musik

Menemukan Bismillah Khan, Mengingat Pak Raden

Oleh Mahfud Ikhwan

Seperti cara kebanyakan hal besar ditemukan, saya menemukan Bismillah Khan secara kebetulan.

Mulai bosan dengan lagu-lagu bollywood di playlist hp, saya memasukkan satu folder penuh OST film Vivah (2006), yang lama didownload namun tak benar-benar pernah disimak. Belum pernah menonton filmnya, lagu-lagu di film itu saya turun-muatkan semata karena cerita seorang teman, bekas TKI di Malaysia. Katanya, film itu berhasil meruntuhkan hati serombongan buruh bangunan asal Jawa yang biasanya berangasan. Sebuah lagu yang mengungkapkan kerelaan sang lakon pria menerima kekasihnya apapun keadaannya, masih menurut cerita teman itu, sampai sekarang tetap membuatnya bercucur air mata. “Mujhe haq hai….” senandungnya menirukan suara Udit Narayan pada sebuah lagu di film itu. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
film

Salaam… (dari) Bombay!*

Oleh Mahfud Ikhwan

Sutradara: Mira Nair ; Naskah: Sooni Taraporevala; Pemain: Syafiq Syed, Raguvir Yadav, Aneeta Kanwar, Nana Pathekar, Hansa Vithal; Tahun: 1988.Image

Saya beruntung baru menonton Salaam Bombay. Sebab, andai jauh-jauh hari saya telah menontonnya, tentu Slumdog Millionaire-nya Danny Boyle, hanya akan tampak seperti rangkaian hura-hura saja, dan Daun di Atas Bantal hanya sekadar adaptasi semata. Saya, sekali lagi, beruntung Salaam Bombay baru saya tonton. Sebab, kalau tidak, film-film Mira Nair lainnya hanya akan jadi semacam catatan kaki saja: The Perez FamilyKamasutraVanity Fair,Namesake, tak akan lebih jadi deretan filmografi Mira Nair.

Salaam Bombay! berkisah tentang Krishna alias Chaipau, seorang bocah sirkus yang terdampar diBombay. Ia membutuhkan uang 500 rupee untuk pulang ke kampung, sebab uang sejumlah itulah yang membuatnya akan diterima oleh emak yang menelantarkannya. Untuk uang segiitu, ia bekerja apapun; dari mulai jual teh tarik gelasan, hingga ikut-ikutan jualan putau. Untuk uang segitu itu, ia tidur di antara para bajingan kecil dikota raksasaBombay dan menjadi bagiannya, keluar masuk tempat pelacuran, dan menaruh hati dengan salah satu penghuninya. Untuk jumlah seupil itu, ia mesti berurusan dengan dinas sosial dan, pada akhirnya, jadi seorang pembunuh.

Merasa familiar? Tentu. Garin, dengan atau tanpa disengajanya, memindahBombayke Jogja, dan menggantiKrishnadkk. dengan Kancil dan konco-konconya. Dan, Danny Boyle, dengan cara yang jauh lebih enteng dan sederhana, meng-Hollywood-kannya. Dan, hmm…, dapat Oscar dia!

Yang jelas, siapa yang tertarik memfilmkan anak-anak miskinkota, film ini tak akan bisa dihindarinya, kecuali yang ingin terpeleset jadi sekadar pengekor atau bahkan pengulang. Dan siapa yang menyukai film anak-anak miskin, hati-hati. Karena, standar selera Anda akan jadi membumbung, hingga sulit dipenuhi film anak yang sembarang cengeng saja.

Satu lagi. Bagi yang selama ini menutup hati bagi filmIndiadan aktor-aktornya, siap-siap menyesali diri. Karena, Nana Pathekar, untuk kesekian kali, akan menunjukkan kepada Anda, betapa Anda telah tersesat begitu jauh di dalam labirin prasangka dan selokan-selokan penganggapremehan.

*bisa ditemukan di mahfudikhwan.multiply.com dengan format yang sama.

Standar