Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 3)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Kisah Sebuah Foto dan Dengkul yang Babak Belur

Adalah saudaranya, Ajitabh, yang mendorongnya untuk mewujudkan ambisinya di dunia film. Ia mengambil foto Amitabh di luar Calcutta Victory Memorial, dan mengirimkannya ke kontes bakat Filmfare-Madhuri. Namun, setelahnya, tak ada perkembangan apa-apa, dan kehidupan Amitabh kelihatannya akan begitu-begitu saja, meneruskan serangkaian kegagalannya. Sudah begitu, orang dengan suara yang boleh jadi terbaik di Bollywood itu gagal tes sebagai penyiar di All India Radio (RRI-nya India—penerj.), baik di seksi bahasa Inggris maupun bahasa Hindi. Meski demikian, foto itu akhirnya berguna juga.

Seperti semua orang yang ingin terjun ke dunia film di Bombay pada akhir tahun ’60-an, Amitab memulainya dengan datang ke kota itu. Meskipun ia tak memanfaatkan koneksi keluarganya dengan keluarga Kapoor, ia ngenger di rumah seorang teman ayahnya. Ketika ia merasa sudah kelamaan tinggal di sana, ia sempat menghabiskan satu malam di sebuah bangku di Marine Drive (sebuah boulevard di tepian pantai Bombay—penerj.). Lalu, seperti sebuah dongeng yang indah, kesempatan dan keberuntungan dari roda kehidupan yang tengah berputar itu pun datang.

Foto yang diambil Ajitabh itu rupanya beredar di kalangan Bollywood. Sunil Dutt (seorang superstar ’60-an, ayah dari Sanjay Dutt) melihatnya, karena kebetulan istrinya, Nargis, kenal dengan ibu Amitabh dan ia ingin menolong. B.R. Copra (produser, sutradara, saudara dari Yash Chopra) pun memanggil Amitabh dari Calcutta untuk tes. Tapi masalahnya selalu adalah: ia “lumbu”, kata Hindi yang berarti tinggi, dan di Bollywood punya makna buruk. Untuk ukuran aktor India, badannya terlalu jangkung untuk bisa dipasangkan dengan lawan main perempuannya. Maka, setelah satu tes kamera, seorang produser menyarankannya untuk menulis saja. “Kamu cocoknya jadi penulis. Lagipula, kamu kan anaknya penyair terkenal. Menulis pasti gampang bagimu.”

Itu jelas-jelas nasihat baginya: jangan gampang melepas pekerjaan tetapmu, dengan gaji 2500 rupe, gaji yang sangat bagus untuk ukuran orang India, dengan mobil dan sebuah flat, meskipun kehidupan di Calcutta terasa sumpek.

Keputusasaan hampir datang. Namun, lewat seorang teman, aktris bernama Neena Singh, foto itu itu ternyata sampai ke tangan K.A. Abbas, sutradara Saat Hindustani. K.A. Abbas dikenal sebagai sutradara yang berbeda, yang punya ide-ide radikal dengan filmnya. Saat Hindustani adalah sebuah kisah patriotik tentang enam pemuda India yang hendak bergabung dengan kawan seperjuangannya untuk membebaskan Goa dari cengkeraman Portugis. Abbas mau “mengocok” tokoh-tokoh Indianya. Ia ingin seorang aktor Muslim memainkan seorang Hindu fanatik, seorang Bengali memainkan Punjabi, dan Amitabh, karena perawakan dan tinggi badannya, dirasa cocok untuk memainkan peran seorang penyair Muslim. Meski begitu, peran itu pun jatuh kepadanya setelah aktor lain, Tinnu Anand, orang yang menyerahkan foto Amitabh kepada Abbas, memilih mundur dari film dan pergi ke Calcutta untuk bekerja dengan Satyajit Ray dan akhirnya jadi seorang sutradara.

Film itu gagal. Namun, ada satu momen yang mencolok terjadi saat syuting, yang menandai lahirnya seorang aktor.

Bachchan (paling kanan, paling jangkung) dalam “Saat Hindustani”

Adegan terakhir memperlihatkan tujuh orang pejuang India yang jadi lakon tengah berebutan menaiki sebuah bukit. Badan mereka satu sama lain saling terikat tali, dengan Amitabh menjadi orang yang paling akhir. Amitabh tak mau perannya di adegan itu—termasuk di dalamnya terpeleset karena batu yang dipijaknya luruh dan kemudian menggantung di air terjun sebelum salah seorang temannya menariknya—dimainkan pemain pengganti. “Kalau pakai pemain pengganti,” Abbas mengenang, “aku harus mengambil long shot. Tapi karena ia tak mau diganti, aku bisa men-zoom-nya, dan menampilkan rasa sakit itu tepat di wajahnya.”

Setelah adegan itu diambil, Bachchan merangkak-rangkak naik dengan dengkul babak-belur. Begitu selesai, seluruh teknisi yang basah-kuyup oleh tempias air terjun, bertepuk tangan dengan gemuruh.

Meskipun menunjukkan kesungguhannya di pekerjaan yang baru digelutinya, di luar layar ia tetap seperti anak sekolahan yang budiman. Seperti semua film Abbas, film ini juga berbajet rendah. Seluruh aktor diminta untuk membawa kasur sendiri, sementara untuk menginap selama enam minggu syuting di Goa mereka disediakan sebuah aula besar untuk tidur. “Kami semua,” kata Abbas, “menyenderkan koper di dinding dan membiarkan kasur berserakan di aula. Kecuali Amitabh. Tiap malam, ia membuka koper besarnya (koper terbesar yang pernah dilihat Abbas), mengeluarkan dan menggelar kasurnya, dan memasukkannya kembali ke koper saat pagi.”

Dan ia tetaplah anak mama. Ketika di lokasi syuting ia bertemu Madhu, yang kemudian menjadi aktor terkenal di perfilman Malayalam, ia memperkenalkan dirinya sebagai putra Teji Bachchan. Madhu bertemu ibu Amitabh ketika ia kuliah di National School of Drama di Delhi dan ia juga seorang pengagum berat puisi-puisi Harivanshrai. Madhu mengenalinya saat Amitabh menghafal bait-bait sajak ayahnya sepanjang waktu, sebentuk latihan yang disebut Madhu mengasah kualitas suara Bachchan. Maka, ketika sutradara Satyajit Ray menginginkan seorang pengantar cerita di filmnya Shatranj Ke Khiladi, ia memakai suara Bachchan. Dan suara baritonnya menjadi tokoh tersendiri di film itu.

Di luar kegagalan film pertamanya tersebut, Bachchan sebenarnya sudah mulai ambil bagian. Meski begitu, tak seorang pun yang tampak ingin menjadikannya seorang bintang, apalagi megabintang. Makanya, Bachchan mengambil apapun peran yang ditawarkan kepadanya. Di dunia macam Bollywood, seseorang yang ingin menjadi hero (lakon) tak akan mau memainkan peran-peran tidak simpatik di film. Namun Bachchan memerankan tokoh jahat di Gehri Chaal dan Parwana. Di film Reshma Aur Shera, yang memperkenalkan beberapa pemain yang kelak menjadi bintang, di antaranya Vinodh Khanna dan Raakhee, Bachchan yang dijanjikan Sunil Dutt main di filmnya, kebagian peran sebagai orang bisu.

Namun, pada 1969 Bollywood memang tidak perlu (lagi) mencari bintang. The Big Three mulai menua, dan seorang anak muda muncul—dan tampaknya yakin akan mengambil alih tempat Dilip Kumar, Dev Anand, dan Raj Kapoor. Namanya Rajesh Khanna.

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006), khususnya bab 15, ‘A Shy Man and His Use of Anger’.

 

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s