film dan agama, Film India dan Islam, Sejarah Film India, terjemahan

Islam dalam Film India (Bag. 6)

mughal

Oleh Rachel Dwyer; terj. Mahfud Ikhwan

Film Fantasi

Meskipun pada awalnya Hollywood-lah yang memulai genre film fantasi, yang seringkali berlatar Timur yang eksotik, sinema India juga didirikan di atas genre ini, yang memang sangat populer di teater Parsi. Genre jenis ini sangat disukai secara teatrikal dan memberi peluang adanya ruang bagi musik, atraksi ketangkasan, gebyar busana, kecanggihan bahasa, kehebohan gerak, dan tempik-sorak. Kisah-kisah macam itu adalah sedikit dari genre film India bercorak Islam yang berlatar di luar India, di sebuah tempat antah-berantah dan tak terpermanai indahnya, atau di sebuah negeri Islam yang dieksotikkan. The Thief of Baghdad (1924, std. Raoul Walsh, dibintangi Douglash Fairbanks, Jr.) adalah film (Hollywood) paling populer di dekade itu di India (RICC: 21), dan Keluarga Wadia, yang mengkopi kostum Fairbanks di The Mask of Zorro (1920, std. Fred Niblo) untuk penampilan Fearless Nadia, dengan senang hati menunjukkan kepada Fairbanks seantero studionya saat ia berkunjung ke India pada 1934 (Wenner 2005: 49).

Film jenis ini disebut dengan sebutan macam-macam, mulai dari film fantasi, film petualangan, hingga film 1001 Malam. Tapi, secara umum disebut sebagai film Mahomedan. Genre-genre film ini tak ada hubungannya sama sekali dengan Islam, selain bahwa ia berlatar dunia Islam, yang ditampilkan sebagai sebuah tempat yang menakjubkan, penuh petualangan, dan penuh eksotisme.

Hal ini berhutang kepada tradisi cerita yang kaya dari dunia Arab, seperti Kisah Seribu Satu Malam, juga dari kisah-kisah Persia Kuno, seperti Shahnahmeh. Mukhopadhyay (2004) menunjukkan bahwa kisah-kisah itu berbeda dibanding kisah-kisah Hindu Kuno dan cerita-cerita orang suci. Genre-genre ini berpijak pada kultur visual yang diperkaya oleh seni kromolitografi, mengingat genre film fantasi dibangun di atas gemerlap dan kemegahan yang berasosiasi dengan istana-istana bercorak Islam, yang diaduk dengan sejarah, yang mana kemodernan dan hal-hal tradisional bertambal sulam di tampilan pakaian dan pernak-pernik lainnya. Dongeng-dongeng Persia yang disebarkan oleh orang-orang keturunan Persia dan kalangan Muslim dan membawa mereka secara bersama-sama berbagi budaya Persia itulah yang kemudian ditambahi oleh penggubahan bebas bahasa-bahasa kuno, kostum yang eksotik, dan set-set yang senantiasa sangat-sangat “Timur”.

Pada era film bisu, genre ini bersandar pada eksotisme visual, pertunjukan ketangkasan, dan kisah yang seronok. Contoh awal (dari film jenis ini) termasuk Bulbul-e paristan (1926, dir. Fatima Begum; boleh jadi sutradara perempuan pertama di India). Tata suara memberi jenis film ini  dicirikan oleh tari dan lagu-lagu yang menggebu. Film-film pertama di era talkies (film bersuara) di India juga terdapat film jenis ini, termasuk di dalamnya Alam ara (1931, std. Ardeshir Irani) dan Shirin Farhad (1931, std. J.J. Madan), dan film-film favorite sepanjang masa seperti Indersabha (‘Istana Dewa Indra’, film bertema Hindu yang menunjukkan gaya bercorak Islam—lihat Hansen 2000), Yahudi ki ladki (‘Gadis Yahudi, yang berseting Roma kuno, dan sekali lagi ditampilkan dalam gaya bercorak Islam), dan Hatim Tai (nama tokoh dari “Kisah Seribu Satu Malam”) yang telah dibuat berkali-kali.

Film Sejarah

Salah satu jenis film paling tua di India adalah film sejarah, yang kepopulerannya seringkali dikaitkan dengan bangkitkan kesadaran gerakan nasionalis. Beberapa berlatar kejayaan India kuno, seringkali di era keemasan Kerajaan Maurya yang agung, hingga ke kisah-kisah kemunculan agama Buddha. Kerajaan Maratha adalah salah satu latar sejarah yang paling populer di film-film India awal, khususnya—tentu saja—di Sinema Marathi. Tilak sebelumnya telah dipopulerkan oleh Shivaji (yang dipuja itu), baik sebagai pahlawan maupun lambang dari nasionalisme orang Maharashtra, baik saat melawan Kerajaan Mughal maupun melawan Inggris. Ciri Hindu dari kerajaan ini merupakan inti dari film-film tersebut, sebab mereka memang mempromosikan dev-desh-dharam (‘Dewa-bangsa-agama’) di film macam Poona raided (1924, std. Mama Warekar), yang menampilkan perlawanan kerajaan Maratha atas serangan Aurangzeb atas kota Poona. Beberapa film tentang kaum Rajput (ningrat Hindu) menunjukkan gambaran orang Islam sebagai penakluk yang bengis, sementara perempuan Hindu menjalani satis (pengorbanan), seperti di film garapan Dhirendranath Ganguly, Kamaner Agun – Flames of the Flesh (1930), di mana ratu kerajaan Chittor membunuh dirinya sendiri untuk melepaskan diri dari Sultan Alauddin Khalji dari Delhi.

Salah satu film sejarah awal adalah film bisu Shiraz/Das Grbamal einer groszen Liebe (1928, std. Franz Osten), yang dibuat atas kerjasama Indo-Jerman di masa kolonial, yang menampilkan mise-en-scene bagi fantasi Oriental yang tipikal Hollywood saat itu. Putri Selima kehilangan kedua orangtuanya ketika kafilah mereka dibegal dan ia kemudian diasuh oleh Shiraz sang tukang gerabah. Ia kemudian ditawan dan dijual sebagai budak bagi Pangeran Khurram, yang belakangan menjadi Shah Jehan. Dalia yang dengki memfitnahnya ketika Selima terpergok berbicara dengan Shiraz, yang kemudian dihukum mati dengan diinjak gajah. Sebuah kalung kemudian mengungkap latar belakang terhormat Selima sebagai puteri raja. Ia pun menyelamatkan Shiraz dari hukuman mati dan di kelak kemudian hari ia menjadi Mumtaz Mahal. Ketika Puteri Selima meninggal, sang raja berusaha mencari rangcangan untuk makamnya. Dari ratusan rancangan yang dipersembahkan kepada raja, ia memilih rancangan yang dibuat seorang tua buta bernama Shiraz. Maka, jadilah makam tersebut sebagai monumen cinta dua orang pria. Belakangan ini, sebuah iklan kekinian mengatakan: “Pasar Budak dan Perbudakan, Intrik Purdah (keputren) dan Kedengkian Harem, Hidup dan Cinta yang Mati Seketika yang Mekar di antara Nafsu Membara” dalam sebuah “nuansa tak terpermanai dari keindahan dan kemegahan budaya Timur”.

Pada 1930-an, representasi kelompok menjadi sangat sensitif manakala ketegangan antarkomunitas keagamaan meningkat, dan film-film sejarah Islam hanya populer di antara umat Islam di belahan utara dan barat India. Pada Agustus 1933, Shaikh Sadiq dari Liga Muslim mengajukan tuntutan di Dewan Legislatif berkait “penyensoran film yang dianggap menyerang sentimen umat Islam”. Ia mempertanyakan tujuan dari para sutradara non-Muslim seperti Ezra Mir di filmnya yang berjudul Noor Jahan (1931) dalam menampilkan tema-tema Islam.

Beberapa film menampilkan dunia Islam di luar India manakala kalangan Muslim mulai peduli dengan wacana Pan-Islamisme melalui gerakan mendukung Khilafah, yang memiliki tujuan untuk membangkitkan kembali Kekhalifahan Turki usai kekalahan dari Inggria pada Perang Dunia I. Ghandi mengkombinasikan dukungannya terhadap gerakan ini dengan gerakan Non-kooperasi-nya. Dunia Islam macam ini dapat dilihat di film seperti Al Hilal (1935, std. Mehboob Khan), yang mana bahwa Al Hilal adalah juga sebuah nama jurnal radikal berbahasa Urdu yang dieditori oleh pendukung Khilafah sekaligus pemimpin Partai Kongres, Maulana Abul Kalam Azad (Mukhopadhyay 2004: 95). Juga di film Phool (1944, std. K. Asif), yang merupakan hasil adonan dari cerita sejarah, kisah sosial Muslim, dan fantasi.

Meski demikian, fim-film sejarah berseting Istana Mughal dibuat untuk mempromosikan persatuan nasional. Mereka menampilkan “Periode Kekuasan Kerajaan Muslim” sebagai sesuatu yang integral dengan sejarah India, seringkali menampilkan sebuah komposisi budaya religius sebagai sesuatu yang ideal untuk ditonjolkan. Salah satu yang paling populer dari film jenis ini adalah film garapan sutradara Sohrab Modi, Pukar (1939). Raja Jehangir menjatuhkan hukuman mati kepada seorang Rajput, Mangal Singh, yang telah membunuh bapak dan saudara Kanwar, perempuan yang dicintainya, karena membela diri. Kanwar telah menjaminkan hidupnya kepada sang Ratu, Nur Jehan. Ketika Nur Jehan secara tak sengaja membunuh seorang penatu dengan panahnya, ia harus menanggung utang nyawa kepada istri sang penatu. Sang Raja tak bisa menyalahkannya dan menjaminkan hidupnya untuk menyelamatkan sang Ratu. Istri penatu kemudian memaafkan sang Raja, dan sang Raja pun kemudian mengampuni Mangal.

Sukses film tersebut terletak pada gambarannya atas istana Mughal yang megah. Film dibuka dengan syut terhadap Taj Mahal dan sebuah slogan yang berbunyi “Kejayaan ini milik India”. Lalu disajikanlah gambaran istana khazanah busana yang indah, termasuk di dalamnya papan catur dari manusia yang terkenal itu dan elaborasi kekayaan bahasa yang oleh Iqbal Masud (t.t.) dikatakan menjadi peletak dasar gaya bahasa untuk film-film berikutnya. Penulis cerita, Kamal Amrohi, menggunakan gaya bahasa yang berbeda untuk tokoh-tokoh yang berbeda: Raja dan Ratu (dimainkan secara terpuji oleh Chandramohan dan Naseem Bano) menggunakan bahasa Urdu bergaya Parsi, para Rajput bicara bahasa Hindi tinggi, sementara kalangan kasta bawah menggunakan sejenis bahasa Hindi pasaran. Film ini dikenang karena idealisasinya atas pemerintahan yang adil-makmur, sementara hukum yang adil menunjukkan bahwa Hindu maupun Muslim memiliki kedudukan yang sama di depan hukum, namun pada saat yang sama juga menyerukan untuk mengakhiri hukuman mati, seruan yang mengungkit hukuman mati yang dijatuhkan kepada Shaheed Bhagat Singh pada 1939 (Mukhopadhyay 2004: 101).

Salah satu kisah paling disukai dari jenis film sejarah adalah cerita tentang Anarkali dan cintanya kepada Pangeran Salim (yang kemudian menjadi Raja Jehangir), putra dari raja Mughal paling agung, Akbar. Tak jelas benar apakah ia adalah sosok yang benar-benar ada dalam sejarah, namun Anarkali jelas-jelas adalah sosok yang melegenda. Kisahnya adalah kisah yang paling disukai di khazanah teater India, kemudian untuk pertama kalinya dijadikan film bisu pada 1928, yang dibuat oleh Great Eastern Corporation of Lahore, dengan judul The love of a Mogul prince, berdasar lakon yang ditulis Syed Imtiaz Ali Taj, berjudul Anarkali. Kemudian, The Imperial Film Compani of Bombay membuat versinya sendiri, yang dibintangi oleh Sulochana. Pada 1952 Filmistan membuat Anarkali, dengan Bina Rai dan Pradeep Kumar sebagai bintangnya. Namun, di antara semua, Mughal-e Azam garapan sutradara K. Asif-lah yang paling berkilau.

290816161731-mughaleazam

Mughal-e Azam berkisah tentang raja agung Mughal, Akbar (1556-1605). Pembuatan film ini sendiri adalah kisah yang luar biasa, karena dibuat lebih dari limabelas tahun, dengan pemeran yang sama sekali berubah (awalnya melibatkan Chandramohan [yang sebelumnya memainkan Jehangir di Pukar], Nargis, dan Sapru), penulis naskah yang berkali-kali berganti, dan lain sebagainya. Film ini menelan bajet paling besar di masanya, dengan 15 juta Rupee, yang dibelanjakan untuk kostum, set, dan pemain figuran. Mughal-e Azam cemerlang secara sinematografi, sebagian besar dalam hitam-putih, meski beberapa lagu diambil dalam gambar berwarna, termasuk di dalamnya lagu Anarkali yang paling menantang, ‘Pyar kiya to darna kya?’, yang disyut di Sheesh Mahal atau Istana Cermin. Film ini belakangan dibuat berwarna dengan teknologi komputer untuk menarik minat penonton baru, namun dihantam kritik meskipun pada hari-hari pertama pertunjukkan mengundang keingintahuan untuk menontonnya.

Kisahnya berkisar pada Anarkali (Madhubala), seorang gadis penari di Istana Mughal. Pangeran Salim (yang kemudian menjadi Raja Jehangir, diperankan oleh Dilip Kumar) jatuh cinta kepadanya, namun sang ayahanda, Raja Akbar (Prithviraj Kapoor) tak merestui kisah cinta ini. Salim kemudian memimpin pemberontakan melawan ayahnya sendiri, namun ia dapat dikalahkan dan dijatuhi hukuman mati. Anarkali menawarkan dirinya untuk mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan Salim dan ia pun dikubur hidup-hidup, meskipun Raja Akbar kemudian mengizinkannya untuk melarikan diri melalui lorong yang tidak diketahui oleh Pangeran Salim.

Mughal-e Azam bercerita tentang sejarah Mughal dalam konteks negara baru, yang ditekankan oleh suara pembawa cerita pada awal film dan menunjukkan situs-situs Islam di India, juga mengatakan bahwa film ini berkisah tentang sejarah keluarga alih-alih sejarah masyarakat. Film ini mengangkat tema yang populer di perfilman Hindi, yaitu perselisihan antara bapak dan anak, ketegangan antara tugas sosial dan cita-cita pribadi, dan pengorbanan perempuan. Mughal-e Azam mengelak dari persoalan relasi Hindu-Muslim, walaupun menyajikan keadilan kerajaan Mughal yang terkenal itu. Malahan, film ini menganjurkan toleransi beragama di dalam istana Mughal dengan menunjukkan bahwa Ratu Jodhabhai (Durga Khote) adalah seorang seorang Hindu, sementara Anarkali (yang Muslim) menyanyikan sebuah lagu pemujaan Hindu, ‘Mohe panghat pe’, dalam upacara hari besar Janmashtami (hari kelahiran Krishna). Pada saat yang sama Raja Akbar juga digambarkan ikut serta dalam upacara pengayun ayunan di situs (yang dipercaya) sebagai tempat Krishna kecil.

Mughal-e Azam menjadi lebih luar biasa lagi karena musik dari Naushad (dan lirik yang ditulis Shakeel Badayuni) dan, khususnya, dua lagu yang dinyanyikan oleh Bade Ghulam Ali Khan (‘Shubh din aayo’ dan ‘Prem jogan banke sundari piyo chali’).

Sebagian besar film-film sejarah ini biasanya bersentuhan dengan ide tentang sejarah India dari Partai Kongres, dan para pahlawan yang bisa dilihat pada buku Nehru, Discovery of India (1946), seperti Akbar, alih-alih dibanding pahlawan kalangan Muslim seperti Aurangzeb, Jengis Khan, dan Mahmud dari Ghazni.

Pada masa-masa belakangan terlihat kebangkitan kecil film-film berjenis sejarah, beberapa di antaranya berseting periode-periode yang berbeda. Misalnya masa Kerajaan Maurya (Asoka, 2001, std. Santosh Sivan, yang menggambarkan peralihannya kepada Buddhisme), atau periode kolonial (Lagaan, 2001, std. Ashutosh Gowariker; Mangal Pandey/The rising, 2005, std. Ketan Mehta) atau tentang Partisi (lihat di bagian selanjutnya). Sementara beberapa film terlalu kecil untuk dideteksi sebagai sebuah tren, ada satu film yang termasuk berseting istana Mughal, berjudul Taj Mahal: an eternal love story, 2005, std. Akbar Khan. Film sejarah biasanya hanya menampilkan kalangan istana dan ningrat Muslim, dan tak pernah menampilkan petani atau buruh Muslim. Tokoh jenis ini justru terlihat di bentuk lain film sejarah, yaitu film biduan.

(Bersambung…)

*Diterjemahkan tanpa izin dari Filming The Gods: Religion dan India Cinema oleh Rachel Dwyer (2006), khususnya dari Bab 3, ‘The Islamicate Film’.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s