ajay devgan, bhagat singh, film dan agama, film india tentang kekristenan, kuch kuch hota hai, kunal kemu, mahesh bhatt, pooja bhatt, resensi film india, shah rukh khan, zakhm

Zakhm: Kisah seorang Kristen yang Harus Menghadapi Saudaranya yang Hindu Agar Bisa Menguburkan Ibunya Secara Islam

Oleh Mahfud Ikhwan

— untuk teman-teman yang merayakan Natal

poster

1/

Sejak kemunculannya, industri film India, terutama Bollywood, pada dasarnya berkarakter sekuler. Kebarat-baratan di masa-masa awal, nasioalistis di masa-masa menjelang dan setelah kemerdekaan, sosialis-komunis-atheistis di beberapa kesempatan, dan selebihnya adalah paisa-vasool, ideologinya uang. Meski demikian, tentu saja film India tak bisa memisahkan dirinya sepenuhnya dari agama–apalagi, menurut kritikus film Andre Bazin, sebagaimana dikutip Rachel Dwyer, film pada dasarnya selalu memiliki ketertarikan pada Tuhan.

India adalah bangsa religius, dan hampir setiap hal yang hadir dan membesarkan peradaban dan kebudayaannya mencerminkan atau merupakan ekspresi keberagamaan: mitologi, sandiwara, syair, musik, tari, seni rupa, hingga arsitektur. Dan, berkait dengan cita-cita besar pendiri industri film India, Dada Palke Saheb, bahwa film India “harus bisa menampilkan gambaran tentang India (seharusnya) di layar kaca”, para produser film India tentu saja tidak mungkin bisa mensterilkan gulungan seluloid mereka dari adegan-adegan berbau agama. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
resensi film india

SURAT UNTUK WAHAB TENTANG “AARAKSHAN”

Amitabh_Bachchan_Aarakshan_Movie_Still

Jogja, 16 Desember 2014

Hab,

Jika saja ini ajakan ngopi, maka aku cuma butuh memencet beberapa huruf dan mengirimimu sms. Dan kalau hanya sms, tentu aku akan pakai bahasa Jawa cakapan yang biasa kita pakai: “nondi?” atau “nomah?” atau “Juni!”. Tapi, aku mau ngomong tentang film–film India tentu saja. Jadi, jelas tak mungkin pakai sms; dengan telepon pun rasanya tak cukup. Dan karena kita tidak sedang duduk di beranda rumahku, atau di dipan warungnya Mbok Juni, atau warungnya Nyo’ah, juga tak mungkin dalam sehari-dua ini aku pulang kampung dan nonkrong seharian di rumahmu, maka kuputuskan saja untuk menulis surat untukmu. Ya, sebuah surat untukmu.

Tapi, sebentar. Sebelum berpikir macam-macam soal surat ini, Hab, aku tegaskan sekali lagi ini surat tentang sebuah film India–film India yang bahkan kutonton di rumahmu, di kamarmu, di komputermu. Mungkin rencana perkawinanmu tinggal berbilang minggu, tapi ini tak ada kaitannya dengan itu.¬†Maksudku begini: selama memungkinkan, misalnya saja jalan Jogja-Surabaya tidak tiba-tiba putus atau meteor raksasa mak bedunduk menghantam Pulau Jawa, aku akan pulang dan menghadiri akadmu dengan bangga dan bahagia. Pernikahan kalian adalah sebuah akhir bahagia dari FTV versi nyata yang akan sulit aku lewatkan.

Aku menonton Aarakshan di rumahmu malam itu, sendirian, saat Hendro sedang khusuk menonton serial Mahabharata di ruang tamu dan kamu belum pulang dari kerja. Dan, ya, itu kukira cara terbaik menonton film macam itu, film dengan tempo cepat namun panjang, berisi isu-isu sosial-ekonomi-politik berat yang dicampuradukkan, khas film-film garapan Prakash Jha. Baca lebih lanjut

Standar