musik

Musik India, Saya, dan Kita*

Oleh Mahfud Ikhwan

“Bagaimana bisa kamu tidak menyukai musik yang dilahirkan dari peradaban tertinggi dan tertua di dunia?”

— Mustofa —

Saya tak bisa menutupi rasa tertarik saya saat Mustofa—begitu nama mahasiswa filsafat yang dengan bangga mengaku sering menguji laku nyufi-nya dengan menonton film porno itu—saya tangkap basah tengah menyimak lagu India dari radio. Ketika saya tanya apa alasan ia suka lagu India, kalimat balik bertanya itulah yang jadi jawabannya. Sebagai orang yang merasa tak pernah bisa menemukan alasan yang pas kenapa saya menyukai musik dan film India selain bahwa itu sebuah takdir, kalimat pembelaannya yang dahsyat itu membuat saya seperti Arya Kamandanu yang akhirnya menemukan mantra penakluk pedang Naga Puspa—setelah sebuah pengembaraan yang panjang. Tapi, lebih dari itu saya merasa bahagia, seperti seorang yang bertemu saudaranya yang lama hilang, karena menemukan orang lain yang dengan bangga mengakui kesenangannya dengan lagu India di Jogja. Di Jogja!

Jangankan di Jogja, saya bahkan sudah menjadi orang asing dengan selera aneh ketika menetap di sebuah kota kecil di Lamongan saat SMA. Padahal, kota itu hanya beda kecamatan dengan desa asal saya, dan hanya butuh waktu tiga jam untuk pergi-pulang. Bayangkan saja, saat teman sebangku punya tas sekolah yang penuh coreng-moreng tulisan “KLa Project”, “Klanis”, dan “Salam Ungu!” (dan sepanjang waktu menggumamkan lirik “aku tak pernah pindah, pindah ke lain hati…”), saya bahkan belum tahu pasti apakah KLa Project itu nama sebuah band atau nama penyanyi pria aneh dari luar Jawa macam Yoppy Lattul atau Amri Palu. Saya juga hanya bisa diam seribu bahasa jika pada sebuah reriuhan teman-teman menyanyikan lagu-lagu Slank seperti “Kupu-kupu Liar” atau “Fotoku dalam Dompetmu”, atau yang lebih sulit dari itu, karena satu-satunya lagu yang saya tahu dari band itu cuma “Maafkan”. Demikian juga ketika mereka ribut-ribut omong soal lagu-lagu Green Day, Nirvana atau Arkarna, saya diam-diam memilih menepi. Sebaliknya, teman-teman di pondokan yang mengantri mandi di belakang saya akan memandang aneh saat saya keluar dari kamar mandi, karena di bibir saya masih menggantung irama terakhir lagu “O Priya Priya” dari OST Dil-nya Aamir Khan—setelah sebelumnya, hampir sepanjang sepuluh menit, mereka mendengar saya jebar-jebur sembari melengking-lengking, meratap-ratap, untuk berusaha menyamai suara Suresh Wadkar di lagu itu. Bahkan sampai di tahun-tahun kemudian, mereka tetap menggeleng-gelengkan kepala ketika untuk kesekian kali mereka mendapati saya mengirimkan kartu-kartu pos ke acara Irama Gangga di Radio Ronggohadi hanya agar nama Vijay Avtara, nama pengemar yang saya pakai, muncul di radio itu, disebutkan penyiarnya.

Berpengalaman jadi orang dengan selera minoritas di SMA, saya jadi sangat siap saat datang ke Jogja. Meski orang ramai menyebutnya Kota Budaya, juga di kota inilah untuk pertama kalinya dan sekali-kalinya saya menonton film India di bioskop, tak bisa saya mungkiri, Jogja adalah tempat yang sulit bagi penggemar musik India. Bagaimanapun, pantai selatan Jawa memang tak setenang dan selandai pantai utara Jawa, tempat lagu-lagu India dan lagu-lagu slowrock Malaysia menepi dengan damai, disambut sangat hangat, dan tak kesulitan untuk segera dianggap sebagai bagian dari warga setempat. Sudah begitu, saat saya mulai menjadi penghuni Jogja, film-film India sudah mulai mundur teratur dari layar kaca. Permakluman saya lainnya, Jogja, bagaimanapun, adalah kota yang karakter kekotaannya puluhan kali lipat dari sebuah kota kecamatan macam Babat. Jika kota perlintasan yang goyah dan gampang berubah seperti Babat saja begitu mengintimidasi, coba bayangkan macam mana nasib selera musik India saya di sebuah kota yang telah begitu pejal peradabannya macam Jogja. Jadi, bisa apa saya? Paling-paling, saya hanya bisa bersyukur, karena ketika saya tengah menonton film India tak seorang pun akan mengusik saya, menanyakan film sudah sampai mana, siapa yang main, atau nyerocos menerka-nerka ujung adegan—sebab semua orang memang memilih menyingkir, hehehe…

Itulah kenapa saya sangat senang ketika ketemu Mustofa.

***

Saya percaya, bahkan di kota macam Jogja, penggemar lagu-lagu India—jika mereka “speakout” dan membuat sebuah komunitas seperti para pengendara motor merek tertentu—pasti akan lebih banyak dari para pemuja band-band Amerika paling populer sekalipun. Tapi, seperti yang pernah saya tulis berkait dengan film India, menghubungkan diri dengan kebudayaan pop India hampir sama risihnya dengan mengakui berapa keping vcd porno yang kita tonton dalam sebulan. Memuji-muji keteduhan mata Manisha Koirala akan terasa seperti membincangkan berapa jumlah tindik yang ada pada organ intim Asia Carrera. Musik Portieshead kadang dinilai terlalu aneh dan menyakitkan telinga, tapi komposisi A.R. Rahman (komposer “Chayya Chayya”), misalnya, adalah hampir sebuah olok-olok.

Saya sedikit beruntung karena punya karakter yang memungkinkan saya menjadikan lagu dan film India saya sebagai alat pertahanan, sebagaimana cangkang bagi seekor siput. Tapi, saya kira itu tak terjadi dengan kebanyakan mahasiswa dari manca yang membawa serta kesenangannya akan lagu India ke Jogja. Alih-alih membanggakannya, seperti para pengendara Suzuki Satria menjejerkan motornya, mereka sering memilih menyembunyikan pemujaan mereka atas suara Latta Mangeshkar atau SP Balasubrahmaniam di balik tumpukan buku dan kasur kempes di kos-kosan mereka. Saya kadang hampir yakin, untuk beberapa orang, menyatakan bahwa ia menyukai film dan lagu India sama repotnya dengan menyatakan kalau ia menyukai sesama jenis.

Tapi, rasa-rasanya, tak hanya kota seperti Jogja yang membuat sulit para penggemar lagu India. Secara umum, Indonesia adalah tempat yang sulit pagi penggemar India, meski yang disebut terakhir ini bisa jadi adalah mayoritas dalam hal kuantitas. Bagi sebuah negara-bangsa yang memiliki inferiority complex yang akut macam begini, mengaku menyukai hal-hal yang dianggap tak lebih tinggi dari milik sendiri adalah perjuangan yang sama melelahkan dengan menuntaskan revolusi kemerdekaan. Yang jadi masalah, apakah ukuran hal-hal yang lebih tinggi itu, kita tak pernah punya. Lama saya yakin bahwa apa yang kita anggap lebih tinggi itu berarti yang dibikin oleh orang-orang Kaukasoid, dengan budaya Eropa-Amerika sebagai representasinya. Tapi, ketika saya melihat di televisi para remaja untuk sebagian berlomba-lomba menyipitkan mata dan mengejurkan rambut sementara sebagian yang lain berama-ramai bertopi miring dan menggelayuti leher dengan aneka blink-blink, maka yang jauh lebih masuk akal adalah pendapat bahwa apa yang lebih tinggi dari milik kita adalah hampir apapun yang berasal dari luar, kecuali India—dan, dengan alasan yang sedikit berbeda, Malaysia.

Apakah Indonesia yang saya bicarakan di atas adalah gerombolan massa yang sepenuhnya menggantungkan selera mereka hanya pada iklan televisi dan majalah remaja? Oh, tentu tidak. Saya bicara tentang hampir kita semua. Sekadar contoh saja. Ketika wabah dekonstruksi membius kaum terdidik Indonesia, dan media-media dengan tradisi intelektual paling disegani macam Kompas dan Tempo amat bersemangat menyediakan rubrik-rubrik gaya hidup yang dihidup-hidupi spirit studi kebudayaan, subkultur-subkultur yang selama ini terinjak mendapatkan ruang seluas-luasnya. Kanon-kanon kebudayaan dan pengetahuan di belakang mereka giat mendakwahkan bahwa yang banal dan yang sublim itu tak begitu jelas batasnya. Sebuah tulisan takzim tentang hura-hura di pantai Ancol, yang tak kalah mendalam dan seriusnya dengan ulasan pentas terakhir Rendra, bisa memungkinkan tampil. Tetapi, oh tetapi, tak semua yang “terinjak” itu diberi uluran tangan. Musik India, bersama sejawatnya, musik dangdut, tetaplah berada di posisinya semula: sebagai paria. Ketika kebiasaan-kebiasaan aneh minoritas anak kota semacam cosplay atau parkour—yang menurut pandangan saya sangat konyol—dirayakan dengan antusiasme berlebih, atau ketika tradisi-tradisi arkais hampir punah dilap-lap dengan penuh semangat konservasi, musik India yang bisa didengar di hampir sepanjang garis pantai di sekujur kepulauan Indonesia tetaplah sebuah folder besar budaya massa yang di-ignore jika dijumpai—kalau tidak malah di-delete karena disangka sejenis virus.

Ya, tentu saja bukannya tak pernah kita mendengar bahwa menjadi agak ke-India-india-an juga bisa terlihat keren. Apa yang dilakukan oleh penyanyi Tompi, misalnya. Tak lama setelah melejitnya lagu “Jay Ho” bersamaan dengan meledaknya film Slumdog Millionaire-nya Danny Boyle, Tompi dan Shanty meluncurkan sebuah single yang jelas terdengar dan terlihat seperti lagu bikinan A.R. Rahman itu. Pertanyaanya, apakah Tompi dan Shanty membuat lagu itu karena dorongan dan naluri eksploratif seorang musisi—sebagaimana saat gitar George Horrison mengadopsi suara sitar Ravi Shankar atau saat Eddy Vedder mencoba menjajarkan suara baritonnya dengan suara melengking musisi sufi asal Punjab, Nusrat Fateh Ali Khan? Saya terus terang meragukannya. Kalau mereka adalah para musisi pencari, Tompi dan Shanty tak perlu menunggu munculnya film tentang India yang dibenci orang India itu. Sebab, musik-musik A.R. Rahman sebenarnya telah merajalela di Indonesia jauh sejak belasan tahun yang lalu, ketika OST Dil Se tengah mengharu-biru radio-radio di sepanjang pantura Jawa, dari mulai Muara FM di Jakarta sampai Suara Giri FM di Gresik. Ya, terpaksa saya katakan, bagi orang seperti Tompi atau Santhy, dan mungkin sebagian besar dari kita, (lagu) India baru tampak menjadi keren jika ia muncul dari tempat yang bukan India. Panggung sebuah penghargaan film di Amerika, misalnya.

Cara pencerapan yang aneh? Tidak. Bukankah orang-orang (kota) Indonesia mengenal yoga dari instruktur-instruktur bulenya? Demikian juga, goyangan dada yang telah dilakukan Malaika Arora di atas kereta pada lagu “Chaiyya Chaiyya” di film Dil Se (1998), menjadi bahan tiruan di Indonesia justru lewat video klip lagu Beyonce.

***

Masa-masa dan pengalaman yang sulit bersama lagu-lagu India itu pula yang membuat saya ikut senang saat melihat Briptu Norman “menggila”. Saya merasa seperti menemukan teman seiring setelah sekian lama berjalan sendirian—bisa menghafal “Chayya Chayya”, benar-benar gila India itu orang! Tiba-tiba saja, saya seperti melihat sebuah jembatan tak kasat mata tapi lempang yang membentang antara Gorontalo dan Lamongan. Boleh dibilang, saya ketemu dengan Mustofa berikutnya.

Karena itu juga, saya turut gembira ketika media—terutama televisi—menempatkan mas polisi ini sebagai headliner program-program berita mereka.

Tapi, mengalaman-pengalaman sulit itu juga mengajarkan kepada saya bahwa tak boleh ada harapan berlebih berkait fenomena Briptu Norman. Misalnya, dengan berharap kebangkitan kembali musik dan film India di media dan kanal-kanal publik kita, atau munculnya “komunitas-komunitas kreatif-inovatif” yang dengan bangga mengakui budaya massa India sebagai sumber inspirasinya. Bagi saya, tak sulit untuk menemukan alasan kenapa kebanyakan dari kita tertarik dan menyanjung Briptu Norman dan videonya. Bukan karena ia menjogeti sebuah lagu India. Bukan pula karena ia seorang polisi dengan suaranya cukup bagus saat menyanyikan secara langsung lagu “Dolna”-nya Udith dan Latta di depan komandan dan rekan-rekannya. Melainkan karena kombinasi yang aneh antara keduanya. Ya! kita, media, menyukai Briptu Norman karena dalam dirinya kita menemukan dua hal yang sebelumnya tak terbayangkan muncul dalam satu kemasan: seragam Brimob yang (dicitrakan) garang dan lagu India yang (dipandang) kampungan. Kombinasi aneh yang menarik bukan? Itu sama menariknya dengan timpangnya ukuran lingkar pinggang dan lingkar dada Inong Melinda. (Itulah kenapa keduanya sama-sama, dalam satu masa, menjadi berita utama di tv-tv kita!)

Memang berhamburan kata-kata pujian semacam “kreatif” atau “manusiawi” atau bahkan ”awesome”. Tapi, bukankah begitu juga celetukan si bocah yang untuk pertama kalinya melihat topeng monyet? Jadi, seperti juga si bocah yang melihat monyet dan topi pak taninya, kebanyakan dari kita akan melihat Briptu Norman dengan wajah riang gembira tapi sekaligus tetap waspada dan menjaga jarak darinya. Dengan kata lain, kita menikmati aksi Briptu Norman, tapi tak berkeinginan untuk bergabung apalagi sama dengannya. Kekaguman luar biasa Marisa Anita atau Tina Talisa kepada Briptu Norman, sangka saya, tak akan banyak berpengaruh bagi pandangan mereka terhadap musik India—persis seperti keranjingan kita kepada Shinta-Jojo sama sekali tak memiliki korelasi dengan berubahnya persepsi kita tentang musik tarling Cirebonan. Pujian-pujian dalam narasi yang berlebihan di kanal berita Trans 7 kepada “Polisi India kita” tak akan membuat mereka mengoreksi narasi bebal di program lain, di mana mereka menganggap bahwa munculnya Inspektur Vijay dan Tuan Takur adalah salah satu dari tujuh hal yang selalu muncul di film Bollywood. Malah mungkin, justru menguatkan. Dengan demikian, seseorang yang begitu girangnya menyaksikan video Briptu Norman berjoget India, pada waktu yang sama dan untuk waktu-waktu selanjutnya, bisa saja tetap akan menjadi seorang pembenci nomor satu Ridho Rhoma—tak perduli nama terakhir itu bisa berjoget India lebih baik dari Briptu Norman dan bernyanyi lebih bagus dan lebih mirip dengan para playback singer yang biasa menyanyikan lagu-lagu A.R. Rahman macam Sonu Nigam.

Sebagai penggemar lagu-lagu India, tentu saja hati saya menginginkan sangkaan-sangkaan saya ini tidak benar. Tapi, berkaca pada pengalaman, kepala saya agak sulit untuk mempercayainya.Pada akhirnya, mantra sakti yang diucapkan Mustofa tetap saja hanya akan jadi pegangan mereka yang sudah percaya. Daripada memiliki efek profetis, kalimat Mustofa itu tak akan pernah melebihi fungsi apologetiknya.

Tak apa. Saya dan penggemar musik India lainnya pasti bisa membiasakan diri dengan itu.

*Tulisan ini, dengan bentuk awal dan judul “Briptu Norman, Musik India, dan Lingkar Dada Inong Melinda” bisa juga ditemukan di mahfudikhwan.multiply.com.

Iklan
Standar