film

Mendengar (Soal) Soekarno, Melihat-lihat (Film) Gandhi

Oleh Mahfud Ikhwan

hey-ram-naseeruddin-shah_1349153881_640x640

I
Saya mendengar film ‘Soekarno’ dipaksa berhenti tayang oleh (sebagian) anak turunnya. Saya termasuk orang yang penasaran apa alasan atas permintaan penghentian tayang itu, dan saya tetap belum mengerti meskipun sudah baca beberapa berita. Karena saya belum menonton film itu, saya mau bicara tentang film-film tentang Gandhi saja.

Gandhi, seperti yang dilakukan oleh sebagian besar orang di dunia, sangat dipuja di India. Dan di negeri di mana bahkan kumbang tai saja berhak mendapat lagu pujian, sangat mudah bagi orang India untuk memuja pahlawan kemerdekaannya tersebut seumpama dewa. Dan Gandhi bagi (sebagian besar) orang India memang diberlakukan seperti dewa. Hari lahirnya jadi hari libur, hari kematiannya diperingati sebagai hari pahlawan, dan dua candi didirikan untuk didedikasikan kepada orang yang ,diejek Perdana Menteri Inggris Winston Churchill sebagai “pengemis bercawat” ini. Maka, tak mengherankan ada puluhan judul film yang menampilkannya, baik secara dokumenter maupun secara feature, baik menjadi pusat cerita maupun cuma jadi bagian kecil dari cerita.

Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
film

Aamir Khan: Seorang Penghibur Harus Ikut Berperan Membangun Moral Masyarakat

Wawancara oleh Baradwaj Rangan, (The Hindu)/ Terjemahan Mahfud Ikhwan

tare zameen par - Copy

Aamir Khan adalah satu dari sedikit aktor dan insan perfilman yang menunjukkan komitmen sosial yang kuat. Tentu saja, dia main di film-film komersial-menghibur (seperti ‘Dhoom 3’ yang akan rilis), namun ia secara ajeg berurusan dengan isu-isu sosial melalui akting, penyutradaraan, maupun sebagai produser bagi film macam ‘3 Idiot’, ‘Rang De Basanti’, ‘Taare Zameen Par’ dan ‘Peepli [Live]’. Kemudian ia menyentak (dan sangat sukses) dengan acara televisi ‘Satyamev Jayate’, yang mengangkat isu-isu yang punya keterkaitan kuat dengan masyarakat. Seminggu sebelum ia membuka Chennai International Film Festival ke-11, ia bersedia wawancara di kantornya yang menghadap ke laut di Bandra. Ia berpakaian santai, bertopi baseball, kaos abu-abu, celana kargo, dan bersepatu ket. Saya mempersilakannya untuk ganti baju jika ingin. Dia bilang, “Jika Anda mau lihat aku tampil formal, itu butuh waktu satu jam.” Jadi, kami langsung mulai saja. Baca lebih lanjut

Standar