film, Mumbai Noir, sejarah india

Bombay Velvet: Bercitarasa Amerika, Berbau Indonesia

Mahfud Ikhwan

bv

Bombay akhir ’60-an. Sebuah metropolis yang tumbuh. Dua koran yang bersaing. Keduanya menjuluki satu sama lain sebagai agen CIA dan antek KGB. Torrent di sisi kanan, Glitz di sisi kiri. Khambatta, walikota, dan rekan-rekan investornya versus Jimmy dan sekutu menteri dan aktivis komunisnya. Proyek reklamasi dan investor-investor haus tanah yang mengincarnya menghadapi protes buruh yang sengit dan menjengkelkan. Di antara dua kekuatan yang bertarung adalah Johnny Balraj, si bajingan kecil, anak seorang sundal, petarung jalanan yang ingin kaya, dan Rosie, sang penyanyi jazz dengan masa kecil yang kelam di Goa. Semua ketemu di sebuah klab bernama Bombay Velvet.

Anurag Kashyap tampaknya tetap selalu layak ditunggu. Setelah menggegerkan dan sangat sukses dengan dua seri Gang of Wasseypur (2012), terlibat dengan proyek Bombay Talkies (2013) yang kecil tapi menyenangkan, menyentak dengan Ugly (2014), ia muncul kembali dengan warna gelap yang sama, yang selalu dibawanya, dengan Bombay Velvet (2015). Dan seperti film-film Kashyap sebelumnya, film ini tampak begitu India di satu sisi, tapi pada saat yang sama sulit sekali mendapati karakter Bollywood-nya.

Ia meramu kisah-kisah gelap yang menghubungkan penguasa media, politisi korup, pemilik uang, artis, dan para bajingan, yang juga sering muncul di film-film sutradara-sutradara besar Bollywood lain macam Mani Ratnam atau Ram Gopal Varma, tapi ia menyajikannya dengan gambar-gambar ala Coppola atau Scorsese. Pertarungan ideologi politik yang ditampakkan film ini jelas membuatnya bisa dijajarkan dengan film-film para sineas paralel yang tersebar dari Chennai hingga Kolkata. Namun, dalam beberapa adegan dan gambaran, dan itu tidak jarang, kita seperti sedang pergi sebentar dari Bombay untuk mampir ke New York atau LA. Lepas bahwa Amit Trivedi, yang memkomposeri lagu dan musik latar, menghasilkan musik jazz ala India yang aneh (baik untuk pendengar jazz maupun pendengar musik film Bollywood) namun asyik untuk film ini, para penari dan pakaian yang dipakai Rosie untuk menyanyi seperti diimpor langsung dari Amerika masa Depresi Besar. Sementara Thompson Gun yang dipakai Johnny dan temannya Chimman seperti dipinjam langsung dari anak buah Al Capone.

Beberapa ulasan di media-media India menyebut Bombay Velvet lebih mementingkan gaya dibanding isi. Saya rasa itu tak terlalu salah. Tapi, untuk orang yang sudah membuat Gang of Wasseypur dan mengubah industri film India untuk selamanya, sedikit bergaya tentu tak apa. Maklumi saja. Walaupun tak menggeser Gang of Wasseypur dan Gulaal sebagai film Kashyap yang paling saya suka, Bombay Velvet jelas bukan film yang buruk–meski pada saat yang sama saya juga bisa membayangkan kenapa film ini kabarnya flop di India sana.

***

Ranbir, anak manis Bollywood yang sangat diperhitungkan mengambil tempat Shah Rukh di masa depan, putra dari raja drama ’80-an Rhisi Kapoor, cucu dan cucu keponakan dari para raja perfilman Bollywood tahun 60-an, tengah mencoba keluar dari zona nyamannya. Ini langkah yang patut dipuji, sebagaimana pujian diberikan kepada Sahid Kapoor, anak manis Bollywood lain yang dengan sangat sukses mengubah imejnya melalui film Shakespearean yang penuh darah, Haider.

Dan menurut saya, apa yang disajikan Ranbir memang patut dipuji. Ia tetap tampak manis tentu saja, sebagaimana di film-film cinta-cintaan yang banyak dibintanginya. Namun tak seperti di film-film sebelumnya, yang berperan sebagai sales, anak band, fotografer, atau karyawan agen periklanan, ia kali ini muncul sebagai petarung jalanan yang bisa dibayar untuk membunuh. Dan menjadi tetap tampak manis namun sekaligus mengerikan adalah karakter yang agak langka di film-film India. Keluar dari kerangkeng pakem angry youngman yang kasar dan kusam, yang diletakkan dasarnya oleh Bachchan dan ditegaskan oleh Sanjay Dutt, Johnny yang dimainkan Kapoor malah terasa lebih dekat dengan karakter-karakter yang dimainkan Joe Pesci di film-film Scorsese.

Pujian perlu ditambahkan karena pilihannya untuk bermain di Bombay Velvet sangat berisiko.

Sudah jadi diktum di Bollywood, melebihi apa yang terjadi di Hollywood, bahwa sutradara, apalagi aktor, tak boleh salah pilih film. Sekali jangan, apalagi berkali-kali. Sebab tak terhitung insan film yang buru-buru sudah jadi veteran hanya karena salah pilih film. Makanya, ambillah risiko jika dirasa diperlukan. Jika tidak, tak usah dilakukan. Tak perlu mengambil risiko itulah resep Rajinikant menjadi lebih besar di industri film Tamil dibanding Kamal Hasaan yang meletup-letup. Resep yang sama juga yang membuat Shah Rukh (setidaknya pasca-Kuch Kuch Hota Hai) merajai Bollywood, melampaui Aamir yang selalu resah dengan tema dan peran-peran baru. Dan resep inilah yang “dilanggar” Ranbir. Ia keluar dari cangkang anak manisnya, bertarung, menjadi kejam dan serakah, bersimbah darah, membunuh, bahkan membunuh dengan keji, dan mati di akhir film. Dan mungkin ini tak dikehendaki publik film di India yang mencintai karakter-karakter manisnya. Bombay Velvet pun jatuh, bahkan dilabeli “disaster” oleh media-media India.

Tapi film ini tak hanya memberi risiko pada Ranbir. Juga Karan Johar, sutradara Kuch Kuch Hota Hai. Seperti banci tampil, Johar belakangan semakin sering muncul di di layar, ikutan main. Biasanya hanya cameo, atau berperan sebagai dirinya sendiri, tapi kali ia tampil penuh, dan main sebagai antagonis. Dan wow, bukan hanya tampak tahu akting, ia malah tampil sangat menonjol sebagai Kaizat Khambatta, bos media pro-modal yang kebanci-bancian. Dan menjadi lebih menonjol lagi karena karakter Khambatta ini seperti tengah berolok-olok dengan opini khalayak yang, di kehidupan nyata, sejak lama menggunjingkan Johar sebagai seorang gay. Entah mau senang-senang atau memang serius berakting, dengan kemampuan macam itu, di masa depan ia bisa bermain berpasangan dengan karibnya, Shah Rukh. Itu kalau Shah Rukh mau ambil sedikit risiko.

Meski demikian, risiko terbesar tentu saja ditanggung sang sutradara, Anurag Kashyap—meskipun, setahu saya, ia tak pernah membuat film yang aman-aman saja. Film berlatar belakang masa lalu bukan hal baru di Bollywood, lebih-lebih belakangan ini, ketika kecakapan teknik para sineasnya sudah sama memadainya dengan para pekerja film di belahan bumi lainnya. Tapi mengangkat kisah dunia hitam Bombay (yang kemudian jadi Mumbai) tahun 60-70-an dengan tanpa menyinggung secara pantas para gembong preman Muslim-nya bukan hanya memunggungi sejarah Bombay tapi juga mengabaikan khittah Bollywood sendiri.

Perlu diketahui, sampai kematiannya tahun 1994, penguasa dunia hitam Bombay pasca-Kemerdekaan India adalah Haji Mastan, seorang Robinhood Muslim buta huruf asal Tamil Nadu. Itu di dunia nyata. Di layar, kehidupan Mastan dan dunia hitam yang dibesarkannya bukan saja menginspirasi puluhan film, tapi bahkan membentuk sejarah Bollywood itu sendiri. Deewaar (1975, std. Yash Chopra), film yang ditulis berdasar riwayat hidup Mastan, disebut oleh Danny Boyle sebagai “kunci bagi khazanah sinema India” dan dianggap mempengaruhi karyanya, Slumdog Millionaire. Terus diproduksi spin-off dan replikanya bahkan hingga saat ini, Deewaar adalah fondasi bagi apa yang saat ini disebut sebagai Mumbai Noir, sebuah genre yang juga dihidupi oleh film-film awal Kashyap. Lucunya, Bombay Velvet tampaknya ingin keluar dari kerangka Mumbai Noir-nya. Dan mungkin ini salah satu alasan kenapa film ini terpelanting di bioskop.

***

Selain bercitarasa Amerika, Bombay Velvet sebenarnya menggemakan realitas aktual di Indonesia (baik ekonomi, sosial, juga politik). Dan itulah salah satu alasan kenapa tulisan ini lahir.

Film ini jelas tak ditujukan untuk khalayak Indonesia, tapi, entah kenapa, memiliki koneksi yang aneh (tapi nyata) dengan kita. Pasti dibikin jauh sebelum tahun rilisnya (2015), apalagi cerita ini berdasar buku Mumbai Fables (2010) karya sejarawan Gyan Prakash, film berseting Bombay akhir ’60-an ini, dengan ketepatan yang luar biasa, terasa seperti bicara tentang Jakarta masa kini. Gambaran ekspansi modal yang gila-gilaan, perang media yang ngawur-ngawuran, reklamasi pantai dan perebutan lahan yang dibayar dan dilakukan dengan cara apapun, tak bisa tidak mengingatkan kita dengan apa yang kini terjadi di bekas Pantai Utara Batavia. Makanya, seorang teman yang kebetulan juga kritikus Ahok yang gigih, bersorak riuh manakala menemukan adegan pertemuan antara pemilik media, pengusaha, politisi, dan preman tengah bersekongkol soal reklamasi.

Tapi jika mau lebih cermat sedikit, gema ke-Indonesia-an film ini juga bisa didapatkan pada sisi lain. Coba perhatikan sosok Jimmy Mistry, editor Glitz, koran yang kontra modal. Ia kekiri-kirian, ada di pihak buruh dan aktivis komunis, namun pada saat yang sama sangat mudah membedakannya dengan pemimpin buruh dan aktivis komunis di film ini, misalnya Kamerad Dhespande. Jimmy berpakaian rapi dan dandi, sama flamboyannya dengan musuhnya, Khambatta yang pro-modal. Ia ajeg mengunjungi bar jazz, kedapatan main billiard, dan senang mani-padi, meski di banyak kesempatan ia juga muncul di panggung demonstrasi para buruh. Dan, yang terpenting untuk alur film ini, ia juga senang dengan perempuan cantik, dan tak sungkan memperalatnya untuk tujuan-tujuan taktik-politik.

Mengabaikan satu-dua hal pokok yang tak sesuai, lalu iseng-iseng bermain anagram dan inisial, dan membayangkan bahwa Anurag Kashyap mungkin sempat membaca studi-studi tentang industri cetak di Indonesia (Wars Within-nya Steele, misalnya), saya tampaknya menemukan sosok mirip Jimmy Mistry ini di sini, di Indonesia. Sambil senyum-senyum saya berandai-andai, kalau di Indonesia, JM si editor ini tampaknya lebih condong jadi PSI dibanding PKI.

Iklan
Standar