aamir khan, film, film dan agama, PK, rajkumar hirani

PK: Tentang Alien yang Kalah dalam Cinta Segitiga (Bag. 3)

Oleh Mahfud Ikhwan

21_12_2014_9_54_59pk-movie-actor-anushka-sharma-and-sushant-singh-rajput-wallpaper

C. Kongkalikong PK dan Sarfaraaz, dan Kenapa Cinta Jhaggu Berakhir Begitu

Saat mendengar tentang rencana syuting Peekay (begitu film itu waktu itu disebut-sebut), tak lama setelah menonton Talaash (2012) yang kurang asyik, saya mengharapkan film Aamir yang berbeda. Dan ketika kemudian menonton Aamir lagi di Dhoom 3 (2013) dan saya tertidur berkali-kali, saya menjadi lebih berharap lagi dengan Peekay.

Kemudian muncul rilis poster pertama film tersebut, kali ini dengan judul yang lebih jelas: PK. Rilis poster ini tidak saja menarik perhatian saya karena gambar Aamir yang nyaris telanjang dengan tape rekordernya (hal yang hanya akan dilakukan Khan yang satu ini, dan bukan Khan-Khan yang lain), tapi juga judul film itu sendiri.  PK langsung mengingatkan saya dengan www.songs.pk, nama situs yang menempel pada sebagian koleksi file mp3 lagu India saya. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
aamir khan, film, Film India dan Religiositas, PK, rajkumar hirani

PK: Tentang Alien yang Kalah dalam Cinta Segitiga (Bag. 2)

Oleh Mahfud Ikhwan

raju-hirani3

B. Hirani dan Remote Kontrol PK…

“Soal agama selalu nenancap di kepalaku, sebab—lepas dari nilai-nilai moralnya—pada agamalah ritual, tahyul, dan taklid buta berasosiasi… Aku tidak bilang bahwa di atas sana tidak ada Tuhan… di sana mungkin ada satu dzat yang Maha Kuasa, namun aku tak pernah mendapatkan jawabnya. Tiap-tiap agama punya Tuhan masing-masing, lalu mana Tuhan terbaik? Apa yang kita pertikaikan? Aku sungguh-sungguh merasa bahwa jika saja tak ada agama, kita mungkin tak akan saling bertikai.” Baca lebih lanjut

Standar
film

PK: Tentang Alien yang Kalah dalam Cinta Segitiga (Bag. 1)

Oleh Mahfud Ikhwan

Aman VohraPK - Copy (2)


Aku pulang
Tanpa dendam
Kusalutkan… kemenanganmu
Aku pulang
Tanpa pesan
Kuterima… kekalahanku.

— Sheila On 7, ‘Berhenti Berharap’ —

A. Alien yang Berkorban untuk Kemanusiaan

Setelah 20 tahun, setelah hampir kalah di detik-detik terakhir dalam memperebutkan cinta Urmila Matondkar melawan Jacky Shroff yang tampan, kaya, dan perkasa, dalam Rangeela (1995), juga usai memenangi sebuah pertarungan hati yang berkubang luka dan air mata melawan Anil Kapoor dalam merengkuh cinta Manisha Koirala (Mann, 1999), akhirnya Aamir Khan kalah juga dalam cinta segitiga. Mungkin, karena itulah penonton di India memecahkan semua rekor industri film untuk datang ke bioskop dan menjadi saksi kekalahan Aamir Khan untuk pertama kalinya. Baca lebih lanjut

Standar
film, film india dan saya, kuch kuch hota hai, Mumbai Noir

Tentang Mumbai Noir

nawazuddin

Oleh Mahfud Ikhwan

I

Belum lama, seorang teman di FB bertanya kepada saya film India jenis (genre) apa yang paling saya sukai. Saya tentu saja hanya bisa nyengir mendengar pertanyaan itu. Itu bukan saja pertanyaan yang sulit dijawab secara langsung (apalagi dengan yakin lagi mantap), tapi juga terdengar aneh.

Sulit karena menonton film India bagi saya tak semata aktivitas menonton, tetapi lebih kompleks dari itu–bahkan, kadang lebih kompleks dari yang bisa saya sadari. Ia campur-aduk dari aktivitas mencari hiburan, mengenang masa kecil, mengaji (karena–seperti seorang santri–saya biasanya bertekad mencermatinya, meyakininya, dan kemudian berkehendak menyebarkannya), dan–kadang-kadang–melawan dunia. Aneh karena, di luar sana, orang-orang biasanya cuma menyebut “Film India” semata, tanpa memperdulikan hal lain yang sedikit lebih dalam dari frasa itu, kecuali beberapa hal yang bersifat stereotipikal. Makanya, ketika ada orang bertanya pada saya soal genre menyangkut film India, saya ndomblong juga. Baca lebih lanjut

Standar