film

Nonton India: Perjuangan Tak Berkesudahan II*

Mahfud Ikhwan

*(untuk Qowim Mustofa)

 

Rajahindustaniposter Masa Keputusasaan atau Munculnya Para Pejuang Baru?

Saya lulus sekolah menengah atas saat film India, konon, justru sedang mengalami booming di Indonesia (Anda bisa baca tulisan Bettina David untuk mendapatkan keterangan tentang itu—meskipun, sebagai penggemar India di Indonesia, saya kurang tertarik dengan penjelasan dan kongklusinya). Kuch Kuch Hota Hai rilis dan orang-orang yang sebelumnya mungkin mencemooh potongan rambut gondes Mithun dan pinggang penuh Sridevi keranjingan dan dibuat nangis-nangis oleh Shah Rukh Khan. Namun, seperti yang sering saya tulis, ini justru menjadi masa suram saya dengan film India.

Usai lulus SMA, saya ke Jogja dan nyaris putus hubungan dengan film dan lagu India. Sekira dua tahun sebelumnya, Baim meninggalkan desa untuk merantau dan—seperti yang belakangan ia ceritakan—memutuskan menjadikan musik dan film India sebagai masa lalu. Meski begitu, di rumah, Baim meninggalkan seperangkat tape tua, sepasang sound rongsokan tapi masih bunyi, dan setumpuk kaset soundtrack film India bagi adiknya, Jenggot (sebut saja begitu, sebagaimana teman-temannya memanggil).

Jenggot tujuh tahun lebih muda dibanding kakaknya. Sejak kecil, ia sudah jadi korban selera Baim. “Saat sunatan, biasanya orang-orang memutar Rhoma atau Ida Laila. Tapi saat sunatanku, Baim dengan seenaknya memutar lagu-lagu India. Ia bahkan rela bertengkar dengan operator toa untuk itu,” begitu Jenggot berkisah. Dan sejak itu sang adik menyukai lagu dan film India.

Bersama dengan tape dan tumpukan kaset-kaset India, Jenggot ditinggali juga sebuah rumah kosong setelah kedua orangtuanya berangkat merantau juga. Di rumah (nyaris) kosongnya, Jenggot menghimpun bocah-bocah tanggung seumurannya yang tak nyaman berkumpul di masjid dan tak kerasan di rumah masing-masing, entah karena sendirian seperti Jenggot atau karena gerah dengan kakek-nenek cerewet yang melarang mereka coba-coba merokok. Rumah itu, beberapa waktu kemudian, segera dikenal sebagai sumber keributan. Bukan cuma karena Jenggot dan kawan-kawan sepermainannya itu mulai jadi berandalan-berandalan kecil yang sering bikin ribut, baik di dalam desanya sendiri maupun di desa-desa sekitar, tapi karena di rumah itulah saban hari terdengar musik India diputar keras-keras, berdentam-dentam, dan bocah-bocah berumur tanggung terlihat meliuk-liuk menirukan cara Salman Khan atau Shah Rukh Khan bergoyang. Saat sesekali pulang, baik saat masih di SMA maupun setelah kuliah, saya beberapa kali nebeng dengar kaset-kaset India mereka. Mungkin karena merasa tak seumuran, yang seringkali menciptakan semacam arogansi pada saya bahwa saya lebih dulu dan lebih tahu dari mereka soal lagu dan film India, saya merasa tak cocok dengan mereka. Saya tak begitu kenal dengan lagu-lagu dan film baru yang mereka putar.

Tapi, boleh jadi, saat itu saya memang sedang dalam proses putus hubungan dengan budaya populer India. Di sekolah menengah atas, saya dua tahun sebangku dengan seorang yang terjangkit keranjingan jenis lain: musik rock 80-an – 90-an awal. Ia bercerita tentang Queen, Van Halen, Metallica, Sepultura, Helloween, dkk. dengan antusiasme yang sama dengan saat Baim bercerita tentang film-film India. Saya termakan juga, meski tak semua bisa saya telan. Black Album Metallica yang terkenal itu, misalnya, sudah cukup membuat saya pusing, apalagi sampai ke Megadeth atau Sepultura—itu terlalu berlebihan bagi bocah desa yang dibesarkan suara Julius Sitanggang dan Muchlas Ade Putera, apalagi belakangan terbiasa dengar suara mendayu Kumar Sanu. Meski begitu, saya sering pulang kampung dengan membawa pulang kaset Queen, Van Halen, atau—yang paling sering, karena paling lembut—Air Suplay. Yang paling ironis (bagi seorang penggemar India), seperti yang akan terus saya kenang, rasa terima kasih saya atas keberhasilan menempuh Ebtanas SMA dan kemulusan melewati soal-soal Matematika Dasar di UMPTN justru saya haturkan pada lagu-lagu country-nya John Denver, The Carpenters, CCR, dll.—yang belakangan saya ketahui sebagai musik dan vokal hasil rekaman palsu. Di sisi lain, meskipun sesekali masih dengan antusias menonton film India, energi perjuangan saya mulai teralihkan ke film-film Hollywood “aneh” yang biasanya diputar RCTI dini hari usai Buletin Malam—terimakasih untuk Mak Ti yang membiarkan saya pegang remote. Mewabahnya Kuch Kuch Hota Hai (1998) kemudian memperburuk situasi.

Namun, di fase ini, perjuangan menonton film India memang bukan kisah saya atau kisah Baim.

 

Listrik, Video, Sepeda Ontel

Jenggot dan teman-teman sebayanya sedikit lebih beruntung dibanding kakaknya dan saya, karena tak terlalu lama mengalami masa-masa aki dan diesel yang menyengsarakan itu. Listrik sudah ada, dan orang-orang yang pulang dari rantau membawa pulang televisi dan tape-tape berukuran besar dengan merk dan kualitas mentereng. Meski tetap tak punya televisi, ia dan kawan-kawannya bisa menonton film India hampir di mana saja dan kapan saja. Mereka tak harus menyaksikan adegan dramatis (di luar film) yang biasa kami alami, yakni ketika layar televisi hitam putih mengecil hingga tinggal setelapak tangan dan kemudian lambat laun sama sekali mati karena air aki telah benar-benar kering. Mereka tak harus berurusan dengan aki masjid dan pemilik diesel. Namun, mereka musti menghadapi era video yang baru menjamur di desa kami saat dunia di luar sana telah meninggalkannya dan tengah menyongsong masa-masa awal CD.

Awal tahun ’90-an, di desa kami, video adalah hiburan yang didatangkan pada saat-saat pesta atau perayaan. Jadi, tak berlebihan jika dikatakan, pada satu masa, di suatu tempat, video sama langka dan terhormatnya dengan pentas ludruk, gelaran gambyong, hingga pertunjukan wayang orang yang adiluhung itu. Keadaan seperti tak banyak berubah hingga awal ’97, manakala listrik PLN telah mantap dan orang-orang dengan percaya diri belanja barang-barang elektronik. Pemutar video adalah mimpi semua orang—siapa yang tak ingin nonton film Rhoma Irama atau melihat tendangan hebat Barry Prima di rumah sendiri dan diputar oleh tangan sendiri? Tapi, pemutar video biasanya adalah pilihan ketiga setelah televisi dan  tape. Lagipula, yang beli pemutar video haruslah beli pula kaset-kaset video beserta pemutar pitanya. Tingkat “kemewahan” pemutar video inilah yang membuat barang ini mulai ada tapi tetap saja dalam jumlah sedikit.

Bagi penggemar film India, “kemewahan” pemutar video ini dipersulit oleh “kemewahan” berikutnya: kaset video film India. Film India disukai banyak orang di desa kami, terutama anak-anak muda dan remaja—sebagaimana mereka menyukai film silat Mandarin, namun tak semua orang menyukai film India. Jika pun kesukaan terhadap film India jauh lebih tinggi dibanding film-film “Putih” (pinjam istilah dari para perantau Malaysia untuk menyebut film Hollywood atau Eropa), film India tetap terkulai lemas di hadapan film-film musikal Bang Haji atau film-film silat Barry Prima (yang sebenarnya jago karate itu). Jangan lupakan juga geliat dan gelinjang Suzanna dan hantu-hantu genit jelmaannya. (Belum lagi kalau film-film bokep klasik ikut campur.) Karena itu, di rak-rak film pemilik pemutar video yang cuma sedikit itu akan didapati lebih sedikit lagi film India, jika bukan sama sekali tidak ada. Kelangkaan ini kadang tertolong dengan para perantau muda yang, karena tabungannya lebih terbatas, membawa pulang kaset video film India, meskipun tak memiliki pemutar video.

Dan yang lebih menolong lagi, bagi Jenggot dan teman-teman remajanya penggemar India, di rumahnya ada sepeda ontel yang dulu dipakai bapaknya untuk berjualan es puter. Sepeda ontel itu, pada banyak kesempatan, sangat membantu Jenggot dkk. mempertemukan pemutar video yang mewah dan kaset video film India yang langka.

Ya, mereka akan beruntung jika mendapati seorang pemilik pemutar video yang sekaligus memiliki kaset video film India. Jika pun hal itu tak ditemukan, mereka akan meminjam kaset ke yang punya kaset dan numpang memutarnya di tempat yang punya video. Melobi dua pihak itu biasa, sebab tak jarang Jenggot dkk. harus melobi tiga pihak, yaitu saat mereka harus melobi sanak-saudara pemilik kaset atau pemutar video untuk membantunya melobi mereka agar mengizinkan para penggemar India itu memakai properti mereka. Tak jarang pemutar dan kaset video tersebut tidak berada di satu desa. Di situlah sepeda ontel itu menunjukkan perannya.

Sepeda ontel itu kemudian benar-benar menjadi dewa penolong saat kaset-kaset video yang terjangkau sudah semuanya ditonton, sementara di pasar kecamatan penjual kaset-kaset lagu soundtrack India terus saja memajang film-film baru dengan lagu-lagu yang terdengar lebih enak dan sampul yang lebih heboh. Belum lagi kalau film-film India yang sangat diimpikan ditonton, terutama karena lagu-lagunya yang sangat familiar, belum juga ditemukan—baik di televisi maupun di rak-rak pemilik kaset video.

Jenggot berkisah belum lama ini, untuk bisa mendapatkan film Raja Hindustani (Aamir Khan dan Kharisma Kapoor, 1996) yang seluruh lagunya jadi hits di radio, dia harus ngontel ke sebuah rental video di Paciran, yang berjarak lebih dari 15 km dari desa kami. Karena jauh dapatnya, mahal sewanya, dan tak gampang mendapatkan pemilik video yang pemurah meminjamkan propertinya dan mengizinkan ruang tamunya dipenuhi bocah-bocah remaja tanggung yang belum tentu dikenalnya, Jenggot mengaku menonton film itu hingga tiga kali sehari sebelum, sekali lagi dengan sepeda ontelnya, kaset video itu dikembalikan ke rental. (Itulah rahasianya sehingga ia bahkan hafal lagu di film tersebut yang tidak ditemukan dalam kaset soundtracknya.)

 

Kepingan yang Melukakan

Perjuangan Jenggot dkk. mendapatkan kaset video dan meminjam pemutarnya tak berlangsung lama. Kaset-kaset bata, begitu kami biasa menyebut kaset video, segera tergusur kepingan CD yang lebih ringan dan praktis. Pemutar-pemutar video beserta mobil-mobilan penggulung pitanya segera jadi barang kuno yang dicemooh dalam hitungan 2-3 tahun saja, digantikan CD player. Kepingan-kepingan film yang jauh lebih murah lebih mudah didapatkan, terutama yang jorok atau setengah jorok.

Di antara kepingan-kepingan itu, film-film India biasanya tetap yang paling sulit didapat. Jika ada, sering kali itu film tanpa yang tak ada subtitle-nya—bahkan sekadar subtitle Melayu yang membingungkan dan lucu itu. (Dari kepingan film tanpa subtitle itulah saya pertama kali diam-diam ikut nonton Kuch Kuch Hota Hai, dan memutuskan membencinya.) Dari yang sedikit itu, yang terbanyak adalah CD-CD yang berisi kumpulan video klip lagu-lagu soundtrack.

Di satu sisi, video-video pikturisasi soundtrack itu akan memuaskan penggemar India yang selama ini hanya mendengar lagunya—“belum lihat filmnya tak apa, yang penting sudah lihat videonya,” begitu kira-kira. Namun, di sisi lain, tak seperti kaset musik yang biasanya dikemas perfilm sebagai Original Soundtrack (OST), video-video pikturisasi itu seringkali dikumpulkan dalam satu kepingan dengan bintang film sebagai dasar kategorisasinya. Misalnya, “Kumpulan Hits Shah Rukh Khan” atau “Aamir Khan’s Top Soundtrack” atau semacamnya. Mungkin kecenderungan yang disebut inilah yang menciptakan kesalahpahaman yang meluas, terutama di wilayah-wilayah yang membenci film India—atau yang mencintai India tidak dengan kaffah sebagaimana kami, bahwa bintang film macam Shah Rukh Khan menyanyikan lagu-lagunya sendiri, atau tahu bahwa itu dinyanyikan orang lain namun mereka sama sekali tak tertarik mengetahuinya.

Kepingan film India yang tetap saja tak banyak, CD-CD video soundtrack yang ditajuki nama bintang film macam Shah Rukh, Salman, atau Aamir dan bukannya judul filmnya, menciptakan pemahaman—paling tidak seperti yang saya rasakan menjelang dan sekitaran awal 2000-an—bahwa film (bahkan lagu) India seakan-akan hanya identik dengan tiga Khan itu. Ketiga Khan itu jelas tidak dibenci oleh penggemar film dan musik India sejati, namun melihat mereka dijadikan hampir sebagai keseluruhan representasi film (dan musik) India sangatlah menyakitkan. Baim yang menggilai film-film Sanjay Dutt dan hampir semua soundtrack film-filmnya pasti tak nyaman dengan kondisi ini. Saya yang mengidolakan “penjahat” macam Nana Patekar dan meletakkan suara Kumar Sanu di puncak piramida budaya populer India lebih ngenes lagi. Jenggot yang mengidentikkan amarahnya dengan amarah Sunny Deol, walau tak begitu banyak cerita, pasti juga merasakan hal yang sama. Tanpa bilang-bilang, “para pejuang” itu mundur. Bagi saya sendiri boleh jadi hal itu, saat itu, untuk seterusnya.

(Ya, tentu saja, di luar sana, pasti ada pejuang-pejuang film India lain, yang berjuang dengan cara lain, untuk menghadapi masalah yang mungkin sama sekali lain. Kalau tidak, tentu saja, film India tak akan menjamur lagi seperti belakangan ini terjadi.)

Ketika Baim pulang kampung setelah menghilang tak kurang dari 10 tahun, Jenggot balik dari tiga tahun di Negeri Jiran dan tiga tahun menyelesaikan sekolah menengahnya di Ibukota, dan saya jadi lebih banyak di rumah setelah lima tahun kuliah, dua tahun mengembara, dan lima tahun memburuh, kami bertiga pun bertemu. Dan, tak ada hal lain yang paling menarik kami bicarakan kecuali film dan lagu India. Dan, tak bisa tidak, bentuknya adalah kenangan. Dan lagu yang membuat kami bertiga diam, menyimak, menyeringaikan senyum yang mengisyaratkan ingatan, adalah lagu yang dilantunkan Abhijeet berjudul “Tumhein Kaise”, dari OST film Dastak (1996), buruk dan tak dikenal dan dibintangi oleh aktor yang tak diingat namanya, yang kasetnya pernah ditemukan di rumah Baim. Itu jelas menunjukkan, perjuangan kami atas film dan musik India hampir-hampir macet di saat terakhir kami meninggalkan desa kami.

Tapi hampir. Ketika segala keribetan yang pernah kami alami di masa lalu tak berdaya apa-apa menghadapi internet dan aplikasi downloader, film dan lagu India yang dulu begitu susah didapat tiba-tiba seperti berdatangan sendiri. Sejak tiga tahun lalu, saya selalu pulang dari Jogja dengan puluhan judul film India baru dan lama. Baim dan Jenggot, dan beberapa penggemar India lain, lawas dan baru, begitu antusias. Namun, tak butuh waktu lama untuk mereka menyadari—juga saya—bahwa dibutuhkan perjuangan berikutnya untuk menonton film India. Dan itu tak mudah. Paling tidak, tidak semudah jika kami menyukai film Korea.

(Bersambung….)

 

 

 

 

Iklan
Standar
film

Nonton India: Perjuangan Tak Berkesudahan I*

Oleh Mahfud Ikhwan

*(untuk Qowim Mustofa)

 

Pada Mulanya…Saajan - AlbumArt

Kami telah mendengar cerita tentang musik dan film India dari orang-orang tua kami. Bettina David menulis, film India adalah salah satu impor gambar bergerak pertama dunia tontonan Indonesia, selain film silat Hongkong dan film-film Malaya. Tapi, itu tak menghindarkan adanya klaim—yang kemudian jadi keyakinan—bahwa di sebuah rumah di desa kamilah musik India untuk pertama kali diperdengarkan dan judul-judul dan bintang-bintang film India dibincangkan. Baca lebih lanjut

Standar