ajay devgan, bhagat singh, film india dan saya, sejarah india, sejarah indonesia, tan malaka

SURAT TAK TERKIRIM UNTUK TUAN BHAGAT SINGH

Jogja, 28 September 2014bhagat-singh-blk-49

Tuan Bhagat, apa kabar Anda dan India? Semoga baik—jangan seperti kami di Indonesia, hari-hari ini. Surat ini sebenarnya agak terlambat satu hari, sebab saya ingin menuliskannya kemarin, tangal 27 September, tepat di hari kelahiran Anda, 107 tahun lalu. Tapi, terlambat satu hari saya rasa tak apa. Toh, surat ini tidak saya kirimkan.

Oh ya, sebelum memulai terlalu jauh, saya memang agak bingung bagaimana cara menyapa Anda. Saya sedikit tahu, orang-orang di India sana menggelari Anda dengan sebutan “saheed”—kata yang, tentunya, dicerap dari khazanah cerita-cerita kepahlawanan Arab Islam; pilihan kata yang tepat dan indah oleh bangsa Anda bagi para martir dan pahlawannya. Tapi, maaf, saya tak mau menyebut Anda dengan cara itu, sebab itu sebutan untuk orang yang sudah mati, sementara Anda belum lama hidup dalam pengetahuan saya dan—ya—tentu saja saya tidak hendak berkirim surat pada orang mati. Ada persoalan juga kalau saya menyebut Anda dengan panggilan “ji”, sebagaimana orang India memanggil orang-orang yang dihormatinya. Tapi, sepengetahuan saya (maaf kalau salah), panggilan itu tampaknya diberikan kepada orang yang lebih tua, sebagaimana juga panggilan “bhai” dan “dada”. Bukannya saya tidak menghormati Anda, tapi setahu saya Anda digantung, bersama dua teman Anda (Raj Guru dan Sukhdev), oleh para sipir Pemerintah Kolonial Inggris saat Anda masih berumur 23, bukan begitu? Bagi saya, itu usia abadi Anda; dan saya membayangkan Anda membaca surat ini di usia yang sama saat Anda, masih dengan keangkuhan khas anak muda, sembari memegang buku Lenin, berkata pada sipir penjara yang tengah menjemput Anda ke tiang gantungan: “Sebentar, dua orang revolusioner sedang berbincang”.

Jadi, saya putuskan saja menyapa Anda dengan sebutan “tuan”. Itu sapaan Melayu yang pada zaman Anda dulu sering dipakai oleh para pejuang kami di sini—sebagian besar adalah revolusioner seperti Anda juga—untuk saling menyapa, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam berkorespondensi; sebuah sebutan penuh rasa hormat yang bisa dipakai untuk menyebut orang yang lebih tua, orang sebaya, atau bahkan yang lebih muda, yang tetap terasa dekat namun tidak sok akrab.

bhagat-singh-image

Bagaimana, Tuan Bhagat? Saya rasa Anda sepakat.

Tuan Bhagat, perkenalkan saya Mahfud Ikhwan dari Indonesia. Dulu pernah belajar sastra dan memutuskan untuk menulis novel setelah membaca karya sejawat Anda dari Bengal, Bhibhutibhusan Banerji. Dan, ya, saya juga penggemar film India. (Mohon jangan ditertawakan, sebab itulah yang mempertemukan saya dengan Anda.)

Mohon juga jangan tertawa, apalagi tersinggung, kalau film tentang Anda, The Legend of Bhagat Singh, saya temukan di sebuah rental film di Jogja yang biasanya jadi tujuan penggemar film yang bukan-bukan (bukan eksyen, bukan drama, bukan pula triller, cuma sedikit komedi). Bagaimanapun, pertemuan tak sengaja itu membawa hikmah yang tidak hanya besar, tapi juga yang kecil-kecil. Rental yang tak usah disebutkan namanya itu yang mempertemukan kita, itu yang terpenting. Tapi, yang tidak kalah penting juga, karena ketemu di rental macam itu, kepingan yang menampilkan gambar dan riwayat tentang Anda muncul dengan tampilan terbaiknya kepada saya—bersih, belum ada yang nonton sebelumnya.

Ah,  maafkan saya Tuan, kalau sok akrab.

Selain lewat film Rajkumar Santhosi bertahun 2002 itu, saya menemukan nama Anda disebut dengan penuh kekaguman oleh Tariq Ali, penulis buku The Clash of Fundamentalisms, yang juga terbit di tahun yang sama. Orang Pakistan berkewarganegaan Inggris yang merasa memiliki keterikatan etnis dan ideologis dengan Anda itu mengenang dengan bangganya bahwa ia tumbuh di sebuah keluarga Islam komunis, dengan kakek dan nenek yang selalu bersemangat bercerita kepada kanak-kanak tentang kehebatan Anda, sang singa Punjab. Belakangan, film Rakesh Omprakash Mehra, Rang De Basanti (2006), juga memberikan sisi lain tentang Anda—juga sejawat-sejawat Anda, Ram Prasad Bismil, Chandrasekhar Azzad, dan Asfaqullah Khan.

Bhagatsinghlegend

Oh ya, agar Tuan tak salah sangka, saya menjadi pengagum Anda sejak bertemu dengan Anda lewat film itu (mungkin sekira 2003-an) bukan karena saya seorang komunis, apalagi atheis, seperti Anda. Saya pun bukan pengagum (dan tidak terlalu mengenal) Tamil Elam, organisasi pembebasan di India dan Srilanka yang mengamalkan pandangan-pandangan Anda. Saya juga ragu apa saya menyukai anarkhisme ala Bakunin yang Anda terapkan dalam perjuangan Anda—meski, kalau saya jadi orang India pada tahun 30-an, saya pasti akan mendukung cara-cara Anda yang tanpa kompromi itu dan menjadi pembenci si lembek Gandhi. Tentu, bukan pula karena saya penggemar film India dan kebetulan mengidolakan Ajay Devgan, aktor yang memerankan Anda di film itu.

Saya mengagumi Anda, film-film tentang Anda, juga film-film riwayat kolega-kolega revolusioner Anda—mulai dari Mangal Pandey, Chandrasekhar Azad, Asfaqullah Khan, Ram Prasad Bismil, Udham Singh, Surya Sen, Subhas Chandra Bose, juga Gandhi—sebagai orang Indonesia seutuhnya; orang Indonesia beretnis Jawa, yang membanggakan sejarah bangsa dan nenek moyangnya, yang pada saat yang sama juga memiliki keprihatian tentang bagaimana sejarah itu ditulis, ditampilkan, dibaca dan ditanggapi.

Tuan tahu apa yang berkecamuk dalam diri saya saat menonton film tentang Anda? Surat ini pasti akan sangat panjang jika saya menuliskan apa yang benar-benar saya rasakan. Namun ada dua kata yang sangat mewakili: gemetar dan iri. Ya, saya tidak melebih-lebihkan.23rd March 1931 Shaheed

Saya gemetar karena segera mendapati bahwa sejarah bangsa kita begitu serupa; negara kita masing-masing mengalami persoalan yang sama, yang dibebaskan dari penjajah dengan usaha keras yang sama, memakan korban yang sama besarnya, dan karena itu melahirkan sekaligus membunuh sosok-sosok yang serupa. Anda tahu, sosok Anda, ideologi dan pendirian Anda, bahkan semboyan yang Anda teriakkan di depan pengadilan kolonial yang memutuskan menggantung Anda dengan mudah saya cari dalam sejarah kami di Indonesia. Tuntutan Anda untuk merdeka sepenuhnya sama persis dengan tuntutan Indonesia Merdeka 100% Tan Malaka, pahlawan dan legenda kami. Anda punya teriakan “Inquilab Zindabad!”, kami punya “Merdeka atau Mati!”. Anda—juga kolega-kolega revolusioner India Anda—mengingatkan saya, dengan sangat lekat dan dekat, kepada pahlawan-pahlawan kami, mulai dari yang populer, populer tapi tidak boleh dikenang, hingga yang sama sekali tidak dikenal.

81xSsWXKAtL._SL1500_

Tapi saya juga iri, Tuan. Rasa ini terutama saya tujukan kepada negeri Anda, India.

Penjelasannya mungkin agak panjang, tapi kira-kira begini: mengingat kekaguman yang sangat besar rakyat India terhadap Gandhi dan ideologinya, sementara Anda sama sekali mencampakkan metode antikekerasaannya dan cara-cara perjuangannya yang terlalu lunak kepada penjajah, saya menduga Anda bukan seorang pahlawan yang sepenuhnya populer di India—meski pada tahun 2008, sebuah polling di majalah India Today, menempatkan Anda di posisi pertama sebagai “The Greatest Indian” mengalahkan Gandhi dan Bose. Atheisme yang dengan lantang dan bangga Anda dakukan, menurut dugaan saya (bisa saja itu salah) tentu akan membuat Anda tak terlalu diterima di kalangan fundamentalis agama di India yang tengah menguat. Tapi, itu tak membuat Anda, juga kolega-kolega revolusioner Anda, sama sekali terlupakan oleh rakyat India.

Saya tidak tahu apa yang dilakukan para penulis sejarah dan sastrawan, juga pendidik di sekolah-sekolah India, namun apa yang dilakukan para sineas di negeri Anda sungguh hebat. Sejak awal tahun 50-an hingga dekade 2000-an telah ada tujuh (7) film yang khusus bercerita tentang Anda, dengan tiga di antaranya muncul hampir secara bersamaan pada tahun 2002. Itu jumlah yang sungguh luar biasa, terutama di mata seorang Indonesia macam saya. (Belum lagi jika itu saya tambahkan film tentang Surya Sen, Netaji Bose, Udham Singh, dll.) Bandingkan dengan kami yang baru memiliki satu film biografis tentang pahlawan terbesar kami Soekarno, nol untuk Bung Hatta, nol untuk Sjahrir, nol juga untuk jenderal besar kami Pak Dirman (sebenarnya ada satu, tapi itu karena ada jenderal lain yang ingin numpang tenar).

Itu nama-nama tenar, “bersih”, dan “ada di sisi kanan jalan”, Tuan. Saya tak berani sebut tokoh di “sisi kiri jalan” macam Tan Malaka, Haji Misbach, Kartosuwirjo, Semaun, apalagi sampai Amir Sjarifudin, Muso, Widarta, Kutil, hingga Aidit, Lukman sampai Disman. Saya tak berani bukan saja karena itu sepertinya mustahil, tapi boleh jadi ketika saya menyebutkan bahwa mereka adalah pahlawan yang  musti dikenalkan di buku-buku sejarah atau di layar-layar bioskop ada pihak yang menganggap saya sedang membaik-baikan para bajingan. (Maafkan atas bahasa yang saya pakai, Tuan.)

Ah, dari tadi saya berkali-kali menyebut nama Tan Malaka. Tuan pernah mendengar namanya? Saya maklumi kalau Tuan tidak tahu.

Saat si Pacar Merah—begitulah para penulis fiksi tahun 30 menyebutnya—telah merajalela di separuh dunia, Anda pasti masih seorang bocah remaja di Punjab sana. Tahun 1922, saat Tuan bahkan belum masuk sekolah tinggi, Tan Malaka (kami) telah menyerukan di depan Kongres Komintern ke-4 di Moskwa agar Komunisme bersatu dengan Pan-Islamisme—usul yang kemudian ditolak itu. Tahun 1927, setahun sebelum Tuan dan sejawat melakukan pembunuhan terhadap Superintendan Polisi John P. Saunders (kasus yang membawa Tuan ke tali gantungan itu), Tan Malaka mendirikan Partai Rakyat Indonesia di Bangkok dan telah menulis setidaknya 12 buku dan pamflet.

Dalam banyak ukuran, Tuan, ia jelas salah satu pahlawan terbesar kami, dan memang demikian. Namun sisi jalan yang ditempuhnya membuat ia nyaris tak dikenal. Jadi, kalau kami di Indonesia saja tidak begitu mengenalnya, tentu bisa dimaklumi jika Tuan juga tak begitu mengenalnya.

Ah, saya kurang jujur jika menyebut Tan Malaka kurang dikenal, Tuan. Yang lebih tepat, ia dibenci oleh sebagain besar rakyat Indonesia tanpa perlu mengenalnya. Bahwa ia seorang tokoh PKI, partai yang telah dihabisi dan ideologinya sampai sekarang masih terlarang di negeri kami, dan bahwa ia mati ditembak tentara, itu sudah cukup untuk jadi alasan menyingkirkannya dari buku-buku sejarah di sekolah. Ya, ia sangat dibanggakan di kampung halamannya di Minang. Ia juga dikagumi dan banyak dibaca di kalangan kelas menengah terdidik Indonesia—buku-buku tentangnya selalu laris. Tapi, pada saat yang sama, ia tidak benar-benar sepenuhnya diterima. Pembongkaran kuburunnya bukannya menjadi peristiwa bersejarah yang mengharukan, tapi malah beralih jadi peristiwa politik yang kontroversial. Diskusi-diskusi buku dan pemikirannya tidak dihadiri khalayak dengan buku catatan dan rasa ingin tahu, tapi dengan pedang, pentungan, dan batu.

Aduh, saya sebenarnya tak mau membanding-bandingkan, Tuan. Tapi coba bayangkan. Sementara Tuan dipatungkan di depan gedung Parlemen India, berdampingan dengan patung Indira Gandhi dan Subhas Chandra Bose, tak satu pun jalan di negeri ini yang mengabadikan nama Tan Malaka—kecuali, konon, sebuah jalan kecil di kampung halamannya sendiri. Anda punya National Martyr Memorial di Husainiwala, juga Bhagat Singh Museum & Bhagat Singh Memorial tempat kelahiran Tuan di Khatkar Kalan, sementara kuburan Tan Malaka terlantar dan hampir tak terlacak keberadaannya. Dan, jangankan tujuh film, Tuan. Separoh atau seperempat film pun saya tak berani membayangkan akan ada. Pasti indah sekali jika bisa menyaksikan seorang aktor Indonesia memerankan Tan Malaka yang berpidato di depan Lenin dan para pemimpin partai Komunis sedunia tentang betapa cocoknya Komunisme dan Pan-Islamisme, tapi ah… sudahlah, Tuan. Saya tak mau berandai-andai.

Ya, saya rasa Tuan beruntung memiliki negeri dan bangsa India (Pakistan dan Bangladesh).

Tentu mengerikan mengalami Partisi 1947 itu, sebagaimana kami sakit harus melewati Tragedi 1965. Tapi di negeri Tuan, pahlawan tetaplah pahlawan, apa pun agama dan ideologinya, bagaimana pun jalan yang ditempuhnya—hal yang oleh kami di Indonesia masih harus terus dipelajari. Anda yang lahir sebagai Sikh dan gugur sebagai atheis, diberi gelar Shaheed-E-Azaam, dan dipuja di Republik Islam Pakistan. Surya Sen, seorang guru Hindu di Cittagong yang memberontak bersama murid-muridnya, dimuliakan sebagai pahlawan Bangladesh, dan terus dihormati di India (dan bahkan diabadikan dalam dua film yang indah oleh sineas-sineas Bollywood di Bombay) meskipun Cittagong kini sudah bukan lagi menjadi wilayah India. Jika di negeri Anda Pemberontakan Cittagong yang dilakukan seorang guru bersama 10 rekan dan 50-an murid-murid yang masih remaja tampak begitu agung dan abadi, di tempat kami, pemberontakan kaum Komunis di Prambanan, Banten, dan Silungkang yang melibatkan ribuan orang bahkan nyaris terlupakan—kalau bukan dipersalahkan sebagai tindakan merusak perjuangan.

Ah, mohon maaf kalau saya emosionil di surat yang saya tulis untuk ulang tahun Tuan.

Oh ya, tadi saya menyebut Tragedi 1965. Mungkin Tuan tahu itu, tapi saya berharap Tuan tidak tahu. Sebab, terus terang, saya malu. Lebih malu lagi karena tragedi itu dimulai tiga hari setelah hari kelahiran Tuan. Aih, betapa ironisnya. Tiga hari setelah rakyat India mengenang hari kelahiran Anda, salah satu pembebas terbesarnya, kami di Indonesia musti mengenang hari yang sangat buruk itu, hari yang akan terus menghantui kami.

Tuan Bhagat yang baik…

Saya rasa begitu dulu surat saya. Saya pasti akan menyambungnya, meski tak tahu kapan. Jika bukan dengan surat, siapa tahu nanti bisa ketemu, entah di mana, kapan, atau dengan cara apa. Kalau pun toh kita tidak nyambung soal komunisme atau atheisme, saya rasa kita akan cocok pada soal musik; Punjabi boleh, Qawwali juga enak. Saya suka Sukhwinder Singh dan Rahat Fateh Ali Khan, Tuan. Mungkin Tuan bisa berbagi musik India di era sebelum sinema. Pasti menarik.

Saya rasa begitu, Tuan Bhagat. Namaste. Inqilab Zindabad!

Mahfud Ikhwan

NB: Surat ini tidak saya kirimkan karena saya tak tahu harus dikirim ke mana. Seperti yang kita tahu, setelah menggantung Anda, para sipir di Penjara Lahore memutilasi tubuh Tuan sebelum membakarnya, dan abu serta tulang-tulang Tuan dibuang di sungai yang tidak seharusnya dan tanpa upacara semestinya.

Tapi, saya akan beritahu, Tuan tidak mengalami hal macam itu seorang diri. Sebagian besar pahlawan kami juga hilang dengan cara seperti itu. Amir, Kutil, Aidit, Lukman, dll. Ohya, kalau Tuan sempat ketemu dengan mereka, tolong sampaikan kalau kami, rakyat Indonesia, masih terus melawan kelupaan kami atas mereka. Semoga, seperti Tuan, mereka mulia di sana.

Iklan
Standar