Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Teater dan Aktivisme di India Tahun 940-an*

Oleh Zohra Segal**; Terj. Mahfud Ikhwan

Sejak awal 1940-an, Bombay mempunyai sekumpulan penulis  yang kemudian membentuk Progressive Writers’ Association (PWA, Asosiasi Penulis Progresif). Di antara mereka yang bersinar adalah Khwaja Ahmed Abbas, Mulk Raj Anand, Sardar Jaffret, dan Rajinder Singh Bedi. Di antara kelompok ini terdapat seorang jurnalis muda dari Bangalore, Miss Anil de Silva, yang punya ide untuk memulai sebuah gerakan teater rakyat. Ide itu diterima seperti api bertemu ranting kering, dan India People’s Theatre Association (IPTA, Asosiasi Teater Rakyat India) pun lahir.

IPTA adalah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk menggemakan suara kalangan seniman melawan ketidakadilan yang tengah mengangkangi negeri. Lagu-lagu, sajak, balet, dan naskah drama diarahkan untuk tujuan ini, dan setiap seniman di berbagai jenis menjadi bagian dari IPTA. Asosiasi ini menarik banyak bakat seperti sari bunga mengundang lebah, dan setiap cabang kesenian ditampilkan dengan sehormat-hormatnya.

Di antara para aktor dan aktris panggung, tersebutlah nama Prithviraj Kapoor (dua kali calon presiden IPTA), Balraj dan Damayanti Sahni, Chetan dan Uma Anand, Uzra dan Hamid Butt, Dina Gandhi, Habib Tanvir, Krishan Dhavan, Safdar Mir, Hima Kesarkodi, Romesh Thapar, Sarju Pandeyu, dan Shaukat Kaifi. Di luar para penulis yang telah disebut di awal, anggota IPTA juga mencakup penulis macam Krishan Chander, Ismat Chughtai, Kartar Singh Duggal, Vishvamitter Adil, Balvant Gargi, dan masih banyak lagi. Di kalangan penari, ada nama Shanti dan Gul Bardhan, Narendra Sharma, Shanta Gandhi, Debendra Shankar, Sachin Shankar, Prabhat Ganguly, sementara di musik ada nama Ravi Shankar, Salil Chowdhry, Sachin Dev Burman, Sisir Sovan, Nagen Dey, Jatindranath Goloi, Abani Das Gupta, dan lain-lain. Dunia film diwakili oleh para selebritas seperti David, Mubarak, Shahid Lateef, Shyam, Agha, Sajjan, dan Khan. Para penyair juga tak ketinggalan. Di antara mereka adalah Harindranath Chattopadhyaya, Faiz Ahmad Faiz, Niaz Haidar, Akhtarul Iman, Miraji dan Prem Dhavan. Penyanyi rakyat seperti Binoy Roy dan saudarinya, demikian juga dengan Amar Sheikh, mampu mengumpulkan banyak massa dengan suara mereka yang memukau. Singkat kata, setiap seniman yang hidup di Bombay antara tahun 1940-50-an punya koneksi dengan IPTA dalam satu atau lain hal.

Organisasi ini berorientasi kiri dan, lazimnya pada masa itu, beberapa anggotanya adalah Komunis. Meski demikian, hanya (apa yang disebut sebagai) Cultural Squad (Laskar Budaya) saja yang didukung oleh Partai Komunis. Komite Sentral merencanakan program sehari-hari asosiasi dan memilih presiden dan wakil presiden yang berubah dalam dua atau tiga tahun. Kami biasa berkumpul pada malam hari usai kerja keseharian kami. Semangat para anggota IPTA membuat tak ada orang yang mengeluh meski mesti meluangkan waktu lebih untuk tugas organisasi. Sesekali, saat kami beruntung, kami manggung di gedung teater, namun yang sering terjadi kami tampil di ruang aula, karena sewanya yang lebih murah. Lebih banyak lagi penampilan dilakukan di mana saja, termasuk di jalanan atau di halaman rumah orang, sehingga penonton bisa membaur (dengan pemain). Ide baru tentang pagelaran teater dengan cara ini kemudian menjamur di kota-kota besar di India. IPTA Calcutta menjadi salah satu yang terdepan—Utpal Dutt, Shambu Mitra, dan Tripti Mitra adalah contoh mencolok dari aktor dan sutradara berbakat. Sama halnya IPTA Bombay yang biasa menggali cerita rakyat dari tradisi teater Marathi, memungut tamasha dan pawada sebagai bentuk ekspresi seni, maka para seniman Bengali memanfaatkan jatra, teater rakyat daerah mereka, sebagai medium.

Seiring sejalan dengan masuknya India di babak akhir perjuangan kemerdekaanya, tema lagu dan lakon biasanya radikal dan berorientasi kiri, yang menginpirasi dan menyatukan kami untuk ambil bagian. Bergabung dengan IPTA tak lama setelah tiba di Bombay pada 1945, saya mengambil peran aktif dalam lakon-lakon tersebut. Pada 1947, saat Pemerintahan Sementara menunjuk Jawaharlal Nehru sebagai wakil presiden, beberapa cabang IPTA menderita pelarangan, sementara beberapa jenis lakon kena sensor, dan para aktornya diperintahkan untuk ditangkap. Aku yang saat itu dinominasikan sebagai vice presiden IPTA dengan bodohnya menulis sebuah surat yang bernada pongah kepada Pandit Nehru: “Aku menulis kepada Anda sebagai sesama vice presiden…” sembari menjelaskan kepadanya kekerasan yang kami terima dan meminta ia menjadi pelerai. Bayangkan betapa lancangnya! Ia kemudian membalas dengan sebuah surat yang sangat sopan, menyatakan bahwa ia tak tahu-menahu dengan kekerasan tersebut dan akan meninjau apa yang bisa dilakukannya untuk mengatasi hal itu. Dan tentu saja, setelah beberapa waktu, gangguan terhadap kegiatan kami pun berhenti.

Logo IPTA dalam sebuah prangko India tahun 1994

Secara bertahap, impak dari IPTA meluruh. Boleh jadi karena beberapa senimannya kemudian menjadi artis populer di perfilman India dan tak lagi memiliki gairah untuk mengabdikan waktunya tanpa imbalan yang cukup. Bisa juga beberapa dari mereka merasa bahwa organisasi ini telah dipengaruhi oleh Partai Komunis India, dan karena mereka memiliki pilihan politik yang berbeda mereka meninggalkan IPTA. Atau, mungkin, sebab negara ini sudah merdeka, dan kaum imperialis sudah diusir, maka dianggap tak diperlukan lagi sebuah gerakan.

Menurut hematku, dua capaian gemilang dari IPTA pada periode tersebut adalah adanya Cultural Squad dan sebuah film berjudul Dharti ke Lal (Anak-anak Bumi). Film itu bersinggungan dengan Kelaparan Bengal, dan ditulis serta disutradarai oleh K.A. Abbas, dengan jajaran pemain dan teknisi yang luar biasa, yang kesemuanya adalah anggota IPTA. Cultural Squad adalah serombongan penari dan musisi, bermarkas di sebuah bangunan yang reyot di pinggiran kota Andheri, yang berkeliling membuat pagelaran di seluruh India dalam tarian balet yang indah berjudul Discovery of India, diambil dari judul buku Jawaharlal Nehru. Pada 1946, P.C. Joshi, sekretaris Partai Komunis, memintaku untuk menangani rombongan ini, namun aku menolak karena aku tidak mungkin bisa bekerja penuh sementara komitmen utamaku kuberikan kepada Prithvi Theatre.

***

Dari sudut pandang keluargaku, idealnya aku tetap di rumah, merawat suami dan anak-anak. Karena kami punya inang dan pembantu, aku bisa mengatur rumah dengan cukup baik jika aku sedang di rumah. Namun, keluarga jadi kalang kabut ketika tur kami dimulai, dan Kameshwar (suamiku) sama sekali tidak sedang dengan kondisi ini. Ujung-ujungnya, rumah tangga jadi terus-terusan tegang. Karena karirku di atas segalanya, aku merawat anak-anak sebisaku, mengawasi mereka dan menemaniku kapan pun aku bisa. Namun, aku tetap pergi ikut tur, kecuali saat aku hendak melahirkan anakku yang kedua, atau jika aku mesti syuting atau menjadi pengatur tari di sebuah film. Tentu saja ada sisi lainnya: ketakhadiran membuat cinta jadi menggebu-gebu! Kapan pun aku kembali ke rumah, bisa berkumpul kembali menjadi sangat luar biasa.

Untuk empat belas tahun ke depannya, hidupku hanya untuk akting. Aku seperti pembuat gerabah yang mengaduk lempung kasar menjadi sesuatu yang jelas bentuknya. Banyak keangkuhan yang berkurang di periode ini. Sebabnya adalah Prithviraj. Alih-alih mengajari, ia lebih banyak berbagi anekdot dan cerita. Tampilannya apa adanya serta memberi teladan tentang seseorang yang telah belajar bagaimana menjalani hidup. Bersama (kelompok teater pimpinan) Uday Shankar, aku diperlakukan sebagai bintang, senantiasa bepergian dengan tiket kelas satu di India, menginap di hotel terbaik. Semua itu berakhir ketika aku bergabung dengan Prithvi Theatres. Prithviraj bepergian bersama kelompok teaternya di kelas tiga, menyatu dengan anggotanya. Meskipun faktanya ia punya kartu pas kelas satu sebagai seorang anggota parlemen, ia tetap saja bepergian bersama kami. Semua makanan dimasak bersama, dan ia makan apa yang kami makan. Kami semua tidur di lantai asrama ketika kami sedang tur, atau di ruangan di atas teater yang disewa, atau rumah inap. Aku mulai menghargai hal-hal macam itu dan berpikir, luar biasa, inilah cara hidup sejati.

Penyesuaian lain juga terjadi. Aku rasa aku punya pandangan sendiri soal teater dan drama, meskipun aku cuma orang bodoh. Dari banyak konsep atau teori yang telah aku geluti, aku kurang sepakat dengan panjangnya sebuah naskah. Aku pikir beberapa naskah terlalu panjang. Berimprovisasi okelah, dan improf dialog kami sudah menjadi bagian dari naskah. Namun, kadang aku merasa Prithviraj mengolornya jadi terlalu panjang, sehingga naskah yang seharusnya dua jam bisa sampai empat jam! Keberatanku soal waktu jadi masukan bagi grup, meskipun beberapa hal tetap tak ada perubahan.

Soal Prithvi dan usahanya yang luar biasa dalam menjaga rombongan teaternya tetap hidup, nyaris seorang diri, dalam 16 tahun, layak dibikin buku sendiri. Karyanya menginspirasiku menulis banyak artikel di majalah pada periode itu, sementara karakternya yang hebat mengajari kami tidak hanya soal akting tapi juga soal hidup. Tak ada manusia sempurna—jika di sana memang ada Tuhan. Namun, aku belum lagi menemukan ada seseorang yang punya atribut ilahiyah namun pada saat yang sama tetap jadi manusia biasa, yang menyenangkan, rendah hati, tulus, tapi juga seteguh karang, baik secara fisik maupun batin.

***

Bibit kiprah Prithviraj Kapoor sudah ditanam di sebuah desa kecil bernama Samundri, di Distrik Lyallpur, Punjab. Prithvi Nath muda, cucu dari seorang tuan tanah Hindu Pathan, mencerap kisah-kisah dari epos Ramayana dan Mahabharata di antara kandang-kandang kerbau. Sebagian besar dari kita boleh jadi juga mengalami hal-hal macam itu, suka tampil di depan sanak-famili atau teman-teman, namun berapa yang bisa menjadi seorang Natya Ratna (Raja Seni Drama) dan meraih gelar dan tropi tertinggi sebagai seorang seniman India, Padma Bhushan? Sang kakek, Diwan Saheb, adalah seorang yang sangat berdisiplin, menanamkan nilai-nilai demokrasi dalam diri keluarga dan anak-cucunya, juga kepada seluruh warganya secara umum. Setiap malam, Prithvi kecil harus membersihkan dan menyalakan lampu di seluruh area rumah dan tanahnya. Ia biasa saling memiting leher dengan seorang anak jongos ketika main kabbadi di ladang. Ini adalah fondasi kecintaannya kepada alam terbuka dan olahraga, dan tertanam di jiwa pemuda itu bahwa seluruh manusia sama di depan Tuhan. Lalu ia pergi belajar ke kampus di Peshawar dan Lahore, di mana ia selalu menjadi sasaran utama kebencian antar-kelompok. Cintanya yang terbesar adalah teater, dan ia mencanangkan diri untuk melahap setiap tahap pelajaran puisi Urdu dan Hindi, untuk memperkuat memorinya dan menyempurnakan diksinya. Ramping dan luar biasa tampan, membuatnya selalu didapuk untuk peran perempuan, sesuatu yang tak mungkin dibayangkan jika melihatnya belakangan, manakala tubuh dan bentuk badannya telah terbentuk sepenuhnya.

Kontaknya dengan pribadi seperti Mrs. Nora Richards, istri dari kepala sekolah, memupuk mimpinya untuk punya grup teater sendiri. Mrs. Nora membimbingnya masuk ke dunia lakon Barat, dan selalu mendukungnya dalam hal akting. Perempuan penting ini kemudian memilih hidup menyendiri di rumahnya di Kangra Valley, namun ia selalu bersamangat mengikuti apa yang dilakukan Prithviraj, dan tentu saja itu semua terwujud di teater di India maupun dunia.

Sosok lain yang memberi bimbingan Prithvi adalah guru tuanya, Professor Jai Dayal dari Edwards College, Peshawar, yang menggemblengnya menjadi aktor andal, mengasah berbagai bakatnya, dan menolongnya memilih karir. Tak mengherankan, Jai Dayal menjadi orang paling bahagia di dunia ketika Prithvi Theatres diluncurkan dan murid favoritnya mendapatkan pengakuan nasional. Di bukunya, I Go South with Prithvi Theatres, Jai Dayal menulis, “Aku punya harapan hadirnya seorang manajer-aktor yang membawa revolusi pemikiran bagi khalayak dengan lakon-lakon dan aktingnya; seseorang yang menyajikan panggung sebagai kaca benggala bagi penonton untuk berkaca; seseorang yang punya keberanian untuk berkata kepada penonton: ‘Itulah DIRIMU!’ Orang macam itulah yang kuimpikan. Dan itu kutemukan pada diri Prithvi.”

Prithviraj_Kapoor

Setelah lulus dari Lahore, Prithviraj masuk ke dunia film dengan membawa serta istrinya yang masih belia, Rama, ke Calcutta. Meskipun kemampuan aktingnya tak perlu dipertanyakan lagi, itu adalah perjuangan yang terjal. Film-film saat itu dibuat dalam dua versi, yaitu dalam bahasa Bengali untuk daerah Bengal dan dalam bahasa Hindi untuk distribusi ke seluruh India. Tak terkecuali, untuk versi regional, seorang aktor Bengali akan menggantikan Prithvi. Boleh jadi karena terlalu kritis dengan sutradara di Bengal dalam mengekspresikan ide-idenya sendiri dalam hal seni peran, maka setelah membuat beberapa film yang patut dikenang, ia pun meninggalkan Calcutta. Ia mengisi lowongan di kelompok teaternya Grant Anderson, seorang manajer-sutradara Ingris yang berkeliling India dengan grup kecilnya, beranggotakan aktor-aktor India, yang biasa menampilkan naskah-naskah Shakespeare dan (George Bernard) Shaw. Pengalaman ini memberi Prithvi cita-rasa hidup dalam rombongan tur, meskipun tak jarang terjadi ia pergi dengan tanpa makanan yang cukup sebab uang hasil penjualan tiket sangat rendah.

Setelah berkeliling ke banyak kota, Grant Anderson akhirnya membubarkan kelompoknya di Hyderabad, dan Prithvi pergi ke Bombay untuk mengadu peruntungannya di sana. Ia memulai dari nol. Ia ikut main film sebagai figuran, namun segera dikenali sosok menonjolnya oleh Ermeline, sripanggung dari perusahaan Ranjit Talkies. Ermeline meminta kepada pemilik sekaligus produser Ranjit Talkies, Seth Ardeshar, untuk mengizinkan cowok ganteng itu bermain bersamanya. Dari situlah namanya dikenal dan membintangi satu film sukses ke film sukses lainnya, dengan puncak kepopulerannya saat ia berperan di Sikander (Iskandar Agung). Meskipun selalu mencintai panggung dan memimpikan punya gedung teater sendiri, ia tak pernah merencanakannya. Tak akan lari gunung dikejar. Ia bilang, “Alam akan menentukan segalanya di saat yang tepat.” Nantinya, ia berusaha keras mewujudkan hal itu ketika seorang teman penulis datang kepadanya dalam keadaan kesusahan. Ia telah menulis sebuah naskah berjudul Shakuntala, dalam Hindi, namun sutradara yang menunjuknya menolak naskah tersebut. Prithvi berkata bahwa ia akan memproduksi sendiri naskah itu dan membayar Betabji, sang penulis, seribu rupee sebagai imbalannya.

***

Maka, terjadilah apa yang terjadi. Tanpa persiapan sebelumnya, Prithvi Theatres berdiri pada 15 Januari 1944. Aktor, aktris, penari, musisi, penyanyi, tukang rias, penjahit, dan tukang kayu mengabungkan diri dalam rombongan ini. Karena Prithvi tak bisa bilang tidak, mereka semua disambutnya dengan tangan terbuka, sampai terkumpullah sekitar 60 orang. Latihan untuk lakon itu pun dimulai, yang ditangani oleh asisten sutradara, mengingat Prithvi sibuk dengan komitmen filmnya. Enam bulan kemudian, ketika Uzra Mumtaz ditemukan memainkan tokoh Zubeida dalam lakon karya Ahmad Abbas, salah seorang tokoh dari IPTA, sang pemeran tokoh utama perempuan akhirnya ditemukan.

Penampilan pertama Shakuntala pada 9 Maret 1945 berujung kerugian finansial mendekati 1 lakh rupee. Namun, untuk merayakan pertunjukan pertama ini, Prithvi memberikan bonus dua bulan gaji kepada seluruh pemain dan kru dengan uang dari sakunya sendiri. Seluruh penghasilan yang didapatkannya dari bermain film dilimpah untuk teater. “Selanjutnya apa?” adalah pertanyaannya. Lakon Sanskrit itu menurutnya terlalu panjang dan tak praktis untuk dipanggungkan, lepas dari betapa indahnya bahasanya serta betapa lengkapnya karakter tokoh-tokohnya. Naskah yang lebih modern karya Agha Hashar, yang sebagian besar merupakan hasil adaptasi dari naskah klasik Barat, lebih tahan lama dan bisa diterima di kalangan penonton teater kontemporer India. Maka, ia kemudian memutuskan untuk membuat lakon baru untuk teaternya.

Bekerja bersama para penulis, Prithviraj mencurahkan semua idenya, alur, dan semua pengalamannya. Lakon itu mestilah dimengerti oleh seluruh orang India dan secara esensial punya tema keindiaan. Gelora nasionalismenya mengahsilkan sebuah lakon yang berbentuk maklumat. Deewar dipentaskan pertama kalinya pada 9 Agustus 1945, mengacu kepada Partisi (pembagian) India yang akan segera terjadi. Tema alegoris lakon itu menggambarkan sebuah tembok permusuhan antara dua saudara yang dibikin oleh seorang sundal dari negeri asing. Ia datang untuk merusak kerukunan dan rasa saling percaya dua bersaudara tersebut. Ia memainkan perasaan kedua bersaudara tersebut, sampai mereka tak lagi tahan untuk tinggal dalam satu rumah. Pertengkaran yang terjadi sehari-hari itu akhirnya mencapai puncaknya ketika keduanya membagi rumah itu menjadi dua dengan membangun tembok di antaranya. Di adegan terakhir, perlawanan sekelompok petani dan perempuan dari seluruh desa berhasil merobohkan tembok kebencian tersebut, sementara dua saudara akhirnya menyadari kekhilafannya dan rukun kembali dengan bahagia, sekaligus membiarkan si penyebar fitnah tetap tinggal, bukan sebagai musuh tapi sebagai teman. Sayangnya, kenyataan tak terjadi seperti di akhir lakon. Tembok itu jadi bangunan yang kokoh. Dialog antara dua bersaudara dan sang sundal itu, khususnya, adalah terjemahan yang nyaris persis dengan pidato dari T.B. Macaulay, Gandhiji, dan Mohammed Ali Jinnah.

Ketika aku menonton pertama kalinya lakon itu, aktris muda berbakat Damayanti Sahni memainkan si sundal. Namun, gadis berwajah menarik ini segera menarik minat dunia film. Aku yang saat itu didapuk sebagai sutradara tari kemudian ditawari untuk memainkan tokoh tersebut, tokoh yang kemudian aku mainkan sampai menjelang akhir pengabdianku dengan kelompok teater tersebut.

Selanjutnya, kelompok teater ini kemudian manggung di Royal Opera House, sebuah bioskop dengan panggung yang besar. Namun, pagelaran kami hanya diizinkan dimainkan di siang hari, atau saat hari libur atau akhir pekan, sebab bioskop dipakai untuk penayangan film pada sore dan malamnya. Secara gradual jadwal kerja kami disusun, mulai dari pertemuan harian di pagi hari, diawali pada pukul 10 dengan satu jam berisi latihan vokal dan menyanyi, satu jam berlatih menari, dan satu jam untuk pelajaran bahasa Hindi dan Urdu.

Kami semua memanggil Prithvi ‘Papaji’, yang artinya kakak. Kalau ia tidak sedang sibuk syuting film, ia akan menangani sendiri kelas latihan vokal. Kalau tidak, Ram Gangoli, sang sutradara musik, akan melatih lagu-lagu dari berbagai naskah bersama seluruh pemain. Kelas menari aku yang mengurus: setengah jam pelemasan dan pengenalan komposisi, sisanya adalah latihan untuk keperluan lakon yang akan dimainkan atau sekadar memastikan ketepatan tampilan panggung para pemain. Setelah bagian permulaan ini, kami baru melakukan latihan naskah sekitar dua jam.

Sebelum latihan dimulai, setiap naskah akan dibacakan kepada seluruh pemain dan kru, untuk dimintakan saran dan kritik. Kecuali Shakuntala, semua naskah diawali dari ide Prithviraj, sebagian didiktekan, kadang ditulisnya sendiri, dan sebagian besar adalah dalam bentuk dialog spontan Prithvi yang kemudian disempurnakan. Semua naskah itu hasil karyanya, produk imajinasinya, suara dari ratapannya atas ketidakadilan dan kepapaan yang diderita tanah airnya, dan ia menunjukkan jalan kebangkitan menuju masa depan yang gilang-gemilang. Tema-tema naskahnya tidak rumit, sebagian besar ditulis dalam bahasa Hindustani, sebuah kombinasi sederhana dari bahasa Hindi dan Urdu yang bisa dimengerti oleh seluruh orang di India Utara. Gayanya alami, dengan tekukan melodrama di klimaknya.

Setelah sangat sukses dengan Deewar di Bombay, kami kemudian menggarap naskah ini dan Shakuntala dalam tur ke beberapa kota tetangga. Kemana pun pergi, kami menciptakan sensasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Membawa serta alat masak-memasak dan perabot rumah tangga, kami menetap di rumah-rumah sewa, sementara anak-anak beserta emban pengasuhnya dibawa serta bersama ibunya. Saat libur sekolah, anak-anak sekolah bahkan bergabung dengan rombongan. Maka, tak aneh, anakku Kiran selalu ambil bagian di nyaris setiap pementasan manakala ia ikut tur bersamaku. Satu tur diikuti tur berikutnya, dan tahun-tahun pun berganti, dan kami mengumpulkan remah-remah kemanusiaan dalam lingkaran ini layaknya sebuah bola salju raksasa… Penyair, penulis, bromocorah, atau bahkan orang yang sekadar iseng, semuanya diwadahi.

Yang coba aku tularkan dalam rombongan ini adalah profesionalisme yang aku pelajari dari Uday Shankar: ketepatan waktu, kesungguhan tata rias, dan latihan sebelum pementasan. Sebagai rombongan teater, secara alami kami tidak punya jenis tari atau gerakan pelemasan tertentu sebelum pertunjukan, namun Prithviraj mengadakan kelas tari reguler yang rutin. Maka, kemana pun kami pergi ke tempat baru, kami semua berkumpul di waktu yang sudah ditentukan pada pagi hari setelah kami mandi dana sarapan, dan dimulai dengan kelas menari yang kutangani. Kelas bahasa Hindu dan Urdu kemudian mengikuti—sebuah nilai tambah yang sangat bagus untuk melatih kesempurnaan diksi dan pengucapan kami. Kadang juga ada kelas Sanskrit (yang di situ aku buruk sekali). Meskipun bahasa Urduku kurang bagus saat itu, belakangan kemudian menjadi lebih baik.

Kelas bahasa kami dipegang oleh seorang sarjana keren bernama Manik Kapoor, yang menguasai bahasa Hindi dan Urdu, di samping Inggris. Tulisan laporannya tentang setiap pementasan dan perjalanan kami memberi kami pengetahuan terhadap semua naskah yang telah dimainkan, siapa aktor utamanya dan siapa pemain pembantunya, di mana tampilnya, berapa kali kami tampil, dan berapa kota yang telah kami singgahi dalam setahun. Catatan ini dibuat dalam sebuah kronologi oleh seorang aktor bernama Sajjan, yang dipersembahkan kepada Prithviraj untuk hadiah ulang tahun ke-60-nya. Satu punya satu kopinya.

 

* Diterjemahkan dari Zohra Segal, ‘Theatre and Activism in the 1940s’, dalam Crossing Boundaries (Geeti Sen, ed.), Orient Longman, 1997.

**Zohra Segal (1912-2014) adalah seorang aktris Bollywood.

Iklan
Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 2)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Lelaki Pemalu dari Allahabad

Bagi seseorang yang akan dikenal sebagai si pemuda pemarah se-India, latar belakang Amitabh Bachchan dan masa pertumbuhannya menyumbang sangat kecil bagi munculnya amarah yang ditampilkannya di layar. Saat remaja belia ia terlalu budiman, jenis remaja India yang tak dikehendaki oleh Subhas Bose (Bapak Tentara Nasional India itu). Meski demikian, jika mengaca kepada saat kelahirannya, ia hampir-hampir akan dinamai Inquilab (revolusi). Sebabnya, ia lahir pada 11 Oktober 1942, saat India tengah giat-giatnya berada dalam gerakan Quit India, gerakan keempat dan terakhir yang digalakkan Mahatma Gandhi untuk memerdekakan India dari jajahan Inggris. Inggris menghalau gerakan itu dengan keras, dan karena itulah ayahnya, Harivanshrai Bachchan, ingin memanggil anaknya Inqilab. Namun, seorang penyair perempuan, Sumitra Nandan Pant, mengusulkan nama Amitabh, yang merupakan hasil penggabungan dua kata, Amit dan Abha, dan ia menerimanya. Banyak temannya yang masih memanggilnya Amit, yang berarti Terang yang Tak Berkesudahan.

Dilihat dari banyak segi, Amitabh Bachchan juga lahir di lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya kekuasaan di India segera setelah merdeka. Kota kelahirannya, Allahabad, adalah juga kota keluarga Nehru, dan kedua orangtuanya, Teji (ibunya) dan Harivanshrai (ayahnya), sama-sama nasionalis yang bersemangat. Amitabh menganggap dirinya sangat tipikal orang Allahabad, kota yang dibentuk dari campuran yang kuat antara kebudayaan Hindu dan Islam, dan sebuah kota yang sangat dipengaruhi oleh keluarga Nehru—Nirad Chaudhuri berpendapat, Nehru adalah orang yang jauh lebih dipengaruhi budaya Islam dibanding budaya Hindu.

Keluarga Bachchan juga punya hubungan baik dengan penguasa Bollywood yang tengah naik daun. Keluarga itu berkarib dengan keluarga Kapoor. Harvanshrai biasanya datang ke pertunjukan panggung Prithviraj (Kapoor), lalu di belakang panggung ia akan membacakan syair-syairnya yang disukai Prithviraj. Namun, ketika Amitabh datang ke Bombay pada 1969 untuk mencari kerja, ia tak datang ke R.K. Studios (studio milik Raj Kapoor, anak Prithviraj—penerj.). Ia berusaha dan sukses jadi bintang tanpa “klik” itu, tak seperti kebanyakan orang India lakukan.

Amitabh tumbuh di keluarga yang disebutnya bernuansa campuran Timur dan Barat. Ayahnya adalah seorang penyair, penulis, dan orang yang dihormati di kancah kesusastraan Hindi, sementara ibunya berasal dari keluarga yang disebutnya kebarat-baratan. Bapak dari ibunya disebut punya bar di London, sementara sang ibu dididik di sekolah kesusteran dan memiliki seorang pengasuh bule.

Amitabh dibesarkan dengan ketat, hal yang menjelaskan kenapa ia jadi seorang pemalu dan punya persoalan dengan hal-hal sepele, seperti masuk restoran seorang diri. Sifat pemalunya ini mengganggunya pada masa-masa awal ia masih jadi aktor yang belum terkenal. Pada suatu waktu, ia punya janji dengan aktor Manoj Kumar untuk satu pekerjaan, dan Kumar memintanya untuk datang ke Studio Filmistan, tempat ia sedang syuting. Tiap hari selama seminggu Bachchan datang ke studio itu hanya untuk celingak-celinguk kikuk di depan gerbang, tak berani masuk karena malu. Yang mengejutkan, bahkan setelah ia berstatus superstar, setelah bertahun-tahun di dunia perfilman dan melakukan berbagai program yang disiarkan secara langsung, ia masih mengaku tetap saja amat pemalu dan introvert, sifat bawaan yang sering disalahartikan sebagai lagak sombong. Boleh jadi, karena sifat malu-malunya ini, dalam wawancaranya dengan Khalid Muhammed yang direkam pada 2002, ia bahkan masih bilang: “Aku dari dulu tetaplah aktor medioker. Percaya atau tidak, di setiap film, di setiap adegan, aku ngoyo. Aku harus selalu berusaha untuk lebih peka dan lebih cemerlang. Kami benci jadi medioker.”

Keluarganya tak benar-benar kaya: Bachchan senior berpenghasilan 500 rupe sebulan. Mereka tak punya peti es atau kipas angin gantung, sehingga kalau hawa panas India Utara sedang ganas-ganasnya ibunya akan menyiram lantai rumah untuk membuat ruangan lebih sejuk. Sebelum mereka punya kipas meja reyot, sang ibu akan meletakkan es batu untuk mengatasi rasa sumuk di sore hari.

Bachchan mengingat bahwa tak banyak anggaran untuk hiburan, meskipun kedua orangtuanya jelas-jelas mengarahkan anak-anaknya untuk memperoleh hiburan yang bermanfaat. Film cinta pertama yang ditonton Bachchan adalah kisah cinta Laurel and Hardy, sementara film Hindi pertamanya adalah Jagriti (1954) karya sutradara Satyen Bose, sebuah film dengan nada nasinalisme yang kuat, yang mengingatkan kepada para pemuda-pemudi India untuk memikirkan negara dan mengenang kejayaannya. Lebih belakangan, ia memuja akting Montgomery Clift dalam A Place in The Sun, juga Marlon Brando di hampir semua filmnya, khususnya The Wild One. Ia tak akan tidur semalaman jika habis menonton Limelight-nya Charlie Chaplin, film yang musik latarnya menghantuinya dalam waktu lama.

Persahabatan keluarga itu dengan keluarga Nehru juga membuat Bachchan mendapat akses (hiburan) istimewa. Ia dan keluarganya akan diundang apabila ada pemutaran film di Rashtrapati Bhavan, Istana Negara. Di sana ia bisa menonton film Cekoslowakia, Polandia, atau film Rusia, meskipun pesan-pesan anti-perang dari film-film itu tidak cocok dengannya. Ia memang senantiasa merasa bahwa tugas sinema bukanlah untuk berkotbah, tapi menghibur.

Pada 1956, setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Allahabad, Bachchan berangkat ke sekolah asrama, Sherwood College, di wilayah perbukitan Nainital. Ini adalah sekolah milik misionaris yang dikepalai Pendeta R.C. Llewwllyn. Agak aneh sebenarnya keluarga Bachchan bisa menyekolahkan anaknya di sekolah asrama. Ini berkat bapaknya pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Sebelumnya, sang ayah berangkat ke Inggris untuk menempuh PhD, yang disponsori oleh Nehru. Namun, ketika kembali ke kampus Allahabad University, tempat ia mengajar Sastra Inggris, ia justru mendapati gajinya dikurangi. Karena gusar, ia keluar dari pekerjaannya. Nehru kemudian memberinya pekerjaan sebagai Kepala Divisi Bahasa Hindi di Kementerian Luar Negeri (pada masa Nehru, Perdana Menteri juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri). Ini artinya keluarga tersebut mesti pindah ke Delhi, memperoleh penghasilan lebih baik, dan Amitabh pun bisa masuk ke sekolah asrama.

Di sekolah, ia menunjukkan kecakapan di bidang sains, sementara, meski tidak jelek, ia bosan dengan pelajaran seni. Oleh karena itu, ia bahkan bercita-cita menjadi seorang saintis. Meski begitu, ia adalah anggota aktif pementasan drama, yang dibimbing oleh orang Inggris bernama Mr. Berry. Untuk penampilannya sebagai Mayor di lakon Inspector General karya Gogol, ia memenangkan Kendall Cup, piala yang namanya mengacu kepada Geoffrey Kendall, ayah dari Jennifer (istri superstar Raj Kapoor) dan Felicity, yang memimpin rombongan teaternya berkeliling India, mementaskan drama-drama Shakespeare, terutama di sekolah-sekolah asrama. Kendall sendirilah yang memberikan piala itu kepada Amitabh. Amitabh selanjutnya mengasah bakat teaternya di Kirorimal College di Delhi lewat kelompok teaternya, “The Players”.

Walaupun memilih jalur sains, nilai akademiknya cuma di angka rata-rata. Ia hanya memperoleh izajah kelas dua ketika lulus pada 1962. Lalu ia merantau beberapa tahun di Calcutta, bekerja sebagai boxwallah, istilah India untuk menyebut orang yang bekerja mengatur agensi-agensi yang didirikan penjajah Inggris dan yang mengontrol bermacam perusahaan.

Jelas itu jauh dari awal yang cemerlang. Ia tidak lulus dengan nilai bagus, dan seperti yang kemudian dituturkannya: “Aku ambil tawaran yang kudapat, dan itu adalah divisi batubara dari rumah agensi bernama Bird and Co. Aku kerja dua tahun di sana sebelum pindah ke perusahaan bongkar-muat, Blacker dan Co.” Gajinya lebih baik, ia bisa beli mobil, sebuah Morris Minor hitam, yang kemudian ditukar yang lebih besar lagi, Standard Herald. Gaji penuh pertamanya 480 rupe, yang habis untuk membayar sewa kamar 300 rupe, kamar yang dibaginya dengan delapan orang di Russell Street, jalan utama di pusat Calcutta. Bird and Co menyediakan makan siang gratis, sementara makan malam didapat Bachchan dari sembarang tempat di pinggiran-pinggiran jalan Calcutta. “Perjalanan hidup yang biasa, sangat medioker,” katanya.

Namun, Calcutta memberinya kesempatan lebih di bidang drama amatir. Naskah-naskah Sartre, Arthur Miller, Tennese Williams, Beckett, Shakespeare, Harold Pinter, semua dipentaskan. Bachchan pernah berperan sebagai Nick di Who;s Afraid of Virginia Wolf dan menjadi Casio untuk Othello. Bosnya, David Gilani, berpikir bahwa akting Bachchan punya standar tinggi.

Meski begitu, Bachchan mesti menanggung prasangka rasial yang masih menyelimuti Calcutta pada awal ‘60-an, satu setengah dekade setelah Inggris pergi. Ia bilang, “Ada dua grup teater di sana. Ada kelompok Calcutta Dramatic Society, yang merupakan kelompok teater milik orang Inggris dan beranggotakan para bule. Kelompok lainnya adalah The Amateurs, yang isinya orang India, kebanyakan anak-anak sekolahan. Jadi, di antara dua kelompok ini adalah diskriminasi warna kulit. Di klub renang juga masing sangat sedikit orang Indianya. Beberapa di antara kami adalah orang-orang yang pertama diterima sebagai anggota. Belakangan, tentu saja sudah ada kemajuan. Diskriminasi sudah berkurang.”

 

*Diterjemahkan dari Bollywood: A History, Mihir Bose (2006), khususnya Bab 15, “A Shy Man and His Use of Anger”.

Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya: Kemunculan Amitabh Bachchan dan Lahirnya Genre Angry Young Man di Bollywood (Bag. 1)

15jan_Amitabh-Bachchan-Deewar-still

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

Pada 15 Februari 1969, seorang seorang pemuda 27 tahun bertampang anggota gerombolan dengan tinggi badan yang tidak jamak bagi kebanyakan orang India, lebih khusus lagi bagi seorang aktor, datang ke Bombay dan memutuskan untuk masuk dunia film. Hari itu juga ia mendapatkan kesempatannya. Film tersebut jeblok, namun kesuksesan tak bisa menolaknya. Kesuksesan itu datang empat tahun kemudian bersama dengan sebuah film yang dipandang sebagai landaspacu perfilman yang baru, dan tak lama kemudian sang bintang tersebut merevolusi Bollywood. Anak muda itu adalah Amitabh Bachchan. Baca lebih lanjut

Standar