musik, satire, shah rukh khan

5 Lagu India Paling Cocok Bagi Para Pesepeda*

Oleh Mahfud Ikhwan

 

BILLU-02

 

1. “Haule Haule” (OST Rab Ne Bana Di Jodi, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh)

Sedang ingin menikmati setiap kayuhan, mensyukuri setiap embusan angin yang menerpa wajah dan dada, menghirup sepuasnya oksigen yang dihasilkan rindang pohon tepi jalan, mengucap wirid dan mensyukuri nikman Tuhan pada tiap pancalan, maka lagu ini untuk Anda. “Haule Haule” artinya “pelan-pelan”. Ia mengacu pada sikap penuh kesabaran, tak tergesa, tapi sekaligus—meminjam judul lagu mantan Presiden SBY—“yakin sampai di sana”. Meski demikian, musik lagu ini tidak sepelan judulnya, malah terkesan rancak, terutama setelah reff. Ia meruapkan optimisme, bahwa apa yang tengah dilakukannya ada di jalur yang benar, pasti tidak sia-sia. Seorang pengarang yang memiliki keangkuhan, yang menganggap bahwa seluruh dunia tak akan bergerak kecuali setelah menyaksikannya karyanya terbit dan memukai jagad raya, sangat cocok dengan lagu ini.

Namun, tampaknya, tak ada yang lebih cocok dengan lagu ini melebihi seorang pesepeda yang baru pulang dari kencan, ngapel, dan terutama yang sehabis nembung dan diterima. Sembari membayangkan Surinder Sahni dengan kumisnya yang kuno dan kotak makanan terkalung di leher tengah mengendarai skuter kuningnya yang meluncur pelan menuju kantor, lagu ini akan membuat Anda merasa selama mungkin dekat dengan si dia yang Anda tinggal di belakang, dan merasa lambaian tangan dan senyum selamat jalannya ada di jangkauan. Dan, dengan perasaan macam itu, apa gunanya cepat sampai rumah?

Tapi, jangan lupa menyanyikan lagu ini sembari berdoa. Sebab, bagaimanapun, cewek yang Anda tinggalkan sangat rentan dari godaan cowok pengendara KLX atau penunggang Vespa Ndog yang sudah dimodivikasi belasan juta.

 

2. “Omkara” (OST Omkara, 2006; penyanyi: Sukhwinder Singh)

“Omkara” adalah sebuah himne tentang seseorang yang bisa mengalahkan siapa pun, melempangkan jalan ke tujuan akhir dengan cara apapun. Ia menyimpan amarah dan dendam sekaligus keberanian, tapi terutama keyakinan. Tak lama lagi, dunia akan digenggaman. Tidak gampang, tapi itu niscaya.

Jika Anda dan ontel Anda meninggalkan rumah dengan perasaan macam itu, tak salah lagi inilah lagu Anda. Ia cocok untuk penyair yang baru saja melahirkan masterpiece, dan di tempat ia nanti membacakan puisi itu, hadirin sudah membeludak tidak sabar; pengarang yang baru saja menyelesaikan novel tebalnya, dan ia merasa para penerbit tidak akan punya pilihan lain begitu membacanya selain menekuk lutut dan memohon-mohon untuk menerbitkannya, dan tentunya; seorang pencinta yang berangkat kencan dan merasa yakin bahwa status-status hebat dan buku-buku berat yang diunggahnya di facebook akan membuat cewek yang akan ditemuinya menerima cintanya bahkan tanpa ditembaknya.

Cermati tepat di koor “Ooom…kara! Ooom… kara!”, cerap suara perkusinya yang mentah dan garang itu, dan bayangkan Anda adalah Omi Shukla yang perkasa dan tak terkalahkan. Niscaya sepeda Anda akan meluncur dengan mulus, lobang-lobang di jalan akan menutup dengan sendirinya, dan para pengendara mobil akan menyisi jika tidak malah membuka kaca mobilnya dan mengulurkan salam takzim. Jika sepeda Anda bergigi ganda, pastikan setel di gigi paling tinggi. Sebab memang tak akan ada yang bisa menghalangi laju Anda.

Tapi tetap harus hati-hati. Sumber Kencono masih terus hidup dan beranak pinak.

 

3. “Dhan Te Nan” (OST Kaminey, 2010; penyanyi: Sukhwinder Singh & Vishal Dadlani)

Bayangkan Anda mengalahkan lawan Anda dengan cara yang paling memalukannya. Bayangkan Anda memenangkan sebuah kompetisi dengan cara yang paling tidak disangka. Bayangkan Anda berjingkrak berpesta juara dan orang-orang hanya bisa menonton dan merasa bodoh. Tak ada yang lebih cocok untuk perasaan macam itu selain lagu “Dhan Te Nan”, “Dhan te nan….. rerereret!

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika memutar lagu ini saat bersepeda: 1) pastikan earphone terpasang dengan rapi, sebab nanti kepala Anda tak akan henti untuk mengangguk-angguk, bahkan dengan keras; 2) pastikan skrup di sadel terpasang dengan kuat, karena badan Anda tak akan berhenti meliuk; 3) perhatikan jalan, banyak lobang.

 

4. “Jaon Kahaan” (OST Billu, 2009; penyanyi: Rahat Fateh Ali Khan)

Lagu ini muncul sesaat setelah Billu, seorang tukang cukur sederhana di sebuah kota kecil, gagal bertemu sang bintang film Sahir Khan, yang sudah kadung dianggap oleh orang seluruh kampungnya sebagai sahabatnya, dan karena itu ia dicap sebagai penipu. Maka, orang-orang yang dulu memujanya menjauhinya, pemodal yang menghibahkan perangkat salonnya merampasnya kembali, pesaing bersukaria di tengah dukanya, bahkan anak-istrinya ikut-ikutan tak mempercayainya. Singkatnya, lagu ini mewakili perasaan hancur, kehancuran yang Anda tak tahu cara mengatasinya kecuali meratap kepada Yang di Atas (burung-burung?).

Ada setidaknya dua tips bersepeda sembari mendengarkan lagu ini: 1) tepat saat luka hati tak tertahan lagi, ikutilah teriakan meliuk “aaaaaa……..” Rahat Fateh di pengujung bait pertama. Akan lebih pas jika dibarengi dengan mengangkat sebelah tangan ke udara, kemudian menepi, merubuhkan sepeda, lalu terduduk dan menangis; 2) buka tutup pentil ban, kempiskan sampai sekempis-kempisnya, kemudian tuntunlah pelan-pelan; akan lebih sempurna jika hari hujan.

 

5. “Jag Soona Soona Lage” (OST Om Santi Om, 2007; penyanyi: Richa Sharma & Rahat Fateh Ali Khan)

Jika perasaan hancur yang Anda tanggung tak lagi terwakili oleh “Jaon Kahaan”, maka hanya lagu ini yang bisa menangani. Tapi, tetap harus diperhatikan bahwa Anda membanting sepeda di tempat yang tepat, tidak di tengah jalan atau di depan rumah bakul besi tua—agar, setidaknya, kalau perasaan hancur itu siapa tahu bisa sembuh, sepeda Anda setidaknya masih bisa dikendarai.

Namun yang terpenting: hindari pinggir jembatan dengan dasar sungai yang terjal atau perseberangan kereta api tanpa pintu. Bukan apa-apa, cuma sayang kalau lagu ini hanya didengar sampai di bagian ral Richa Sharma yang tinggi parau nyaris histeris itu. Bagiannya Rahat juga menyayat, tapi cukup mendayu untuk membuat hati yang hancur meleleh sebentar, menangis meraung, untuk kemudian jadi lebih tenang.

 

* tentu dengan catatan

(bersambung)

 

Iklan
Standar