya, ada yang terlalu banyak minyaknya, ada yang terlalu banyak kobisnya. Macam-macam. Bukankah “baghwan”-nya PK juga begitu? Saya sih begitu, terserah kamu.

2) Bibir Tebal Anushka. Saya sangat menyukai Anushka di film pertamanya, Rab Ne Bana Di Jodi. Saya bahkan tetap menyukainya di film nggak jelas macam Jab Tak Hai Jan. Terutama karena bibir tipis dan senyum lebarnya. Bibir tipis? Ya, sampai ia muncul dengan bibir nyonyor di PK, ia dikenali oleh para penggemar film-film India macam saya karena bibir tipisnya. Karena itulah, bibir tebal ala JJ di PK itu menjadi mudah diingat, bahkan dibanding pesan-pesan moral film yang berat-berat itu. Dan bagaimana saya tidak ingat dengan bibir itu, sebab hampir pasti karena inilah pertanyaan teman saya tentang film ini diajukan, sebagaimana ia dulu bertanya tentang film-filmnya Vidya Balan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Sebagian besar menyangkanya melakukan operasi. Tapi lainnya menerima keterangannya, bahwa itu hanya hasil kerja make-up dan memontok bibir yang sedang ngetren. Tapi, apapun yang terjadi, besar massa bibirnya berbanding lurus dengan besarnya beban yang ditanggungnya di PK, entah karena ingin setimbang dengan Aamir yang umurnya separoh lebih banyak dibandingnya atau karena ingin mengubah imej tomboy yang memang melekat padanya di film-film sebelumnya. Dalam Rab Ne atau Jab Tak Hai Jan, ia tetap muncul dengan penampilannya yang biasa, karena ia memang berperan sesuai umurnya, yaitu menjadi cewek remaja yang berpasangan dengan pria paruh baya. Hal yang sama juga bisa ditemui di Matru Ki Bijle, karena di sana ia berpasangan dengan hero yang relatif sepantaran dengannya. Tapi apapun yang terjadi, dengan bibir macam apa saja, saya berdoa yang terbaik untuknya.

battery_

3) Joget Alien ala PK. Aamir tidak memperoleh nama besarnya di Bollywood karena kepandaiannya menari, tidak seperti Jeetendra, Govinda, Hritrik Roshan, dan belakangan Shahid Kapoor. Dari sekitar 25-an film Aamir yang pernah saya tonton, cara narinya ya begitu-begitu saja, dan mungkin karena itu malah menjadi khas. Meski begitu, ada beberapa tarian yang pernah dilakukannya begitu mudah diingat, dan karena itu ramai-ramai ditirukan. Dan kemudian menjadi trademarknya, hal yang bahkan tidak dimiliki Shah Rukh dan Salman.

Misalnya, tariannya dalam lagu “Aati Kya Khandala” (Ghulam, 1998). Tarian dengan saputangan, korek api, dan sapu lidi itu tidak saja mewabah dalam pesta-pesta di kehidupan nyata masyarakat India, tapi juga dikopi di banyak film bahkan oleh nama-nama besar lainnya macam Amitabh Bhachchan atau Shah Rukh Khan (cek di Kabhi Khushi Kabhi Gham) dan di beberapa film lainnya. Gerakan lainnya adalah tarian pemberontakan dalam lagu “Be A Rebel” (Rang De Basanti). Film ini nyaris tidak dikenal di Indonesia, entah kenapa, dan karena itu tariannya itu juga tak setenar “Aati Kya Khandala”. Tapi saya menemukan gerakan itu bertebaran di film-film India belakangan ini, terutama di film-film bertemakan anak muda. Saya merasa, joget ala alien idiot di PK tampaknya juga akan mengalami hal yang sama.

3/

Sampai di sini, boleh dikata, tak banyak hal urgen yang bisa saya kenang dari film Aamir tersebut. Saya tidak tahu, apakah Aamir sendiri memiliki kesan yang sama. Misalnya, yang tak banyak diekspos di sini, ide film ini cukup dekat dengan film OMG-Oh My God (2012), yang dibintangi dan diproduseri Akhsay Kumar, dan itu diakui Aamir. (Dan karena satu-dua alasan saya lebih menyukai film yang lebih dulu). Pada timeline situs The Hindu yang saya ikuti, hari-hari ini Aamir justru sedang merayakan 10 tahun Rang De Basanti, film yang tampaknya sangat dibanggakannya.

Jika ada berita yang masih mengaitkannya dengan PK, itu tampaknya adalah merebaknya kontroversi yang belakangan menyelimuti Aamir dan keluarganya. Sekitar akhir tahun lalu, Aamir merespon pembunuhan seorang muslim oleh massa Hindu akibat menyembelih sapi dengan mengatakan bahwa intoleransi tengah meningkat di India dan itu membuat diri dan keluarganya kuatir. Komentar ini menimbulkan kemarahan kalangan sayap kanan Hindu, terutama dari partai penguasa BJP. Belum lagi mengingat kedudukan Aamir yang merupakan duta wisata India.

Aamir segera dicopot dari posisi dutanya, dan ia dianggap menyerang pemerintah dan komunitas Hindu, dan karena itu hari-hari ini ia dalam posisi sebagai public enemy. Para pengkritiknya “mempersilakannya” untuk pindah ke Pakistan, sementara para koleganya sendiri mengingatkan bahwa tak mungkin sebuah bangsa yang tidak toleran membuat seorang muslim sepertinya menjadi bintang besar di sebuah negara mayoritas pemeluk Hindu. Tak kurang dari bintang yang sangat dihormati macam Anupham Kher, misalnya, mengingatkan bahwa film macam PK yang sangat kritis terhadap Hinduisme dan tetap menjadi film terlaris menunjukkan bahwa India tetaplah bangsa yang toleran. “Coba bikin PK versi Islam di negara Arab,” begitu kira-kira tantangan balik Kher.

Coba bikin PK versi Islam di Indonesia. Berani gak, Nung?

 

*untuk Budi Baskoro

Standar
film, shah rukh khan

Film-film Shah Rukh Khan yang Sebaiknya Tak Terlewatkan Sebelum Anda Menonton ‘Dilwale’ dan Kemudian Kecewa

 

srk-nov1-26

Oleh Mahfud Ikhwan

1/

Sebulanan belakangan, ada nuansa nostalgis di kampung saya. Orang-orang sedang keranjingan tv kabel, dan membicarakan tayangan-tayangannya saat di warung kopi. Tentang tayangan sepakbola yang tak habis-habis, siaran langsung shalat lima waktu dari Mekah, film-film Barat yang katanya “rada hot”, dan tentu saja film dan lagu-lagu India. Untuk yang terakhir itulah nuansa nostalgis tersebut terasakan. Setelah bertahun-tahun film-film India di televisi hanya diisi oleh Shah Rukh Khan dan Shah Rukh Khan, atau Shah Rukh Khan, dan nyaris cuma dari film-film produksinya Yash Raj semata atau Yash Raj bekerjasama dengan Red Chili, kami bisa kembali menemukan wajah Anil Kapoor muda, Sanjay Dutt yang masih semampai dan penuh amarah, Aamir Khan yang masih imut, dan tentunya wajah-wajah perempuan pujaan di tahun 90-an macam Raveena Tandon, Sridevi, Urmilla Matondkar, Madhuri Dixit, Juhi Chawla, dst. Baca lebih lanjut

Standar
film india dan saya, resensi film india

Matinya Petani: Dari Hori Mahato ke Salim Kancil

Oleh Mahfud Ikhwan
peepli-live-0a (2)

Peepli [Live] (2010) adalah film komedi, meskipun ditambahi dengan embel-embel “satire”. Banyak tawa di sepanjang film, bahkan sejak adegan pertama ketika wajah tokoh utamanya, Natha (Omkar Das Manikpuri), muncul di layar, kita bisa langsung terbahak. Bahak pun akan meledak bahkan ketika kita melewati bagian-bagian yang paling sahih membuat film tentang petani-petani yang kehilangan tanahnya ini layak disebut satire. Misalnya, ketika Natha dan saudaranya duduk di pematang sawah yang kekeringan sembari ngobrol perihal bunuh diri karena menelan mentah-mentah bualan perangkat desa bahwa negara bagian memiliki program memberi tanah cuma-cuma kepada petani yang mati bunuh diri. Juga ketika pegawai dinas pertanian datang ke rumah Natha dan menyumbangkan pompa air untuk mengatasi kegaduhan yang ditimbulkan oleh rencana bunuh diri si petani tanpa mempedulikan bahwa rencana bunuh diri itu ditempuh karena si petani ingin mendapatkan tanah dan mereka bersikeras bahwa hanya pompa air itulah yang ada di program dinas pertanian untuk mengatasi masalah petani. Lebih-lebih jika yang kita temukan adalah adegan-adegan yang memang disengaja untuk mengocok perut, semisal amarah ibu Natha yang membabibuta ketika mendapati ada reporter televisi cantik di rumahnya, menyangkanya sebagai simpanan Natha dan menjadi penyebab gagalnya Natha meminta kembali tanahnya dari bank. Baca lebih lanjut

Standar