film, shah rukh khan, terjemahan, wawancara

Shah Rukh Khan: Aku Suka Menjual Mimpi*

Wawancara: Subhash K. Jha; Alihbahasa: Mahfud Ikhwan

khan- swades

Swades, 2004

Pengantar Penerjemah

Menonton, mencermati, dan kemudian menulis soal film India membuat saya tak mungkin bisa melewatkan orang satu ini: Shah Rukh Khan. Teman-teman yang mengenal saya dan kebiasaan saya mencap saya membenci King of Bollywood ini, tapi mana bisa begitu? Saya memang sulit menikmati film-filmnya di tahun-tahun belakangan, bahkan judul-judul tertentu sama sekali tak tertarik menontonnya — lebih-lebih setelah filmaker-filmaker alternatif semakin membanjiri Bollywood dengan cerita-cerita yang sulit dibayangkan Shah Rukh ambil bagian. Tapi orang ini benar-benar tak bisa diabaikan begitu saja.

Saya sama sekali tak bisa melepaskan diri darinya. Tanpa terencana, video-video klip lagu India koleksi saya sebagian besar berasal dari film-film si Rahul ini. Film-filmnya yang pernah saya sukai, terus dan terus saya tonton, dan semakin saya sukai. Saya selalu bersimpati ketika ia adalah bajingan pengecut yang remuk redam dipukuli si jagoan dalam Daar dan Anjaam (keduanya rilis 1994); goyangannya yang lucu dan potongan rambut gondesnya dalam Dewanaa (1992) dan Baazigar (1993) selalu saya tonton bareng teman-teman di desa, dan selalu diakhiri dengan tawa bahagia; kematiannya, dengan wajah berlumur darah, mulut hancur, penuh liur, juga dengan sebatang rokok yang bengkok, dan seulas senyum mengejek, yang jadi puncak dari 30 menit penampilannya dalam Shakti: The Power (2002) selalu saya putar berulang-ulang–very wah, Khan saab!; adegan pada lagu ‘Haule Haule’ dalam Rab Ne Bana Di Jodi (2008) adalah tariannya yang paling kikuk tapi, karena itu, merupakan salah satu koreografi terbaik yang pernah dihasilkan perfilman India. Saya menyukai Swades (2004) dan Chak De! India (2007) dan akan terus menontonnya, begitu juga dengan Billu (2009). Dan, setiap matanya mulai berkaca-kaca, yang biasanya didahuli oleh bibirnya yang gemetar, sialnya, saya seringkali gagal untuk tak menangis bersamanya– meskipun adegan itu muncul di film yang secara keseluruhan tak saya sukai. Sebuah tulisan tentang wawancara imajiner dengannya menghantui saya selama bertahun-tahun, meskipun tak kunjung saya tulis. Dan semakin dalam saya tenggelam dalam samudera film India, semakin saya sadari betapa ia memang ada di sana, dan begitu besarnya.

Tanggal 02 November adalah ulang tahun Shah Rukh Khan. Dua minggu lalu, ikon Bollywood (khususnya bagi penonton di Indonesia) ini berusia 49 tahun. Sesuatu harus saya tampilkan di blog ini untuk ikut merayakan ulangtahunnya, entah itu sebagai penonton film India yang tumbuh bersama film-filmnya atau sekadar sebagai laki-laki sirik yang ikut gembira dengan ketuaannya.

Sementara wawancara imajiner saya dengannya tak kelar-kelar juga, tak banyak wawancara Shah Rukh Khan yang mengesankan saya. Kecenderungannya untuk selalu membuat orang lain merasa nyaman, terutama pers dan para fansnya, membuatnya jadi mesin penjawab yang membosankan. Tapi wawancaranya dengan Shubash K. Jha, seorang kritikus film India terkemuka, berikut ini mengungkap banyak hal subtil yang biasanya terlewat darinya. Kita bisa tahu bagaimana dia meletakkan dirinya dalam industri film yang membesarkannya; bagaimana ia memandang film itu sendiri; juga para penontonnya. Yang paling menarik bagi saya pribadi adalah bagaimana Shah Rukh menjabarkan kredo keaktorannya dengan menjelaskan keterkaitannya, terutama di masa lalu, dengan teater jalanan, sandiwara rakyat, seni bercerita, dan seni pertunjukan sebagai pelipur lara.

Selamat membaca. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar