aamir khan, film, film dan agama, Film India dan Religiositas, PK

Setelah Setahun Menonton ‘PK’: Tiga Hal yang Saya Ingat

anushka-sharma-pk

 

Oleh Mahfud Ikhwan

1/

Setahun lalu, seorang teman yang menonton film hanya dan hanya jika pemainnya cantik, untuk pertama kalinya bertanya kepada saya tentang film PK-nya Aamir Khan. Saat itu saya belum nonton, dan tentu saja belum satu hal pun bisa saya bagi tentang film itu kepada orang lain.

Ya, sejak Lagaan (2001) saya tidak pernah bisa melewatkan film-film baru Aamir, bahkan termasuk film yang hanya melibatkannya sebagai produser, meskipun kadang harus menunggu bertahun-tahun untuk bisa menontonnya. Perjumpaan dengan Mangal Pandey: The Rising (2005) dan Rang De Basanti (2006) misalnya, adalah usaha yang sangat memutusasakan. PK, karena kehebohan yang ditimbulkannya, dan tentunya karena orang-orang yang biasanya nonton sinetron tiba-tiba menjadi kritikus yang bersemangat karenanya, adalah film yang mudah didapatkan, sebagaimana dulu saya mendapatkan 3 Idiots. Tapi, ya.. seperti kebiasaan saya, setiap ada yang heboh, saya biasanya memilih menepi dulu, menonton lainnya dulu, nyinyir-nyinyir dulu. Setelah kepala menjadi lebih bersih, entah dari pengaruh kehebohan atau dari keinginan untuk melawannya, saya baru memutuskan menontonnya. Sayangnya, saya rasa, saat menonton PK, kepala saya tak benar-benar bersih-bersih amat. Buktinya, saya menghasilkan ulasan yang jika ditotal mencapai tak kurang dari 15 halaman, ditambah satu ulasan tambahan yang tidak jadi kelar.

2/

Setelah nyaris setahun menontonnya, atau tepat setahun setelah seorang teman menanyakan pendapat saya tentang PK, nyaris hanya tiga hal yang benar-benar saya ingat tentang film ini. Dan tiga hal itu kebetulan adalah hal-hal yang tidak begitu penting, bukan bagian dari alasan kenapa orang seperti Goenawan Mohamad (pakai “oe”) sampai ikut-ikutan mengulasnya.

1) Kata Hindi “baghwan” (tuhan). Di film-film India lain, setiap mendengar kata “baghwan”, saya biasanya tidak akan tahan untuk tidak membandingkannya dengan kata “begawan” dalam bahasa kita. Tapi, PK, dengan pesannya yang cenderung muluk tentang cara kita berkomunikasi dengan Tuhan, justru mengingatkan saya dengan kata lain yang kita punya, yang jika ditilik tampaknya tak memiliki hubungan, yaitu “bakwan”. Baghwan-nya PK, menurut saya, memiliki ciri yang sama atau tampak serupa dengan bakwan kita, yaitu memiliki sebutan berbeda-beda di tempat yang berbeda. “Bakwan”, perlu diketahui, hanya dikenal di Jogja dan sekitarnya, sementara di tempat saya namanya “ote-ote”, padahal di Malang orang-orang menyebutnya “weci”. Bisa lebih macam-macam lagi tentunya jika dilihat dari jenis dan rasanya, tergantung bikinan warung mana dan siapa yang buat. Ada yang pedas, ada yang manis, dan ada pula yang murni rasa micin atau bumbu instan. Ada yang terlalu banyak tepungnya, ada yang terlalu banyak minyaknya, ada yang terlalu banyak kobisnya. Macam-macam. Bukankah “baghwan”-nya PK juga begitu? Saya sih begitu, terserah kamu.

2) Bibir Tebal Anushka. Saya sangat menyukai Anushka di film pertamanya, Rab Ne Bana Di Jodi. Saya bahkan tetap menyukainya di film nggak jelas macam Jab Tak Hai Jan. Terutama karena bibir tipis dan senyum lebarnya. Bibir tipis? Ya, sampai ia muncul dengan bibir nyonyor di PK, ia dikenali oleh para penggemar film-film India macam saya karena bibir tipisnya. Karena itulah, bibir tebal ala JJ di PK itu menjadi mudah diingat, bahkan dibanding pesan-pesan moral film yang berat-berat itu. Dan bagaimana saya tidak ingat dengan bibir itu, sebab hampir pasti karena inilah pertanyaan teman saya tentang film ini diajukan, sebagaimana ia dulu bertanya tentang film-filmnya Vidya Balan.

Saya tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Sebagian besar menyangkanya melakukan operasi. Tapi lainnya menerima keterangannya, bahwa itu hanya hasil kerja make-up dan memontok bibir yang sedang ngetren. Tapi, apapun yang terjadi, besar massa bibirnya berbanding lurus dengan besarnya beban yang ditanggungnya di PK, entah karena ingin setimbang dengan Aamir yang umurnya separoh lebih banyak dibandingnya atau karena ingin mengubah imej tomboy yang memang melekat padanya di film-film sebelumnya. Dalam Rab Ne atau Jab Tak Hai Jan, ia tetap muncul dengan penampilannya yang biasa, karena ia memang berperan sesuai umurnya, yaitu menjadi cewek remaja yang berpasangan dengan pria paruh baya. Hal yang sama juga bisa ditemui di Matru Ki Bijle, karena di sana ia berpasangan dengan hero yang relatif sepantaran dengannya. Tapi apapun yang terjadi, dengan bibir macam apa saja, saya berdoa yang terbaik untuknya.

battery_

3) Joget Alien ala PK. Aamir tidak memperoleh nama besarnya di Bollywood karena kepandaiannya menari, tidak seperti Jeetendra, Govinda, Hritrik Roshan, dan belakangan Shahid Kapoor. Dari sekitar 25-an film Aamir yang pernah saya tonton, cara narinya ya begitu-begitu saja, dan mungkin karena itu malah menjadi khas. Meski begitu, ada beberapa tarian yang pernah dilakukannya begitu mudah diingat, dan karena itu ramai-ramai ditirukan. Dan kemudian menjadi trademarknya, hal yang bahkan tidak dimiliki Shah Rukh dan Salman.

Misalnya, tariannya dalam lagu “Aati Kya Khandala” (Ghulam, 1998). Tarian dengan saputangan, korek api, dan sapu lidi itu tidak saja mewabah dalam pesta-pesta di kehidupan nyata masyarakat India, tapi juga dikopi di banyak film bahkan oleh nama-nama besar lainnya macam Amitabh Bhachchan atau Shah Rukh Khan (cek di Kabhi Khushi Kabhi Gham) dan di beberapa film lainnya. Gerakan lainnya adalah tarian pemberontakan dalam lagu “Be A Rebel” (Rang De Basanti). Film ini nyaris tidak dikenal di Indonesia, entah kenapa, dan karena itu tariannya itu juga tak setenar “Aati Kya Khandala”. Tapi saya menemukan gerakan itu bertebaran di film-film India belakangan ini, terutama di film-film bertemakan anak muda. Saya merasa, joget ala alien idiot di PK tampaknya juga akan mengalami hal yang sama.

3/

Sampai di sini, boleh dikata, tak banyak hal urgen yang bisa saya kenang dari film Aamir tersebut. Saya tidak tahu, apakah Aamir sendiri memiliki kesan yang sama. Misalnya, yang tak banyak diekspos di sini, ide film ini cukup dekat dengan film OMG-Oh My God (2012), yang dibintangi dan diproduseri Akhsay Kumar, dan itu diakui Aamir. (Dan karena satu-dua alasan saya lebih menyukai film yang lebih dulu). Pada timeline situs The Hindu yang saya ikuti, hari-hari ini Aamir justru sedang merayakan 10 tahun Rang De Basanti, film yang tampaknya sangat dibanggakannya.

Jika ada berita yang masih mengaitkannya dengan PK, itu tampaknya adalah merebaknya kontroversi yang belakangan menyelimuti Aamir dan keluarganya. Sekitar akhir tahun lalu, Aamir merespon pembunuhan seorang muslim oleh massa Hindu akibat menyembelih sapi dengan mengatakan bahwa intoleransi tengah meningkat di India dan itu membuat diri dan keluarganya kuatir. Komentar ini menimbulkan kemarahan kalangan sayap kanan Hindu, terutama dari partai penguasa BJP. Belum lagi mengingat kedudukan Aamir yang merupakan duta wisata India.

Aamir segera dicopot dari posisi dutanya, dan ia dianggap menyerang pemerintah dan komunitas Hindu, dan karena itu hari-hari ini ia dalam posisi sebagai public enemy. Para pengkritiknya “mempersilakannya” untuk pindah ke Pakistan, sementara para koleganya sendiri mengingatkan bahwa tak mungkin sebuah bangsa yang tidak toleran membuat seorang muslim sepertinya menjadi bintang besar di sebuah negara mayoritas pemeluk Hindu. Tak kurang dari bintang yang sangat dihormati macam Anupham Kher, misalnya, mengingatkan bahwa film macam PK yang sangat kritis terhadap Hinduisme dan tetap menjadi film terlaris menunjukkan bahwa India tetaplah bangsa yang toleran. “Coba bikin PK versi Islam di negara Arab,” begitu kira-kira tantangan balik Kher.

Coba bikin PK versi Islam di Indonesia. Berani gak, Nung?

 

*untuk Budi Baskoro

Iklan
Standar
film, shah rukh khan

Film-film Shah Rukh Khan yang Sebaiknya Tak Terlewatkan Sebelum Anda Menonton ‘Dilwale’ dan Kemudian Kecewa

 

srk-nov1-26

Oleh Mahfud Ikhwan

1/

Sebulanan belakangan, ada nuansa nostalgis di kampung saya. Orang-orang sedang keranjingan tv kabel, dan membicarakan tayangan-tayangannya saat di warung kopi. Tentang tayangan sepakbola yang tak habis-habis, siaran langsung shalat lima waktu dari Mekah, film-film Barat yang katanya “rada hot”, dan tentu saja film dan lagu-lagu India. Untuk yang terakhir itulah nuansa nostalgis tersebut terasakan. Setelah bertahun-tahun film-film India di televisi hanya diisi oleh Shah Rukh Khan dan Shah Rukh Khan, atau Shah Rukh Khan, dan nyaris cuma dari film-film produksinya Yash Raj semata atau Yash Raj bekerjasama dengan Red Chili, kami bisa kembali menemukan wajah Anil Kapoor muda, Sanjay Dutt yang masih semampai dan penuh amarah, Aamir Khan yang masih imut, dan tentunya wajah-wajah perempuan pujaan di tahun 90-an macam Raveena Tandon, Sridevi, Urmilla Matondkar, Madhuri Dixit, Juhi Chawla, dst. Baca lebih lanjut

Standar