Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 6 Habis)

Oleh Mihir Bose; Terj. Mahfud Ikhwan

Sholay, Deewar, Amar Akbar Anthony…

Sebagai sebuah film, Sholay memecahkan semua rekor: film ini diputar tanpa putus selama 286 minggu di Bioskop Minerva Bombai. Pada Filmfare Award ke-50, Sholay diakui sebagai film terbaik dalam 50 tahun, lalu ditahbiskan sebagai “Film of the Millenium” oleh BBC India lewat polling internet pada 1999. Ia juga jadi film dengan penghasilan tertinggi sepanjang masa, dengan mengumpulkan Rs. 2.134.500.000 (atau 50 juta dolar AS), sebuah rekor yang bertahan hingga 1994, sampai Hum Apke Hain Kaun mematahkannya. Sholay secara luas diakui oleh para kritikus film sebagai salah satu film terbaik yang pernah dibuat Bollywood dan paling banyak ditonton, sekaligus merevolusi perfilman Hindi—menjadikan penulisan-naskah jadi pekerjaan yang benar-benar profesional. Sholay adalah film film Hindi (dan boleh jadi film India) pertama yang memiliki soundtrack stereofonik. Sutradara Shekhar Kapur pernah bilang, “Tak ada yang pernah bisa lebih mendefinisikan film di layar lebar India (melebihi Sholay). Industri film India dapat dipilah menjadi dua, yaitu Sebelum Sholay dan Sesudah Sholay.”

Dialog di film itu sangat dikenal, sementara beberapa baris paling dramatis biasa digunakan oleh orang-orang India dalam kehidupan sehari-hari, sebagaimana dialog dari The Godfather pertama, yang dibintangi Marlon Brando, biasa ditirukan oleh orang Barat. Film ini lazim dipakai untuk menjual semua jenis barang, mulai dari biskuit gandum sampai sirup obat batuk. Calo tiket gelap di Delhi bisa mendapat banyak uang dan bisa membangun rumah dari keuntungan yang didapatnya; dokar di kota-kota macam Patna dinamai Dhanno, si kuda yang ada di film; lalu, seorang aktor yang hanya bicara satu kata namun melakukan adegan dramatis, yaitu sebagai seseorang yang berdiri di atas bukit sambil memegang bedil, segera dikenali oleh petugas imigrasi New York saat ia melambaikan tangan.

Butuh dua tahun untuk membuat film ini, sementara para aktor dan aktris yang ikut andil di dalamnya punya agenda masing-masing, menyimpan cerita lain yang berlawanan dengan cerita yang sedang berusaha mereka buat, dengan satu pasangan ingin merengkuh cinta yang terlarang, pasangan lainnya malah menikah saat film dibuat, sementara pihak ketika, yang gagal mendapatkan cintanya, memilih minuman dan kemudian pelan-pelan terbuang dari percaturan.

Pembuatan film itu sendiri, dan variasi plot dan kontra plot di antara para pemainnya, tampaknya pantas untuk dibuat film sendiri. Lalu, beberapa tahun kemudian, Anupama Chopra akan menulis salah satu buku terbaik tentang kebangkitan sinema India: Sholay: The Making of a Clasic. Film tersebut, dan orang-orang yang terlibat membuatnya, dengan cara masing-masing merefleksikan kehidupan India kontemporer.

Tahun rilisnya Sholay juga menjadi tahun rilisnya film Amitabh lainnya: Deewar. Sementara Sholay menangguk semua sukses komersial, Deewar melahap semua penghargaan terhormat Filmfare Award tahun itu. Dua tahun kemudian muncullah Amar Akbar Anthony yang segera menjadi film cult hebat. Dua sutradara yang bekerja dengan Amitabh (di dua film terakhir) sama sekali berbeda dengan Ramesh Sippy, sutradara Sholay. Namun, kedua orang itu juga benar-benar berbeda satu sama lain.

Deewar disutradarai Yash Chopra yang saat itu sudah tak lagi dikenal sebagai adik dari B.R. Chopra. Lagi pula, setelah lama hidup bersama sebagai keluarga yang rukun, kakak-adik itu berpisah karena pertengkaran pelik yang disebabkan perkara sepele, sebagaimana dituturkan oleh penulis biografi Yash Chopra sendiri. Amar Akbar Anthony, sementara itu, disutradarai Manmohan Desai, yang seperti api dan air dengan Chopra.

Yash Copra membangun reputasinya di Bollywood sebagai seorang sutradara yang menemukan dirinya kembali di tiap dekade. Meskipun Chopra nantinya dikenal sebagai “raja film romantis”, ia juga membuat film yang dikenal sebagai triller klasik, atau drama menye-menye. Sejak umur tigabelas dibesarkan oleh B.R., kakaknya yang delapanbelas tahun lebih tua, Yash menunjukkan gayanya tersendiri sejak pertama kali menangani film B.R. yang dipercayakan kepadanya, Dhool Ka Phool. Ini adalah kisah tentang perempuan yang dikhianati kekasihnya dan oleh takdir karena mesti mengandung anak tidak sah. Dalam Dharmputra, Yash Chopra mengangkat kisah seorang Muslim yang dibesarkan di keluarga Hindu terpandang yang, karena tidak tahu asal-usulnya, menjadi seorang Hindu fanatik. Pada Ittefaq, film perintis lain, sebuah triller tanpa lagu, menceritakan seorang lelaki yang dituduh membunuh istrinya dan perempuan lain yang memberinya tumpangan.

Namun Deewar dan asosiasinya dengan Amitabh Bachchanlah yang yang menandai periode paling suksesnya. Bachchan boleh jadi menabalkan cap dirinya sebagai angry young man dengan film Zanjeer, namun Deewar adalah titik berangkatnya. Seperti kebanyakan film Bollywood, kisahnya banyak mengambil dari Mother India, meskipun ada beberapa film yang tidak melakukannya. Bagaimanapun, film ini mematahkan banyak aturan tak tertulis yang sudah sangat lama mapan di Bollywood.

Deewar hanya punya dua lagu, yaitu sebuah qawwali dan satu lagu titel; jagoannya membelot jadi penjahat; tak ada tokoh gadis suci, hanya sebuah peran kecil untuk jagoan perempuannya, dan sedikit cinta-cintaan; si bapak yang menghilang akhirnya mati sia-sia tanpa mengubah adegan akhir yang menggambarkan reuni keluarga (hal yang khas Bollywood); lalu, si jagoan mati di tangan saudaranya sendiri.

Di Mother India, sang ibu membunuh anaknya; di Deewar, Vijay, si anak berperangai buruk yang dimainkan Bachchan, dibunuh oleh saudaranya, Ravi, yang dimainkan Shashi Kapoor. Klimaks cerita melibatkan tembak-tembakan, dan Vijay akhirnya mati di pangkuan ibunya di depan sebuah kuil.

Keterlibatan Bachchan di Deewar dimulai dengan cara tradisional. Ia sedang syuting film lain ketika penulis naskah, Salim-Javed, menceritakan kisahnya kepada Bachchan. “Kami sepakat bahwa Yash Chopra akan cocok untuk menyutradarainya. Salim-Javed dan aku pergi bertemu dengan Yashji di Girnat Apartments di Pali Hill, tempat ia saat itu tinggal,” kata Bachchan.

Bagi Bachchan, Deewar adalah film yang kejam dan tanpa-ampun. “Di situ tak ada syuting ulang, tak ada pengambilan gambar canggih untuk memberi highlight beberapa adegan laga yang menakjubkan, dan tak ada perlengkapan pelindung bagi keselamatan pemain (sebab saat itu memang belum ada). Para pemeran pengganti dan para artis kesakitan dalam diam. Hal yang paling menarik justru terjadi di belakang kamera, di mana Yash Chopra yang sangat larut dan bersemangat tak henti-hentinya membelasah asistennya setiap ia berteriak ‘Eksyen!’”

Adalah Manmohan Desai sendiri yang menarasikan cerita Amar Akbar Anthony kepada Bachchan. Tapi, tak seperti Deewar yang langsung menawan hatinya, ia tak percaya dengan cerita film itu. “Ketika Manmohan Desai menceritakan isi cerita Amar Akbar Anthony di Lapangan Mangal pada suatu malam, aku dibikin gusar. Aku tak pernah lihat atau dengar ada orang macam Anthony. Aku tertawa terpingkal-pingkal. ‘Man (demikian teman-temannya memanggilnya), kau ini habis nonton film apa?’ Ia langsung menukas, ‘Dengar, Bung! Begitu film ini rilis, orang-orang di jalanan akan memanggilmu Anthonybhai’. Dan ia sungguh benar. Sepanjang pembuatan AAA, isinya cuma ketawa melulu. Ketika aku menghela kuda mungil itu, Tonga, menyapu lantai untuk masuk ke adegan berikutnya, itu semua usaha banyak orang. Banyak senangnya, banyak gembiranya… casting aktor yang hebat… dan ‘Man’ membimbing kami semua. Bahkan adegan paling konyol sekalipun direncanakan dengan teliti.”

Kisah Amar Akbar Anthony adalah salah satu cerita klasik satunya budaya India, meskipun berbeda-beda agama. Ceritanya, seorang ayah yang sedang kesusahan menelantarkan tiga anaknya. Anak yang pertama, Amar, tetap menjadi Hindu; anak kedua, Akbar, menjadi seorang Muslim; sementara anak ketiga mendapati dirinya ada di dalam gereja, kemudian menjadi Anthony, yang dimainkan Amitabh. Kisah penelantaran anak adalah sajian utama Bollywood, namun belum ada yang melakukan dengan cara macam itu, dengan simbolisme seperti itu. Dalam film, keluarga itu tercerai-berai pada 15 Agustus, persis seperti yang dialami India pada 1947 (saat mengalami Partisi—penerj.). Meski dibesarkan dengan agama yang berbeda-beda, film ini menggemakan bahwa mereka semua bersaudara. Kredit pembuka disertai dengan kutipan, “Khoon khoon hotaa hai paani nahin” (Darah adalah darah, bukan air). Lewat penggambaran keluarga yang akhirnya bersatu, pesannya adalah: persatuan dan kesatuan seluruh India setelah melewati penderitaan akan kehilangan dan kepedihan.

Setelahnya, Manmohan Desai adalah seorang pembuat tren di industri film. Film-filmnya kebanyakan beradegan luar ruangan, atau ruangan studio yang sudah direkayasa agar terlihat seperti di luar ruangan, di mana kehidupan sehari-hari bisa bisa berubah jadi khayalan. Seperti yang belakangan dibilang Bachchan, “Film-film Manmohan Desai bisa dideskripsikan sebagai ‘fanatisasi’ ekspresi idealisme romantik… cinta, kehormatan, perpisahan, keteguhan, dan penyatuan kembali yang menjadi obsesi abadi… sementara secara bersamaan juga senantiasa mengandung elemen kunci tentang ketakjuban… Mengenal Manmohan Desai adalah mengenal manusia penuh kasih.” Pada intinya, ia mengadopsi formula yang akrab dengan Bollywood.

Dari duapuluh film yang disutradarainya dalam duapuluh sembilan tahun karirnya (antara 1960 hingga 1988), tigabelas di antaranya adalah film dengan hit besar. Dari 1973 hingga 1981, ia menciptakan sukses di box office, dengan Amitabh Bachchan menjadi pusat pusarannya.

Manmohan Desai, nama yang berarti ‘pemukau pikiran’, adalah seorang putra Bollywood, namun dengan gaya dan kisah hidup yang sedikit berbeda. Cerita pernikahannya menyimpang dari naskah film-film Bollywood. Jeevan Prabha Gandhi, seorang gadis Marathi, adalah gadis yang tinggal di seberang jalan (dari rumah Manmohan) yang tersenyum dari jendelanya. Meskipun secara teknis ia seorang imigran, pindah bersama keluarga Gujaratinya pada usia empat tahun, Manmohan selalu memandang Bombay sebagai kota kelahirannya, dan ia tumbuh bersama tumbuhnya film.

Ayahnya, Kikubhai Desai, adalah pemilik Paramount Studios, tempat ia memproduksi tigapuluh dua film antara 1931 hingga 1941, sebagian besar adalah film eksyen. Kikubhai meninggal pada usia tigapuluh sembilan akibat infeksi usus buntu karena saat itu belum ada penicilin, yang ironisnya ditemukan sebulan setelah kematiannya. Kematian Kikubhai meninggalkan banyak hutang bagi keluarganya. Kalavati, sang istri, terpaksa menjual bungalow milik keluarga dan sejumlah mobil untuk menunjang kehidupan keluarganya, sekaligus sekuat tenaga mempertahankan studio peninggalan suaminya yang memberi pemasukan bulanan sebesar 500 rupee bagi keluarga yang hidup dalam rumah empat kamar itu.

Manmohan memperoleh pengalaman pertamanya dengan film ketika saudaranya mulai bekerja kepada Homi Wadia. Sang saudara kemudian menjadi sutradara. Pada 1960, ia memberikan kesempatan kepada Manmohan yang saat itu berusia duapuluh empat untuk menyutradari film pertamanya, Chhalia.

Manmohan sangat jarang membiarkan sesuatu terjadi secara kebetulan. Seperti dikatakan Bachchan, “Satu-satunya adegan yang dilakukan secara spontan dalam film Amar Akbar Anthony adalah adegan mabukku. Ia saat itu tidak berada di lokasi syuting. Ia menyerahkannya kepada asistennya… Aku bilang kepada asistennya bahwa aku akan melakukan adegan mabuk berdasar observasiku kepada seseorang yang mabuk berat di Park Street Kalkuta… karena kalau lihat dua atau tiga orang akan terlalu banyak.”

Diukur dari berbagai segi, hal paling tak terduga yang terjadi dalam kehidupannya adalah kematiannya. Pada 1 Maret 1994, Manmohan Desai jatuh dari loteng rumahnya di Khetwadi, di pusat kota Bombay, yang membuatnya meninggal seketika. Usianya limapuluh tujuh. Tak pernah ada penjelasan apapun kenapa ia mesti merenggut nyawanya sendiri.

 

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006).

Iklan
Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 5)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Zanjeer dan Sukses-sukses Setelahnya

Ia bilang kepada Javed, “Kita sudah dapat jagoan kita.”

Masalahnya sekarang, siapa yang akan jadi jagoan perempuannya?

Penolakan Khanna artinya juga mundurnya Mumtaz. Seorang aktris dari kalangan kelas menengah muslim yang terhormat, yang terkenal karena badannya yang semok dan bibirnya yang menawan, Mumtaz telah membintangi banyak film sukses bersama Khanna, dengan yang paling sukses adalah saat ia memenangi Aktris Terbaik pada 1970. Karena Khanna bukan jagoannya, ia pun tak tertarik lagi. Beruntungnya Amitabh, Jaya Baduri masuk. Putri dari seorang penyair Bengali, Jaya telah menjadi seorang aktris sejak kanak-kanak, ketika pada usia 13 ia bermain di film Satyajit Ray, Mahanagar. Ia juga adalah salah satu lulusan pertama Institut Film Poona yang baru berdiri.

Keduanya sudah pernah berakting bersama, meskipun kerjasama pertama mereka di film Guddi, yang jadi pertemuan pertama mereka, tidak berumur panjang karena, setelah beberapa kali syut, Amitabh mundur dengan alasan yang membingungkan Jaya. Boleh jadi karena saat itu Amitabh punya jadwal sendiri untuk membuat film lebih dari satu dalam satu waktu, yang itu membuatnya tidak cocok dengan tuntutan film tersebut. Seiring berlalunya waktu, Zanjeer pun datang mempersatukan mereka, meskipun dengan cara yang benar-benar India. Menurut Jaya, hal ini bukan kelanjutan dari nonton film bareng, terus pergi sebelum film selesai, sebagaimana yang sekarang diketahui khalayak. Tak ada pacaran ala Barat, tidak juga romantis-romantisan, apalagi pakai lilin segala. Sebagian besar waktu yang mereka habiskan bersama didampingi oleh teman-teman mereka, sementara Amitabh akan mengajaknya berkeliling kota dengan Fiatnya dan menghadiahinya sari-sari yang mahal. Masalahnya, sari-sari tersebut semuanya berwarna putih dengan pelipit jambon, warna yang dibenci Jaya. Meski demikian, Jaya memakainya agar tak mengecewakan Amitabh.

Pembuatan Zanjeer penuh dengan masalah. Pran, yang bermain sebagai seorang Pathan, seorang penjahat yang bersahabat dengan seorang polisi yang tengah menegakkan keadilan, untuk beberapa alasan adalah jualan utama film tersebut. Ia adalah bintang yang sudah mapan. Namun, di hari pertama syuting, ia mengancam mundur dari film setelah ia tahu bahwa ia diharuskan melakukan adegan menyanyi. Lagu dan lirik lagu itu memberinya kesulitan. Sebagai aktor yang telah main menjadi penjahat Bollywood selama hampir tiga dekade, dan dikenal baik di kalangan industri sebagai Pran Sahib, sebagaimana ia dipanggil, ia tidak akan menyanyi dan menari, lebih-lebih pakai lari-lari di antara pohon-pohon. Mehra mesti buru-buru ke rumah Pran, memohon-mohon kepadanya, bilang bahwa tanpanya film itu tak akan laku, sebab Amitabh yang jadi tokoh utamanya tak akan bisa membuat film tersebut jadi box office.

Pran yang merekomendasikan Amitabh tanpa pernah melihatnya mendapati bahwa anak itu masih hijau dan perlu dilatih. Mereka punya satu adegan bersama di kantor polisi ketika Amitabh akan menendang kursi yang akan diduduki oleh Pran untuk menunjukkan amarahnya. Amitabh tak bisa menunjukkan amarah yang semestinya. Ia akrab dengan anak Pran dan, dengan tata krama ala India, ia memanggilnya Paman Pran. Pran bertutur kepada penulis biografinya, “Aku tahu yang bergolak di hatinya. Maka aku bilang kepadanya, ‘Jangan menganggapku sebagai paman. Anggap aku penjahat. Lupakan soal paman-pamanan itu, tendang saja kursinya.’ Setelah itu barulah ia bisa melakukan adegan itu cukup baik. Ia sangat sopan.”

Pran, dalam sosoknya yang ikonik di Zanjeer.

Bollywood tersenyum meremehkan saat film itu belum rilis. Mehra, seorang penulis lirik gagal yang kemudian beralih menjadi sutradara, belum sepenuhnya punya nama. Tim penulis, Salim-Javed, malah tak punya apa-apa untuk diandalkan. Salim adalah seseorang yang bercita-cita jadi aktor, yang memainkan beberapa peran sangat kecil, dan karir aktingnya tak jelas mau ke mana; Javed adalah penulis-upahan yang sibuk menulis dialog-dialog film yang terlupakan. Ketika Zanjeer dibuat, Bandhe Haath, film Bachchan yang lain, tengah rilis dan jeblok. Itu artinya, ia sudah jeblok dalam 13 film, sehingga mood di kamp Zanjeer begitu muram—hal yang membuat Prakash Mehra mengumumkan produksi keduanya yang berjudul Hera Pheri, sebuah komedi yang akan dibintangi Bachchan dan Vinod Khanna, cuma untuk berusaha mengangkat moral Bachchan dan mengentaskannya dari depresi. Namun, pada 23 Mei 1973, ketika Zanjeer buka layar di Liberty Theatre Mumbai, film itu segera mencetak sejarah. Film itu, tanpa disangka, melejit.

Jika sebelum Zanjeer Bachchan adalah orang yang penuh kegagalan, maka setelahnya semua hal yang dilakukannya akan sukses. Dari 70-sekian film yang ia bintangi antara 1973 hingga 1984 (tahun ketika ia mengaso dari film untuk masuk ke politik), hanya tiga film yang gagal balik modal. Sebuah survei di tahun 1984 menunjukkan bahwa, dari 15 film terlaris sepanjang masa di sinema Hindi, 40 persennya dibintangi oleh Bachchan. Bahkan, film-film yang pada awalnya jeblok menjadi film-film sukses setelah dirilis ulang. Malah, film-film Bachchan yang dirilis ulang itu bisa menangguk uang lebih banyak dibanding film-film hit dari aktor lain. Pada 1 Mei 1980, Bachchan menjadi sampul di India Today. Ia difoto dengan jaket merah, menyandar di pohon palem, dengan tajuk besar: The One-Man Industry (Pemain Tunggal Industri Film). Di situ, penulis Vir Sanghvi menyatakan:

“Pada suatu waktu di setiap harinya lebih dari satu laksa (100 ribu) orang menontonnya menyanyi, menari, dan berkelahi di layar bioskop. Setiap tahun, lebih dari empat krore (100 juta) orang menyaksikannya memerangi kekuatan jahat. Setiap ia keluar rumah, investasi seharga 550 krore rupee (500 juta) bertumpu di pundaknya. Seperti dikatakan dengan jengkel oleh produser Prancis Alain Chamaz, yang gagal membujuknya memberikan tanda tangan kontrak, ‘Amitabh Bachchan adalah industri itu sendiri’.”

Bagaimanapun, ketika Zanjeer sedang dibuat, dan sebelum Bachchan menjadi industri film itu sendiri, ia telah terlibat di sebuah film yang mendefinisikan era modern Bollywood; era 1970, dan setelahnya. Jika Mother India dan Mughal-E-Azam adalah film ikonik dari dekade 1950-an dan awal 1960-an, maka film itu, Sholay, telah membuktikan sebagai film paling diingat yang pernah diproduksi Bollywood, yang membawa sinema Hindi ke level yang belum pernah dicapainya.

(Bersambung…)

 

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006).

Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 4)*

Oleh Mihir Bose; Terj. Mahfud Ikhwan 

 

Khanna vs Bahchcan

Rajesh Khanna dan Amitabh Bachchan benar-benar berbeda. Penulis Shobhaa De membuat paparan sangat jelas betapa berbedanya dua orang ini.

“Amitabh adalah sosok yang tidak mencolok. Anda bisa mengenali suaranya, matanya, dan di atas semuanya adalah auranya. Itu adalah aura yang berhasil mengubah orang atau individu paling biasa menjadi manusia setengah dewa. Amitabh memakai aura itu dengan sangat baik. Atau memanfaatkannya, sampai kemudian karir dan imejnya mulai merosot. Dengan hal itulah, ia tetap setingkat di atas Khanna… Namun Khanna memang bukan bagian dari lingkaran Nehru-Gandhi. Ia cuma anak kota biasa yang baik-baik saja. Amitabh muncul dengan paket lengkap, dan seluruh pendahulunya sudah jelas-jelas mempersiapkan (tempat untuk)-nya. Bicaranya tertata, bagus bacaannya, berbudi-bahasa dan tahu tatakrama, ia adalah jenis orang yang nyaman dengan dunia salon. Tidak dengan Rajesh, yang menangggung beban yang tak terhitung dan dirundung keraguan atas kemampuan diri sendiri. Keduanya jeblok saat masuk politik—Amitabh langsung terlempar di babak awal, sementara Rajesh terkatung-katung di sana. Rajesh ditandai oleh perasaan tercampakkan yang tak ditutupinya, sementara Amitabh dengan kediamannya yang disengaja. Satu hal yang sama-sama mereka miliki adalah sikap acuh-tak-acuh. Rajesh boleh jadi menjadi kakaji (paman) bagi orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya, sementara Amitabh bisa berpura-pura berbaur dengan para sosialita penjilat yang mati-matian ingin menari bersamanya di depan publik. Namun, tak ada yang akan menepuk punggung mereka atau bertingkah sok akrab dengan keduanya. Itu penting bagi megabintang yang tengah meredup untuk menjaga jarak, agar daya sihir itu tetap awet.”

Tentu saja Shobhaa De menulis hal ini pada 1998, ketika Amitbah tampak tengah jatuh dan tersingkir, dan baru bisa bangkit kembali lewat televisi dan kemudian balik lagi ke film.

Rajesh Khanna, lahir dengan nama Jatin Khanna, adalah seorang anak angkat yang, setelah sempat menjajal sebentar dunia teater, memenangkan kontes bakat—sesuatu yang tak pernah diraih oleh Amitabh. Ia membuat debutnya lewat film garapan Chetan Anand, Aakhiri Khat (1966). Mengingat nama besar Chetan Anand di dunia film, ini jelas awal yang sangat berbeda, laksana langit dan bumi, jika dibandingkan dengan yang dialami Bachchan bersama filmnya Abbas di Goa. Pada 1969, ketika Amitabh masih berkeliling mengempit foto hasil jepretan Ajitabh, Khanna sudah bermain dua peran, ayah dan anak yang sama-sama jadi pilot, dalam Aradhana. Sosoknya yang gagah dalam balutan seragam, tingkah yang ia suguhkan, bagaimana ia mengerlingkan mata dan menggelengkan kepala saat memberi isyarat kepada gadis yang jadi pasangannya, segera membuatnya menjadi pahlawan romantis paling dipuja. Lagu-lagu dari R.D. Burman juga membantu film tersebut menjadi hit besar.

Pada Desember 1969, Khanna kembali membintangi film lain, Do Raaste-nya Raj Khosla. Hasilnya adalah kegemparan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Bollywood. Ketika Do Raaste mulai tayang di Roxy, di seberang jalan Aradhana yang diputar di Opera House sedang laku-lakunya. Dan Bombay menyaksikan fenomena luar biasa: dua film yang dibintangi orang yang sama, di saat yang sama, sama-sama penuh sesak oleh penonton.

Fenomena Rajesh Khanna ini menenggelamkan semua orang di Bollywood, dan histeria yang ditimbulkannya tak ada yang menandingi, baik sebelum maupun setelahnya. Dengan hit demi hit, sementara seluruh perempuan di seluruh penjuru negeri dibuat kejang-kejang olehnya, Rajesh Khanna mengaku merasa “ada di sisi Tuhan”. Lima tahun kemudian, pada 1977, manakala Amitabh Bachchan tengah memantapkan namanya menjadi pahlawan terbesar Bollywood, tanpa tanding, karir Khanna tengah menukik. Dikisahkan, pada suatu sore, ia keluar dari rumah, berdiri di teras, di bawah guyuran hujan, dan bertanya kepada Tuhan, kenapa ia mendapatkan cobaan sebegitu rupa.

Bachchan tahu bahwa ia berada di bawah bayang-bayang sang superstar. Maka, pada 1970, ia dengan senang hati menerima tawaran untuk berperan menjadi seorang dokter bagi seorang pasien yang tengah sekarat, Anand, yang dimainkan Khanna dalam film yang berjudul Anand. Motivasi Bachchan adalah apabila ia bermain bersama sang superstar, maka ia akan memperoleh perhatian. Ini berkat nasihat Mehmood, seorang aktor dan sutradara. Mehmood adalah saudara Anwar Ali, yang merupakan karib Bachchan. Lewat perantaranyalah Bachchan bisa numpang di rumah Mehmood yang selalu terbuka dan bisa mengenalnya, dan mengajaknya main di Bombay to Goa (1972). Mehmood menasihati, “Rancanglah penampilanmu di samping Rajesh Khanna. Bayangkan dia sekarat… itu pasti akan hebat… seluruh negeri pasti akan menangis tersedu-sedu.”

Dan begitulah yang kemudian terjadi, kata Bachchan. “Yang jelas, menjadi satu tim dengan Rajesh Khanna, idola terbesar India, membuatku mendapatkan tempat penting dan terhormat yang sama (dengannya).”

Belakangan Bachchan mengatakan, “Rajesh Khanna—yang namanya telah bercap superstar—membuatku memperoleh perhatian. Juga tentu saja karena kisah yang menakjubkan dan naskah yang luar biasanya yang ditulis Hrishida (panggilan untuk Hrishikesh Mukerjee, sutradara Anand—penerj.). Film itu terlihat begitu nyata, membuat para penggemar Rajesh Khanna benar-benar nelangsa.”

Adegan terakhir menunjukkan (tokoh yang dimainkan) Bachchan, seorang dokter yang murung, sensitif, tengah menyaksikan (tokoh yang dimainkan) Khanna, seorang pasien yang menanggung rasa sakit dan deritanya dengan senyum dan senantiasa menunjukkan semangat hidup, mati. Yang sangat menolong adalah bahwa film ini dibuat oleh para lulusan dari apa yang disebut sebagai Sekolah Film Bimal Roy; Hrishikesh Mukerjee, sang sutradara, yang juga penggagas cerita, dan Gulzar, yang menulis naskah, adalah para (bekas) asisten Roy, dengan musik digarap oleh Salil Chowdhury.

Saat pembuatan film ini, ikatan persahabatan terbangun antara Bachchan dan Mukerjee; Bachchan memuja sang sutradara dan akan bilang dengan nada mesra betapa Mukerjee telah menenangkannya ketika ia memainkan adegan terakhir manakala (tokoh yang diperankan) Khanna mati. Memikirkan bagaimana penampilannya di adegan itu membuatnya jadi sangat grogi dan tak mampu tampil dengan baik, sampai Mukerjee menenangkannya. Dengan Mukerjee-lah Bachchan bermain di delapan film, paling banyak dibanding dengan sutradara lain. Pada tahun-tahun yang akan datang, Bachchan akan disutradarai oleh banyak orang, tapi Mukerjee-lah yang selalu jadi tolok ukurnya bagaimana seorang sutradara memperlakukan dirinya—sementara beberapa sutradara juga meminta masukan dari Mukerjee bagaimana cara menangani Bachchan. […]

Penampilan Bachchan memenangkan Filmfare Award untuk Aktor Pembantu Terbaik. Meski para kritikus sudah mulai memberi perhatian kepadanya, dan memberikan pujiannya, tak ada seorang pun yang berpikir bahwa ia akan lebih dari sekadar aktor watak yang kuat, semacam Balraj Sahni versi ’70-an. Namun, setidaknya, ada yang berubah dari seorang kritikus yang selalu menulis jelek dan tanpa ampun tentangnya, Bikram Singh, seorang kritikus film dari The Times of India, yang oleh Bachchan dibilang, “selalu muak dengan kemuraman wajah dan tatapan kosongku.” Ini adalah kesuksesan pertamanya, saat ia benar-benar menunjukkan kemampuan aktingnya. Bombay to Goa garapan Mehmood juga sukses di box office, namun di situ Bachchan cuma nongol sebagai kameo konyol saja.

Namun, mengingat Bollywood tak berbeda dengan semua industri sinema, yang mana box office di atas segalanya, Bombay to Goa tetap menarik perhatian. Pada tahun berikutnya, sutradara Prakash Mehra mencanangkan membuat Zanjeer. Ia pun melirik Amitabh, meskipun Bachchan cuma pilihan kelima setelah Dev Anand, Raaj Kumar, Dharmendra, dan Rajesh Khanna. Dev Anand, pilihan pertama Mehra, minta diizinkan untuk menyanyi lebih banyak lagu, namun Mehra bersikeras bahwa jenis karakter di film ini tak memungkinkan untuk itu. Yang aneh, Anand malah menawarkan diri untuk menjadi produser dan mendanai film itu lewat Navketan (perusahaan film milik Dev Anand dan saudaranya Chetan Anand—penerj.) dan menawari Mehra untuk jadi sutradaranya. Itu tawaran yang membuat Mehra terkejut, sebab awalnya ia menawari sang aktor veteran satu peran dan di akhir justru ialah yang ditawari pekerjaan.

Mehra kemudian membuat janji dengan Dharmendra, tapi waktunya tidak cocok dengan jadwalnya. Rajesh Khanna, sementara itu, merasa bahwa karakter si tokoh utama tak cocok dengan imejnya yang romantis. Pran, yang akan memainkan tokoh Pathan di film, kemudian menyarankan Mehra untuk menonton Bombay to Goa, khususnya untuk melihat si aktor muda, Amitabh. Maka, disertai dua penulis naskah, Salim Khan dan Javed Akhtar, yang di Bollywood dikenal sebagai duo Salim-Javed, Mehra pergi ke bioskop.

Seperti yang sudah terjadi, Pran, yang tak pernah suka nonton film di bioskop, sebenarnya belum menonton film itu. Ia hanya mengandalkan apa yang dikatakan anaknya kepadanya. Film itu punya satu adegan perkelahian, dan tepat di momen saat melihat adegan itu Mehra berteriak: “Mil gaya!”, yang berarti “kita dapat!”. Ketika seluruh orang di bioskop dibuat terkejut oleh teriakannya, Mehra bangkit dari duduknya dan keluar begitu saja. Ia tak butuh menonton film itu sampai selesai.

Ia bilang kepada Javed, “Kita sudah dapat jagoan kita.”

(Bersambung…)

 

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006), khususnya bab 15, ‘A Shy Man and His Use of Anger’.

Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 3)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Kisah Sebuah Foto dan Dengkul yang Babak Belur

Adalah saudaranya, Ajitabh, yang mendorongnya untuk mewujudkan ambisinya di dunia film. Ia mengambil foto Amitabh di luar Calcutta Victory Memorial, dan mengirimkannya ke kontes bakat Filmfare-Madhuri. Namun, setelahnya, tak ada perkembangan apa-apa, dan kehidupan Amitabh kelihatannya akan begitu-begitu saja, meneruskan serangkaian kegagalannya. Sudah begitu, orang dengan suara yang boleh jadi terbaik di Bollywood itu gagal tes sebagai penyiar di All India Radio (RRI-nya India—penerj.), baik di seksi bahasa Inggris maupun bahasa Hindi. Meski demikian, foto itu akhirnya berguna juga.

Seperti semua orang yang ingin terjun ke dunia film di Bombay pada akhir tahun ’60-an, Amitab memulainya dengan datang ke kota itu. Meskipun ia tak memanfaatkan koneksi keluarganya dengan keluarga Kapoor, ia ngenger di rumah seorang teman ayahnya. Ketika ia merasa sudah kelamaan tinggal di sana, ia sempat menghabiskan satu malam di sebuah bangku di Marine Drive (sebuah boulevard di tepian pantai Bombay—penerj.). Lalu, seperti sebuah dongeng yang indah, kesempatan dan keberuntungan dari roda kehidupan yang tengah berputar itu pun datang.

Foto yang diambil Ajitabh itu rupanya beredar di kalangan Bollywood. Sunil Dutt (seorang superstar ’60-an, ayah dari Sanjay Dutt) melihatnya, karena kebetulan istrinya, Nargis, kenal dengan ibu Amitabh dan ia ingin menolong. B.R. Copra (produser, sutradara, saudara dari Yash Chopra) pun memanggil Amitabh dari Calcutta untuk tes. Tapi masalahnya selalu adalah: ia “lumbu”, kata Hindi yang berarti tinggi, dan di Bollywood punya makna buruk. Untuk ukuran aktor India, badannya terlalu jangkung untuk bisa dipasangkan dengan lawan main perempuannya. Maka, setelah satu tes kamera, seorang produser menyarankannya untuk menulis saja. “Kamu cocoknya jadi penulis. Lagipula, kamu kan anaknya penyair terkenal. Menulis pasti gampang bagimu.”

Itu jelas-jelas nasihat baginya: jangan gampang melepas pekerjaan tetapmu, dengan gaji 2500 rupe, gaji yang sangat bagus untuk ukuran orang India, dengan mobil dan sebuah flat, meskipun kehidupan di Calcutta terasa sumpek.

Keputusasaan hampir datang. Namun, lewat seorang teman, aktris bernama Neena Singh, foto itu itu ternyata sampai ke tangan K.A. Abbas, sutradara Saat Hindustani. K.A. Abbas dikenal sebagai sutradara yang berbeda, yang punya ide-ide radikal dengan filmnya. Saat Hindustani adalah sebuah kisah patriotik tentang enam pemuda India yang hendak bergabung dengan kawan seperjuangannya untuk membebaskan Goa dari cengkeraman Portugis. Abbas mau “mengocok” tokoh-tokoh Indianya. Ia ingin seorang aktor Muslim memainkan seorang Hindu fanatik, seorang Bengali memainkan Punjabi, dan Amitabh, karena perawakan dan tinggi badannya, dirasa cocok untuk memainkan peran seorang penyair Muslim. Meski begitu, peran itu pun jatuh kepadanya setelah aktor lain, Tinnu Anand, orang yang menyerahkan foto Amitabh kepada Abbas, memilih mundur dari film dan pergi ke Calcutta untuk bekerja dengan Satyajit Ray dan akhirnya jadi seorang sutradara.

Film itu gagal. Namun, ada satu momen yang mencolok terjadi saat syuting, yang menandai lahirnya seorang aktor.

Bachchan (paling kanan, paling jangkung) dalam “Saat Hindustani”

Adegan terakhir memperlihatkan tujuh orang pejuang India yang jadi lakon tengah berebutan menaiki sebuah bukit. Badan mereka satu sama lain saling terikat tali, dengan Amitabh menjadi orang yang paling akhir. Amitabh tak mau perannya di adegan itu—termasuk di dalamnya terpeleset karena batu yang dipijaknya luruh dan kemudian menggantung di air terjun sebelum salah seorang temannya menariknya—dimainkan pemain pengganti. “Kalau pakai pemain pengganti,” Abbas mengenang, “aku harus mengambil long shot. Tapi karena ia tak mau diganti, aku bisa men-zoom-nya, dan menampilkan rasa sakit itu tepat di wajahnya.”

Setelah adegan itu diambil, Bachchan merangkak-rangkak naik dengan dengkul babak-belur. Begitu selesai, seluruh teknisi yang basah-kuyup oleh tempias air terjun, bertepuk tangan dengan gemuruh.

Meskipun menunjukkan kesungguhannya di pekerjaan yang baru digelutinya, di luar layar ia tetap seperti anak sekolahan yang budiman. Seperti semua film Abbas, film ini juga berbajet rendah. Seluruh aktor diminta untuk membawa kasur sendiri, sementara untuk menginap selama enam minggu syuting di Goa mereka disediakan sebuah aula besar untuk tidur. “Kami semua,” kata Abbas, “menyenderkan koper di dinding dan membiarkan kasur berserakan di aula. Kecuali Amitabh. Tiap malam, ia membuka koper besarnya (koper terbesar yang pernah dilihat Abbas), mengeluarkan dan menggelar kasurnya, dan memasukkannya kembali ke koper saat pagi.”

Dan ia tetaplah anak mama. Ketika di lokasi syuting ia bertemu Madhu, yang kemudian menjadi aktor terkenal di perfilman Malayalam, ia memperkenalkan dirinya sebagai putra Teji Bachchan. Madhu bertemu ibu Amitabh ketika ia kuliah di National School of Drama di Delhi dan ia juga seorang pengagum berat puisi-puisi Harivanshrai. Madhu mengenalinya saat Amitabh menghafal bait-bait sajak ayahnya sepanjang waktu, sebentuk latihan yang disebut Madhu mengasah kualitas suara Bachchan. Maka, ketika sutradara Satyajit Ray menginginkan seorang pengantar cerita di filmnya Shatranj Ke Khiladi, ia memakai suara Bachchan. Dan suara baritonnya menjadi tokoh tersendiri di film itu.

Di luar kegagalan film pertamanya tersebut, Bachchan sebenarnya sudah mulai ambil bagian. Meski begitu, tak seorang pun yang tampak ingin menjadikannya seorang bintang, apalagi megabintang. Makanya, Bachchan mengambil apapun peran yang ditawarkan kepadanya. Di dunia macam Bollywood, seseorang yang ingin menjadi hero (lakon) tak akan mau memainkan peran-peran tidak simpatik di film. Namun Bachchan memerankan tokoh jahat di Gehri Chaal dan Parwana. Di film Reshma Aur Shera, yang memperkenalkan beberapa pemain yang kelak menjadi bintang, di antaranya Vinodh Khanna dan Raakhee, Bachchan yang dijanjikan Sunil Dutt main di filmnya, kebagian peran sebagai orang bisu.

Namun, pada 1969 Bollywood memang tidak perlu (lagi) mencari bintang. The Big Three mulai menua, dan seorang anak muda muncul—dan tampaknya yakin akan mengambil alih tempat Dilip Kumar, Dev Anand, dan Raj Kapoor. Namanya Rajesh Khanna.

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006), khususnya bab 15, ‘A Shy Man and His Use of Anger’.

 

Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 2)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Lelaki Pemalu dari Allahabad

Bagi seseorang yang akan dikenal sebagai si pemuda pemarah se-India, latar belakang Amitabh Bachchan dan masa pertumbuhannya menyumbang sangat kecil bagi munculnya amarah yang ditampilkannya di layar. Saat remaja belia ia terlalu budiman, jenis remaja India yang tak dikehendaki oleh Subhas Bose (Bapak Tentara Nasional India itu). Meski demikian, jika mengaca kepada saat kelahirannya, ia hampir-hampir akan dinamai Inquilab (revolusi). Sebabnya, ia lahir pada 11 Oktober 1942, saat India tengah giat-giatnya berada dalam gerakan Quit India, gerakan keempat dan terakhir yang digalakkan Mahatma Gandhi untuk memerdekakan India dari jajahan Inggris. Inggris menghalau gerakan itu dengan keras, dan karena itulah ayahnya, Harivanshrai Bachchan, ingin memanggil anaknya Inqilab. Namun, seorang penyair perempuan, Sumitra Nandan Pant, mengusulkan nama Amitabh, yang merupakan hasil penggabungan dua kata, Amit dan Abha, dan ia menerimanya. Banyak temannya yang masih memanggilnya Amit, yang berarti Terang yang Tak Berkesudahan.

Dilihat dari banyak segi, Amitabh Bachchan juga lahir di lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya kekuasaan di India segera setelah merdeka. Kota kelahirannya, Allahabad, adalah juga kota keluarga Nehru, dan kedua orangtuanya, Teji (ibunya) dan Harivanshrai (ayahnya), sama-sama nasionalis yang bersemangat. Amitabh menganggap dirinya sangat tipikal orang Allahabad, kota yang dibentuk dari campuran yang kuat antara kebudayaan Hindu dan Islam, dan sebuah kota yang sangat dipengaruhi oleh keluarga Nehru—Nirad Chaudhuri berpendapat, Nehru adalah orang yang jauh lebih dipengaruhi budaya Islam dibanding budaya Hindu.

Keluarga Bachchan juga punya hubungan baik dengan penguasa Bollywood yang tengah naik daun. Keluarga itu berkarib dengan keluarga Kapoor. Harvanshrai biasanya datang ke pertunjukan panggung Prithviraj (Kapoor), lalu di belakang panggung ia akan membacakan syair-syairnya yang disukai Prithviraj. Namun, ketika Amitabh datang ke Bombay pada 1969 untuk mencari kerja, ia tak datang ke R.K. Studios (studio milik Raj Kapoor, anak Prithviraj—penerj.). Ia berusaha dan sukses jadi bintang tanpa “klik” itu, tak seperti kebanyakan orang India lakukan.

Amitabh tumbuh di keluarga yang disebutnya bernuansa campuran Timur dan Barat. Ayahnya adalah seorang penyair, penulis, dan orang yang dihormati di kancah kesusastraan Hindi, sementara ibunya berasal dari keluarga yang disebutnya kebarat-baratan. Bapak dari ibunya disebut punya bar di London, sementara sang ibu dididik di sekolah kesusteran dan memiliki seorang pengasuh bule.

Amitabh dibesarkan dengan ketat, hal yang menjelaskan kenapa ia jadi seorang pemalu dan punya persoalan dengan hal-hal sepele, seperti masuk restoran seorang diri. Sifat pemalunya ini mengganggunya pada masa-masa awal ia masih jadi aktor yang belum terkenal. Pada suatu waktu, ia punya janji dengan aktor Manoj Kumar untuk satu pekerjaan, dan Kumar memintanya untuk datang ke Studio Filmistan, tempat ia sedang syuting. Tiap hari selama seminggu Bachchan datang ke studio itu hanya untuk celingak-celinguk kikuk di depan gerbang, tak berani masuk karena malu. Yang mengejutkan, bahkan setelah ia berstatus superstar, setelah bertahun-tahun di dunia perfilman dan melakukan berbagai program yang disiarkan secara langsung, ia masih mengaku tetap saja amat pemalu dan introvert, sifat bawaan yang sering disalahartikan sebagai lagak sombong. Boleh jadi, karena sifat malu-malunya ini, dalam wawancaranya dengan Khalid Muhammed yang direkam pada 2002, ia bahkan masih bilang: “Aku dari dulu tetaplah aktor medioker. Percaya atau tidak, di setiap film, di setiap adegan, aku ngoyo. Aku harus selalu berusaha untuk lebih peka dan lebih cemerlang. Kami benci jadi medioker.”

Keluarganya tak benar-benar kaya: Bachchan senior berpenghasilan 500 rupe sebulan. Mereka tak punya peti es atau kipas angin gantung, sehingga kalau hawa panas India Utara sedang ganas-ganasnya ibunya akan menyiram lantai rumah untuk membuat ruangan lebih sejuk. Sebelum mereka punya kipas meja reyot, sang ibu akan meletakkan es batu untuk mengatasi rasa sumuk di sore hari.

Bachchan mengingat bahwa tak banyak anggaran untuk hiburan, meskipun kedua orangtuanya jelas-jelas mengarahkan anak-anaknya untuk memperoleh hiburan yang bermanfaat. Film cinta pertama yang ditonton Bachchan adalah kisah cinta Laurel and Hardy, sementara film Hindi pertamanya adalah Jagriti (1954) karya sutradara Satyen Bose, sebuah film dengan nada nasinalisme yang kuat, yang mengingatkan kepada para pemuda-pemudi India untuk memikirkan negara dan mengenang kejayaannya. Lebih belakangan, ia memuja akting Montgomery Clift dalam A Place in The Sun, juga Marlon Brando di hampir semua filmnya, khususnya The Wild One. Ia tak akan tidur semalaman jika habis menonton Limelight-nya Charlie Chaplin, film yang musik latarnya menghantuinya dalam waktu lama.

Persahabatan keluarga itu dengan keluarga Nehru juga membuat Bachchan mendapat akses (hiburan) istimewa. Ia dan keluarganya akan diundang apabila ada pemutaran film di Rashtrapati Bhavan, Istana Negara. Di sana ia bisa menonton film Cekoslowakia, Polandia, atau film Rusia, meskipun pesan-pesan anti-perang dari film-film itu tidak cocok dengannya. Ia memang senantiasa merasa bahwa tugas sinema bukanlah untuk berkotbah, tapi menghibur.

Pada 1956, setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Allahabad, Bachchan berangkat ke sekolah asrama, Sherwood College, di wilayah perbukitan Nainital. Ini adalah sekolah milik misionaris yang dikepalai Pendeta R.C. Llewwllyn. Agak aneh sebenarnya keluarga Bachchan bisa menyekolahkan anaknya di sekolah asrama. Ini berkat bapaknya pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Sebelumnya, sang ayah berangkat ke Inggris untuk menempuh PhD, yang disponsori oleh Nehru. Namun, ketika kembali ke kampus Allahabad University, tempat ia mengajar Sastra Inggris, ia justru mendapati gajinya dikurangi. Karena gusar, ia keluar dari pekerjaannya. Nehru kemudian memberinya pekerjaan sebagai Kepala Divisi Bahasa Hindi di Kementerian Luar Negeri (pada masa Nehru, Perdana Menteri juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri). Ini artinya keluarga tersebut mesti pindah ke Delhi, memperoleh penghasilan lebih baik, dan Amitabh pun bisa masuk ke sekolah asrama.

Di sekolah, ia menunjukkan kecakapan di bidang sains, sementara, meski tidak jelek, ia bosan dengan pelajaran seni. Oleh karena itu, ia bahkan bercita-cita menjadi seorang saintis. Meski begitu, ia adalah anggota aktif pementasan drama, yang dibimbing oleh orang Inggris bernama Mr. Berry. Untuk penampilannya sebagai Mayor di lakon Inspector General karya Gogol, ia memenangkan Kendall Cup, piala yang namanya mengacu kepada Geoffrey Kendall, ayah dari Jennifer (istri superstar Raj Kapoor) dan Felicity, yang memimpin rombongan teaternya berkeliling India, mementaskan drama-drama Shakespeare, terutama di sekolah-sekolah asrama. Kendall sendirilah yang memberikan piala itu kepada Amitabh. Amitabh selanjutnya mengasah bakat teaternya di Kirorimal College di Delhi lewat kelompok teaternya, “The Players”.

Walaupun memilih jalur sains, nilai akademiknya cuma di angka rata-rata. Ia hanya memperoleh izajah kelas dua ketika lulus pada 1962. Lalu ia merantau beberapa tahun di Calcutta, bekerja sebagai boxwallah, istilah India untuk menyebut orang yang bekerja mengatur agensi-agensi yang didirikan penjajah Inggris dan yang mengontrol bermacam perusahaan.

Jelas itu jauh dari awal yang cemerlang. Ia tidak lulus dengan nilai bagus, dan seperti yang kemudian dituturkannya: “Aku ambil tawaran yang kudapat, dan itu adalah divisi batubara dari rumah agensi bernama Bird and Co. Aku kerja dua tahun di sana sebelum pindah ke perusahaan bongkar-muat, Blacker dan Co.” Gajinya lebih baik, ia bisa beli mobil, sebuah Morris Minor hitam, yang kemudian ditukar yang lebih besar lagi, Standard Herald. Gaji penuh pertamanya 480 rupe, yang habis untuk membayar sewa kamar 300 rupe, kamar yang dibaginya dengan delapan orang di Russell Street, jalan utama di pusat Calcutta. Bird and Co menyediakan makan siang gratis, sementara makan malam didapat Bachchan dari sembarang tempat di pinggiran-pinggiran jalan Calcutta. “Perjalanan hidup yang biasa, sangat medioker,” katanya.

Namun, Calcutta memberinya kesempatan lebih di bidang drama amatir. Naskah-naskah Sartre, Arthur Miller, Tennese Williams, Beckett, Shakespeare, Harold Pinter, semua dipentaskan. Bachchan pernah berperan sebagai Nick di Who;s Afraid of Virginia Wolf dan menjadi Casio untuk Othello. Bosnya, David Gilani, berpikir bahwa akting Bachchan punya standar tinggi.

Meski begitu, Bachchan mesti menanggung prasangka rasial yang masih menyelimuti Calcutta pada awal ‘60-an, satu setengah dekade setelah Inggris pergi. Ia bilang, “Ada dua grup teater di sana. Ada kelompok Calcutta Dramatic Society, yang merupakan kelompok teater milik orang Inggris dan beranggotakan para bule. Kelompok lainnya adalah The Amateurs, yang isinya orang India, kebanyakan anak-anak sekolahan. Jadi, di antara dua kelompok ini adalah diskriminasi warna kulit. Di klub renang juga masing sangat sedikit orang Indianya. Beberapa di antara kami adalah orang-orang yang pertama diterima sebagai anggota. Belakangan, tentu saja sudah ada kemajuan. Diskriminasi sudah berkurang.”

 

*Diterjemahkan dari Bollywood: A History, Mihir Bose (2006), khususnya Bab 15, “A Shy Man and His Use of Anger”.

Standar
Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya: Kemunculan Amitabh Bachchan dan Lahirnya Genre Angry Young Man di Bollywood (Bag. 1)

15jan_Amitabh-Bachchan-Deewar-still

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

Pada 15 Februari 1969, seorang seorang pemuda 27 tahun bertampang anggota gerombolan dengan tinggi badan yang tidak jamak bagi kebanyakan orang India, lebih khusus lagi bagi seorang aktor, datang ke Bombay dan memutuskan untuk masuk dunia film. Hari itu juga ia mendapatkan kesempatannya. Film tersebut jeblok, namun kesuksesan tak bisa menolaknya. Kesuksesan itu datang empat tahun kemudian bersama dengan sebuah film yang dipandang sebagai landaspacu perfilman yang baru, dan tak lama kemudian sang bintang tersebut merevolusi Bollywood. Anak muda itu adalah Amitabh Bachchan. Baca lebih lanjut

Standar