film, film india dan saya

Minggir, Inspektur Vijay Telah Kembali! (Bag. 2)*

Oleh Mahfud Ikhwan

*bagian terakhir dari dua tulisan

Inspektur Vijay: Memble tapi Kece

Film-film India bergenre ‘Inspektur Vijay’ oleh para pengritiknya mungkin akan dengan enteng dibilang sebagai film memble. Tapi, saya—sembari meminjam kalimat Jaja Miharja sekaligus membayangkan wajah Bachchan muda—dengan bangga akan katakan bahwa “biar memble, Inspektur Vijay tetaplah kece”.

Dalam banyak standar (film atau fiksi), agak sulit ditolak kalau sebagian (mungkin besar) film-film ala ‘Inspektur Vijay’ memang memble: kampungan, bercitarasa rendah, cerita klise, plot formulaik, penokohan yang datar dan hitam-putih, keaktoran yang seadanya—saya tak perlu kuliah sastra untuk tahu itu. Dengan sedikit pukul rata, kita bisa memadankan sebagian film-film India jenis angry young man dengan film-film Hollywood yang dibintangi Cuck Norris, JC van Damme, Steven Seagal, Eric Robert, atau Mark Dacascos. Tapi, ada sesuatu yang hampir pasti dibawa oleh Bachchan dan para penerusnya dari Bollywood yang tak bisa disuguhkan Norris dan rombongan jagoan dari Hollywood itu ke penonton: basis sosial-politik yang kental—bahkan terkadang berat.

(Oke, Anda sekarang boleh tahu, selain soal memori dan melankolia, faktor basis sosial-politik inilah yang membuat muka keruh Inspektur Vijay dkk. mendapat tempat terhormat di hati saya, mengalahkan Raj dan Rahul dan pacar-pacarnya, juga muka bersih dan rumah megahnya.)

Cerita dalam film-film India jenis angry young man—entah sengaja atau tidak—hampir selalu menautkan dirinya dengan kuat terhadap realitas yang ada di masyarakatnya. Tak cukup tahu latar belakang ideologi para kreator yang punya pengaruh besar di genre ini, macam Prakash Mehra atau Manmohan Desai, saya cuma bisa menduga kalau muatan sosial-politik itu bisa jadi karena konsekuensi formula-formula yang selalu dipakai berulang-ulang di film. Karakterisasi baik-jahat, miskin-kaya, penindas-tertindas, jelata-penguasa, yang secara setia dipilih oleh film-film macam ini, mungkin saja jadi sabab-musababnya. Misalnya, seorang penjahat kaya nan keji mestinya dilawan seorang inspektur polisi miskin dan baik hati, tuan tanah serakah sepantasnya digasak bocah yatim sebatangkara, atau seorang konglomerat jahat yang kongkalikong dengan pejabat haruslah diberangus pemuda berangasan dari sebuah kampung kumuh yang hendak digusur. Dalam pada itu, selain melulu soal balas dendam (yang hampir selalu ada), film-film angry young man kemudian mengunggah soal keadilan sosial, benturan antarkelas, hingga kesenjangan antara negara dan warganya.

Meski lamat-lamat dan memburam dalam ingatan (karena dulu saya tonton di tv hitam putih) saya tak bisa melupakan tokoh Iqbal yang dimainkan Bachchan di film Coolie, seorang yatim, tukang panggul kereta api (kuli), yang mengorganisir kawan-kawan sekerjanya melawan sang penindas, Zafar Khan. Tumbuh dengan memori bahwa buruh identik dengan PKI yang tak beragama, saya dibuat terpana oleh pahlawan buruh yang juga seorang pejuang agama ini.

Namun, yang paling mengesankan saya—dan karena itu tetap segar dalam ingatan—adalah saat Jagu, seorang preman resedivis, memimpin warga kampungnya yang hendak tergusur untuk mengepung, menduduki, membakar gedung parlemen, dan menyandera para wakil rakyat. Dibintangi oleh Jacky Shroff sebagai Jagu, film yang sangat belakangan baru saya ketahui berjudul Angaar (1992) ini memaparkan dengan gamblang dan telanjang tentang perjuangan sebuah komunitas yang jadi korban perselingkuhan pemilik modal dan pemegang kuasa. Menontonnya di awal umur 17, di masa Orde Baru mulai tercium bau busuknya, film ini jadi kursus politik paling mencekam di kepala dibanding ceramah-ceramah mantan aktivis kiri yang saya dapatkan saat di Jogja.

(Tak diragukan, film-film India dalam jenis inilah yang membuat film India terasa istimewa, dan karena itu mendapatkan loker khusus di hati saya. Tak diragukan juga, film-film dalam jenis inilah yang paling ingin saya lihat muncul di perfilman Indonesia.)

Kembalinya Inspektur Vijay

Saya sangat mungkin salah jika menyatakan bahwa setelah Kuch Kuch Hota Hai tak ada lagi film India berjenis angry young man. Meski tak lagi menemukannya selama bertahun-tahun, seperti film-film India dalam genre lain (sebut saja triller politik—satu jenis lagi yang sangat saya kagumi dari sinema India), film-film angry young man bisa jadi tetap diproduksi, meski jelas tak lagi jadi bagian dari arus utama sinema India. Namun, dengan segala catatannya, jenis film India yang tayang di televisi kita rasanya cukup untuk jadi acuan bagaimana nasib Inpektur Vijay dkk dalam belantika perfilman India. Seingat saya, film angry young man dengan tahun paling muda adalah Ghulam¬-nya Aamir Khan. Itu pun dirilis beberapa bulan lebih awal sebelum Kuch Kuch Hota Hai. Jadi, jika tak boleh dikatakan benar-benar menghilang, Inspektur Vijay dkk. pastilah sedang mendapat masalah serius di negeri asalnya sana.

Sampai kemudian—setelah tak kurang dari dua windu—muncullah Dabangg. Lalu, disusul Singham.

Dabangg (2010) berkisah tentang Chulbul Pandey, seorang bocah yatim yang diperlakukan secara tidak adil oleh ayah tirinya. Ketika dewasa, Pandey menjadi perwira polisi brangasan dan ugal-ugalan. Tindak-tanduk sang perwira memantik kemarahan Chedi Singh, seorang kepala bajingan yang juga sedang merintis karir sebagai politisi. Singh ingin menghancurkan sang polisi dengan memanfaatkan pengkhianatan Makhi, adik tiri Chulbul. Tapi setelah tahu kalau Singh berada di balik kematian Naini Devi, sang ibu, kedua saudara itu bersatu menghancurkan si bajingan.

Bajingan yang juga politisi pun harus dihadapi ‘Inspektur Vijay’ lain di Singham (2011). Berhasil membuat seorang kepala polisi di Goa bunuh diri akibat tak kuat menahan tekanan, Jaikant Shikre, seorang gembong bisnis penculikan yang juga politisi, justru mati kutu di hadapan kepala polisi desa bernama Bajirao Singham. Memanfaatkan pengaruhnya di kepolisian, Shikre yang marah merekayasa kepindahan sang inspektur desa ke Goa. Di Goa, dimana lembaga kepolisian rusak digerogoti korupsi dan berada di bawah pengaruh Shikre, Singham yang jujur dan idealis segera saja menjadi pesakitan. Tak cuma menghadapi teror dan tekanan dari Shikre, ia juga mesti menyaksikan rusaknya moral teman dan para atasannya. Tak mungkin menghadapi Shikre dengan cara biasa, Singham kemudian memakai cara yang sama dengan sang bajingan untuk bisa membongkar kejahatannya sekaligus membersihkan lembaga kepolisian.

Tak terbantahkan, Dabangg dan Singham dengan sengaja menautkan diri dengan tradisi film-film angry young man di sinema India. Kedua film bertokoh utama seorang inspektur polisi dengan seragam coklat mudanya. Tapi, ciri yang paling kuat tentu saja adalah formula yang dipakainya. Aparat jujur yang seorang diri berhadapan dengan sistem yang korup, pemuda baik hati melawan penjahat keji, penegakan hukum yang dicampurkan dengan pembalasan dendam, adalah resep yang telah dipakai hampir 40 tahun lalu, saat tokoh Inspektur Vijay menyeruak ke perfilman India lewat Zanjeer, dan diulang puluhan atau ratusan kali di film-film sejenis pada dekade ‘80-an.

Lagi pula, pilihan terhadap aktor Salman Khan untuk Dabangg dan Ajay Devgan untuk Singham jelas bukan sekadar soal urut kacang. Keduanya adalah bagian dari sebuah generasi—bersama Akshay Kumar, Sunil Shetty, dan beberapa yang lain—yang justru merintis status kebintangannya lewat peran-peran sebagai pemuda penuh amarah pada awal ’90-an. Salman Khan dengan wajah berminyak, tinju mengepal, atau dengan pistol mengacungnya, dapat kita temukan paling tidak pada film macam Baaghi: A Rebel for Love (1990), Patthar Ke Phool (1991), Veergati (1995) dan Karan Arjun (1995)—di mana dia terlihat jauh lebih jagoan dibanding Shah Rukh Khan yang jadi lawan mainnya. Ajay Devgan, lebih-lebih lagi. Ia boleh dianggap sebagai anggry young man terakhir—sebelum kedatangan Kuch Kuch Hota Hai. Merupakan anak kandung dari Veeru Devgan, seorang pengatur laga, Devgan menjadi salah satu aktor laga penting (kalau bukan yang terpenting) di tahun 90-an lewat film macam Phool Aur Kaante (1991), Platform (1993), Naajayaz (1995) dan Gundaraj (1995).

Di Singham, yang merupakan remake dari film Tamil Singam (2010), keterkaitan film ini dengan tradisi angry young man bahkan perlu diutarakan secara verbal. Dalam sebuah adegan, saat Inspektur Singham menyatakan tekadnya untuk menangkap sang penjahat Jaikant Shikre sekaligus membongkar kebobrokan institusi kepolisian Goa, seorang polisi tua berpangkat rendah dengan sinis menegurnya: “Aku dulu datang ke sini sebagai ‘angry young man’. Namun para perwira senior mengubahku menjadi kambing congek: tak boleh lihat, tak boleh dengar, tak boleh ngomong… Kau mau melawan orang-orang itu? Lawanlah. Bunuh mereka. Kamu akan dapati kejujuranmu hanya bisa bertahan dua hari. Tak seorang pun yang akan mendukungmu. Tak seorang pun.”

Tapi, tentu saja, Inspektur Vijay abad ke-21 ini tak benar-benar serupa dengan para pendahulunya. Mereka tetap saja anak zamannya, dengan ciri-khasnya sendiri. Seperti disebutkan Ashish dan Paul dalam bukunya, khususnya pada lema ‘Amitabh Bachchan’, kharisma Inspektur Vijay tahun ‘70-an ditegakkan di atas dua sosok perempuan, yaitu ibu dan kekasih. Itu membuat pada diri para pahlawan berpakaian kakhi ini amat melekat karakter anak berbakti sekaligus kekasih yang berani mati. Citra ini paling tidak bertahan hingga dekade ‘90’an. Inspektur Vijay generasi baru muncul dengan gaya sedikit berbeda. Mereka tampil dengan muka dan badan lebih sangar. (Judul Dabangg yang berarti ‘tak kenal takut’ dan Singham yang artinya ‘singa’ menegaskan kesangaran itu.) Kumis baplang dan dada lebar semakin menegaskan kesangaran mereka.

Yang lebih penting, tak seperti para jagoan pendahulunya yang rata-rata emosional (baca, cengeng), para inspektur baru ini memiliki emosi yang jauh lebih datar. Dalam Dabangg, Chulbul Pandey menangis saat mengetahui ibunya meninggal. Namun, itu hanya sebuah isakan kecil saja. Dan setelah itu, tak ada sebuah ode ratapan yang diperdengarkan—seperti yang biasa kita jumpai di film-film India tahun ’90-an. Di Singham, sosok ibu, meskipun ada, bahkan tak ambil peran sama sekali. Selain itu, kedua inspektur yang kita bicarakan ini juga bukan para pemuja cinta ulung seperti lakon di film India pada umumnya. Mereka jatuh cinta, menari saat bahagia, tapi sudah, sampai di situ saja. Baik dalam Dabangg maupun Singham, pasangan perempuan hampir seperti sampiran saja: mereka tak banyak berpengaruh dalam petualangan sang jagoan memberantas kejahatan.

Dalam hal ini, dibanding dengan Inspektur Vijay ala Amitabh Bachchan di Zanjeer, karakter Bajirao Singham dan terutama Chulbul Pandey lebih dekat dengan sosok John McClane, polisi sinting, brangasan tapi juga cengengesan, yang dimainkan Bruce Willis dalam Die Hard. (Perhatikan selera humor Pandey dan kaos dalam Singham!) Meski masih memberi tempat untuk sosok ibu dan kekasih, persona kepahlawanan mereka lebih diteguhkan dari seberapa banyaknya bajingan yang bisa mereka robohkan, seberapa besar ledakan yang bisa mereka hindarkan, atau seberapa banyak peluru yang bisa mereka tepiskan.

Penegas perbedaan para inspektur generasi terakhir ini dengan para pendahulunya adalah efek kerusakan yang mereka timbulkan. Tapi, tentu saja kerusakan itu bukan kesalahan mereka, melainkan karena semakin berkembangkan penerapan efek visual dalam perfilman India. Para inspektur sebelumnya biasanya hanya memukul udara, dan para penjahat terjerembab menghantam galon atau kardus kosong yang ditumpuk. Sementara, hal sebaliknya, tendangan Pandey atau sodokan Singham begitu telak, membuat para bajingan melenting beberapa meter ke udara sebelum berdebam menghantam mobil di bawahnya hingga ringsek. Tak heran, setiap sekuen perkelahian usai, kerusakan terlihat di mana-mana. Rumah runtuh, pohon rubuh, tiang listrik tumbang, dan bangkai mobil berserakan. Pokoknya seru dan rusak-rusakan.

(Para penggemar film-film Mithun dan Govinda pasti akan tercengang melihat betapa ganasnya para inspektur baru ini!)

Tapi, bagaimanapun, mereka tetap polisi asli India. Sikap dan cara mereka yang terang-terangan dan berapi-api memberantas ketidakadilan dan korupsi adalah sui generis, beda dengan lainnya; cuma India punya. Seting cerita yang tidak Mumbay centris—Dabangg di Uttar Pradesh, sementara Singham di Goa—juga menyumbang cukup besar ke-India-an film-film ini. Dan, satu lagi, mereka melakukan hal yang tak mungkin dilakukan John McClane: menari dan menyanyi.

Di India, Dabangg memecahkan semua jenis rekor film laris sesaat setelah rilis, sementara Singham menangguk sukses yang tidak kecil. Melihat karakterisasi industri film India, kesuksesan kedua inspektur ini tampaknya akan membangkitkan lagi Inspektur Vijay-Inspektur Vijay lain dari tidur panjang atau bahkan kematiannya (dengar-dengar, beberapa film dalam jenis ini, macam Agneephat dan Angaar bakal dibikin remake-nya). Dan mengingat kita di Indonesia sudah pernah merasakan keganasan mereka, maka bersiap-siap saja.

Para pemilik televisi, jaga baik-baik para boyband dan pria-pria cantik Korea yang kini sedang kalian piara. Sebab, Inspektur Vijay telah kembali…!!

Sambilegi, jelang valentine 2012

Iklan
Standar
film

Minggir, Inspektur Vijay Telah Kembali!*

Oleh Mahfud Ikhwan

Inspektur Vijay, dalam Zanjeer

“Satu dari tujuh hal yang selalu ada dalam film India adalah tokoh bernama Inspektur Vijay dan Tuan Takur.”

On the Spot, Trans 7 —

Inspektur Vijay Diterjang Kuch Kuch Hota Hai

Sebenarnya tak ada yang salah dengan Kuch Kuch Hota Hai. Ia mewakili secara sempurna semua hal yang berkait dengan film cinta India: kisah kasih abadi, cinta segitiga, pengorbanan, tangis-tangisan. Dan seperti jutaan penonton lain di dunia, saat melewati beberapa bagian dari film itu, air mata saya pun berderai-derai.

Tapi saya membenci Kuch Kuch Hota Hai. Saya bahkan sulit memaafkan sang sutradara, Karan Johar.

Bukan. Bukan karena saya seorang pembenci drama cinta—saya malah mungkin termasuk pria yang terlalu sentimentil dalam hal selera film, lebih-lebih untuk film India. Saya ikut tercabik-cabik saat melihat Ajay Devgan yang gila karena kehilangan kekasihnya, menyanyikan “Jeeta Ta Jiske Liye”—dengan piano dan suara Kumar Sanu—di film Dilwale (1994). Saya bahkan amat menyukai dua drama cinta yang dibintangi SRK dan Kajol sebelum Kuch Kuch Hota Hai, yaitu Baazigar (1993) dan Dilwale Dulhania le Jayenge (1995).

Lama saya menyangka, ketidaksukaan saya dengan Kuch Kuch Hota Hai karena film ini terlalu populer (baca: terlalu digemari)—dan saya membenci tiap hal yang terlalu populer! Tapi, seiring berjalannya waktu, saya sadar alasan kebencian tersebut lebih kompleks dari yang saya perkirakan. Bagi saya Kuch Kuch Hota Hai adalah bencana. Tak ubahnya banjir bagi seorang penduduk di tepian Bengawan Solo.

Ya, Kuch Kuch Hota Hai adalah banjir dan saya adalah penduduk muara Bengawan Solo yang malang.

Orang banyak boleh bilang, banjir itu hal biasa, terjadi tiap tahun, normal, hukum alam. Malah mungkin banyak manfaatnya. Tidak hanya meluberkan lumpur subur ke tepian, banjir bahkan kadang membawa bandeng dan mujaer-mujaer gemuk dari tambak-tambak yang jebol.

Mungkin dalam benak banyak orang, jika memang Kuch Kuch Hota Hai adalah banjir, pastilah disangka banjir dengan banyak manfaat. Karena pasca- Kuch Kuch, perfilman India mendapatkan ketenaran hebat yang belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Kuch Kuch Hota Hai juga bisa dipastikan jadi penanda munculnya seorang penguasa baru Bollywood usai memudarnya pamor Amitabh Bachchan. Dialah Shah Rukh Khan, alias King Khan. Dan Khan, harus diakui, membawa pesona India menyebar lintas benua–hal yang Bachchan tak bisa berikan.

Asal tahu saja, beberapa tahun sebelum itu, saat Salman Khan dan Aamir Khan sudah merengkuh mahkota superstarnya, Shah Rukh Khan “masih” seorang aktor berkelas pembantu. Ia jadi penjudi di Baazigar, psikopat pecundang di Daar (1994), atau si bungsu lemah yang mesti dilindungi oleh Anil Kapoor dan Jacky Shroff dalam Trimurti (1996). Alih-alih akan menggantikan Bachchan, penonton setia film India tahun ‘90-an di televisi mungkin lebih mudah membayangkan kalau Khan adalah penerus jejak kejahatan Amrish Puri (yang di Indonesia biasanya dikenal sebagai Tuan Takur) atau paling tidak Gulshan Glover. Tahun 1995, tiga tahun sebelum Kuch Kuch rilis, Khan adalah pemegang tropi Penjahat Terbaik (Best Villain) di ajang Filmfare Award untuk film Anjaam (1995), setelah setahun sebelumnya jadi nominator untuk Daar. Khan memang telah memperlihatkan sisi yang berbeda dari dirinya lewat film yang penuh tarian, nyanyian, dan tangisan macam Dilwale Dulhania Le Jayenge (1995) dan Dil To Pagal Hai (1997). Tapi, jelas, Kuch Kuch Hota Hai-lah yang membalikkan semuanya. Tidak hanya nasibnya, tapi juga film India. Sebab, setelah itu, industri film India tak pernah lagi sama.

Kuch Kuch Hota Hai dan Shah Rukh Khan—tampaknya saya harus ralat—bukanlah banjir, tapi air bah. Keduanya menggenangi penggemar film India dari Wellington di dekat kutub selatan hingga Edmonton di tepi dunia belahan utara dengan histeria—hal yang sebelumnya tak bisa dilakukan oleh Bachchan dan film-filmnya. Tahun ‘50-an, sutradara Satyajit Ray dan film-film neo realisnya memang pernah membuat perfilman dunia terpukau oleh film-film India. Tapi ‘perfilman dunia’ dan ‘dunia’ adalah dua hal yang sangat-sangat berbeda. Yang pertama hanya komunitas terbatas, sementara yang kedua adalah massa.

Tapi itu kata banyak orang, tidak untuk saya. Banjir tetaplah banjir, sebuah bencana. Dan itu artinya datangnya derita sekaligus perginya bahagia. Ia menyapu banyak hal yang kita sayangi. Ya, jelas orang-orang tidak tahu, berapa mainan dan barang-barang kesayangan saya yang hilang, hanyut entah ke mana oleh banjir itu.

Di samping membawa ‘lumpur subur’ dan ‘bandeng gemuk’, Khan dan Kuch Kuch Hota Hai-nya (dan semua film India bertipe sama yang ikut mengalir di belakangnya) juga membuat hal-hal yang sebelumnya identik dengan film India—paling tidak dalam benak saya—tersapu hilang entah kemana. Beberapa hal bisa jadi hilang untuk selama-lamanya. Beberapa yang lain harus mengaso dan menepi untuk waktu yang lama.

Angry Young Man, sebuah genre yang merajai industri film India antara akhir ’70-an hingga tengah ’90-an, yang oleh tim kreatif Trans 7 dengan nada menyederhanakan dan melecehkan disebut sebagai film yang ada Inspektur Vijay-nya, adalah salah satu ‘korban’ dari banjir ciptaan sutradara Karan Johar itu. Genre yang berciri tokoh utama berusia muda, (biasanya) miskin, anti kemapanan, baik hati, penuh cinta tapi juga penuh dendam, menghabiskan hidupnya hanya untuk menikahkan adiknya, menyelamatkan kehormatan ibunya, atau merebut kekasihnya dari si ayah yang serakah, atau ketiga-tiganya sekaligus itu, mesti tutup layar. Aktor-aktor Bollywood yang besar dalam genre ini, semisal Jacky Shroff, Anil Kapoor, dan Sunny Doel harus menghadapi pilihan antara pensiun atau berganti peran.

Celakanya, genre angry young man (jawanya, cah enom nesu) di film India—jika boleh sedikit melebih-lebihkan— adalah satu dari tujuh hal terindah pada masa remaja saya. Sementara Shroff, Kapoor dan Deol adalah pahlawan-pahlawan super saya.

Inspektur Vijay, Riwayatmu…

“Saat kecil, Vijay menyaksikan kematian kedua orangtuanya di tangan seorang tak dikenal dengan gelang rantai di lengannya. Dihantui oleh gelang rantai si pembunuh misterius itu, Vijay dewasa menjadi seorang polisi yang bertekad membersihkan kota Bombay dari kejahatan. Dia punya sahabat penjudi bernama Sher Khan. Meski punya hubungan asmara dengan Mala, itu tak menghentikan Vijay untuk melacak sang penjahat, dan ia akhirnya menemukan orang yang membunuh kedua orangtuanya: Teja. Dengan hukum ada di genggaman tangannya, Vijay pun membalas dendam.”

Familiar dengan kisah ‘Inspektur Vijay’ ini? Paragraf di atas saya terjemahkan secara bebas dari sinopsis film Zanjeer (1973) di buku Encyclopaedia of Indian Cinema (1995) karya Ashish Rajadyaksja dan Paul Willemen. Menurut Ashish dan Paul (karena saya belum pernah menonton film ini), Zanjeer adalah film pertama Amitabh Bachchan dalam genre angry young man sekaligus menegaskan status kemegabintangannya. Film ini, seperti juga disebut banyak sumber, juga dianggap sebagai awal dari tren membanjirnya film berjenis sama di perfilman India hingga dua dekade kemudian.

Angry young man awalnya adalah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah gerakan seni (meliputi sastra, teater dan film) di Britania Raya antara tahun ’50–’60-an. Mungkin karena dianggap memiliki ciri dan tema yang sama (muda, anti kemapanan, menggambarkan perjuangan kelas/masyarakat tertindas), istilah ini diadopsi oleh para wartawan India untuk menyebut film-film dan—terutama secara khusus—sosok Amitabh Bachchan sendiri. Namun, istilah ini juga biasa dikenakan untuk jenis film yang memakai pakem Zanjeer dan aktor-aktor lain yang dibesarkan oleh film semacam itu di waktu-waktu yang lebih kemudian, seperti Mithun Chakraborty, Jacky Shroff, Sunny Deol, Anil Kapoor, Sanjay Dutt, hingga Ajay Devgan dan Aamir Khan untuk menyebut yang paling belakang.

Sangat dipengaruhi oleh film-film yang dibintangi oleh Bachchan macam Zanjeer (1973), Muqaddar Ka Sikandar (1978), atau Coolie (1983), film jenis angry young man merajai perfilman India sepanjang ’80-an hingga awal ’90-an. Industri film India masa itu banyak bertumpu pada sosok-sosok yang jadi copycat, tiruan, atau hasil modifikasi dari Bachchan muda. Tak heran, seperti yang ditulis Ashish dan Paul, aktor seperti Mithun Chakraborty, yang tak memiliki kharisma sebesar Bachchan namun banyak menghabiskan karirnya di film-film bertema sama meski untuk penonton kelas menengah-bawah, dianggap sebagai investasi aman bagi para produser India dalam dekade itu. Aktor lain macam Jacky Shroff, Sanjay Dutt, Anil Kapoor, dan Sunny Deol—tentu dengan rambut gondrong, mata sayu, muka berminyak, dan lengan baju tersingsingnya—kemudian membuat film India dekade-dekade itu hampir identik dengan para ‘jagoan kere yang gampang mengamuk.

(Mungkin itulah kenapa orang seperti saya dan teman-teman sebaya, remaja desa di pantura Jawa tahun ‘90-an yang menjadikan film tv yang banyak adegan berkelahinya sebagai tontonan utama dan hampir satu-satunya, sangat memuja film India masa itu. Mungkin itu pula, remaja kota yang lebih banyak pilihan tontonan menganggap bahwa tokoh Inspektur Vijay pasti ada di setiap film India.)

Bersamaan dengan menuanya Mithun dan teman-teman seangkatan, angry young man di film India mendapatkan bentuk yang sedikit berbeda menjelang tengah ’90-an. Hampir dipastikan karena terpengaruh oleh tren film dunia (baca: Hollywood dan Mandarin) masa itu yang dipenuhi jagoan-jagoan tak terkalahkan macam Stallone, Schwarzenegger, Van Damme, atau Jacky Chan dan Jet Li, jagoan-jagoan pemarah di film India masa itu jadi lebih berotot—meski tentu saja tetap cengeng. Jadilah, sinema India dipenuhi oleh para bintang seperti Salman Khan, Sunil Shetty, atau Akshay Kumar, yang terlihat lebih mirip intruktur fitnes. Tapi, ironisnya, itu justru menjadi saat-saat terapuh bagi ‘Inspektur Vijay’ dan kawan-kawan  di kancah film India. Seseorang yang sebelumnya hanya jadi bulan-bulanan ketika berkelahi, yang lebih keras tangisnya daripada jotosannya, tengah mengincar kedudukan tertinggi di perfilman India.

Berbekal wajah bersih tak berdosa, gerak tarian yang meski bukan yang terbaik tapi paling sedap dipandang, gerak mulut dan muka saat adegan menyanyi yang memukau (sehingga membuat suara Vinod Rathod, Udit Narayan, dan Sonu Nigam seakan jadi suaranya sendiri), senyum dan sedu-sedan yang meruntuhkan hati, dan perempuan-perempuan yang berebut dicintai, Shah Rukh Khan–nama orang itu–merontokkan para jagoan yang paling garang sekalipun. Angry young man harus minggir dari layar-layar film India, atau mereka bersedia meredakan amarahnya, mengistirahatkan tinjunya dan mengeksploitasi kelenjar airmata.

Atau, bahkan menjadi badut. Seperti yang dilakukan oleh Sanjay Dutt, Akshay Kumar, dan Ajay Devgan di awal 2000-an.

*bagian pertama dari dua tulisan

Standar