Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Film India dan Politik, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 2)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Lelaki Pemalu dari Allahabad

Bagi seseorang yang akan dikenal sebagai si pemuda pemarah se-India, latar belakang Amitabh Bachchan dan masa pertumbuhannya menyumbang sangat kecil bagi munculnya amarah yang ditampilkannya di layar. Saat remaja belia ia terlalu budiman, jenis remaja India yang tak dikehendaki oleh Subhas Bose (Bapak Tentara Nasional India itu). Meski demikian, jika mengaca kepada saat kelahirannya, ia hampir-hampir akan dinamai Inquilab (revolusi). Sebabnya, ia lahir pada 11 Oktober 1942, saat India tengah giat-giatnya berada dalam gerakan Quit India, gerakan keempat dan terakhir yang digalakkan Mahatma Gandhi untuk memerdekakan India dari jajahan Inggris. Inggris menghalau gerakan itu dengan keras, dan karena itulah ayahnya, Harivanshrai Bachchan, ingin memanggil anaknya Inqilab. Namun, seorang penyair perempuan, Sumitra Nandan Pant, mengusulkan nama Amitabh, yang merupakan hasil penggabungan dua kata, Amit dan Abha, dan ia menerimanya. Banyak temannya yang masih memanggilnya Amit, yang berarti Terang yang Tak Berkesudahan.

Dilihat dari banyak segi, Amitabh Bachchan juga lahir di lingkungan yang menjadi tempat tumbuhnya kekuasaan di India segera setelah merdeka. Kota kelahirannya, Allahabad, adalah juga kota keluarga Nehru, dan kedua orangtuanya, Teji (ibunya) dan Harivanshrai (ayahnya), sama-sama nasionalis yang bersemangat. Amitabh menganggap dirinya sangat tipikal orang Allahabad, kota yang dibentuk dari campuran yang kuat antara kebudayaan Hindu dan Islam, dan sebuah kota yang sangat dipengaruhi oleh keluarga Nehru—Nirad Chaudhuri berpendapat, Nehru adalah orang yang jauh lebih dipengaruhi budaya Islam dibanding budaya Hindu.

Keluarga Bachchan juga punya hubungan baik dengan penguasa Bollywood yang tengah naik daun. Keluarga itu berkarib dengan keluarga Kapoor. Harvanshrai biasanya datang ke pertunjukan panggung Prithviraj (Kapoor), lalu di belakang panggung ia akan membacakan syair-syairnya yang disukai Prithviraj. Namun, ketika Amitabh datang ke Bombay pada 1969 untuk mencari kerja, ia tak datang ke R.K. Studios (studio milik Raj Kapoor, anak Prithviraj—penerj.). Ia berusaha dan sukses jadi bintang tanpa “klik” itu, tak seperti kebanyakan orang India lakukan.

Amitabh tumbuh di keluarga yang disebutnya bernuansa campuran Timur dan Barat. Ayahnya adalah seorang penyair, penulis, dan orang yang dihormati di kancah kesusastraan Hindi, sementara ibunya berasal dari keluarga yang disebutnya kebarat-baratan. Bapak dari ibunya disebut punya bar di London, sementara sang ibu dididik di sekolah kesusteran dan memiliki seorang pengasuh bule.

Amitabh dibesarkan dengan ketat, hal yang menjelaskan kenapa ia jadi seorang pemalu dan punya persoalan dengan hal-hal sepele, seperti masuk restoran seorang diri. Sifat pemalunya ini mengganggunya pada masa-masa awal ia masih jadi aktor yang belum terkenal. Pada suatu waktu, ia punya janji dengan aktor Manoj Kumar untuk satu pekerjaan, dan Kumar memintanya untuk datang ke Studio Filmistan, tempat ia sedang syuting. Tiap hari selama seminggu Bachchan datang ke studio itu hanya untuk celingak-celinguk kikuk di depan gerbang, tak berani masuk karena malu. Yang mengejutkan, bahkan setelah ia berstatus superstar, setelah bertahun-tahun di dunia perfilman dan melakukan berbagai program yang disiarkan secara langsung, ia masih mengaku tetap saja amat pemalu dan introvert, sifat bawaan yang sering disalahartikan sebagai lagak sombong. Boleh jadi, karena sifat malu-malunya ini, dalam wawancaranya dengan Khalid Muhammed yang direkam pada 2002, ia bahkan masih bilang: “Aku dari dulu tetaplah aktor medioker. Percaya atau tidak, di setiap film, di setiap adegan, aku ngoyo. Aku harus selalu berusaha untuk lebih peka dan lebih cemerlang. Kami benci jadi medioker.”

Keluarganya tak benar-benar kaya: Bachchan senior berpenghasilan 500 rupe sebulan. Mereka tak punya peti es atau kipas angin gantung, sehingga kalau hawa panas India Utara sedang ganas-ganasnya ibunya akan menyiram lantai rumah untuk membuat ruangan lebih sejuk. Sebelum mereka punya kipas meja reyot, sang ibu akan meletakkan es batu untuk mengatasi rasa sumuk di sore hari.

Bachchan mengingat bahwa tak banyak anggaran untuk hiburan, meskipun kedua orangtuanya jelas-jelas mengarahkan anak-anaknya untuk memperoleh hiburan yang bermanfaat. Film cinta pertama yang ditonton Bachchan adalah kisah cinta Laurel and Hardy, sementara film Hindi pertamanya adalah Jagriti (1954) karya sutradara Satyen Bose, sebuah film dengan nada nasinalisme yang kuat, yang mengingatkan kepada para pemuda-pemudi India untuk memikirkan negara dan mengenang kejayaannya. Lebih belakangan, ia memuja akting Montgomery Clift dalam A Place in The Sun, juga Marlon Brando di hampir semua filmnya, khususnya The Wild One. Ia tak akan tidur semalaman jika habis menonton Limelight-nya Charlie Chaplin, film yang musik latarnya menghantuinya dalam waktu lama.

Persahabatan keluarga itu dengan keluarga Nehru juga membuat Bachchan mendapat akses (hiburan) istimewa. Ia dan keluarganya akan diundang apabila ada pemutaran film di Rashtrapati Bhavan, Istana Negara. Di sana ia bisa menonton film Cekoslowakia, Polandia, atau film Rusia, meskipun pesan-pesan anti-perang dari film-film itu tidak cocok dengannya. Ia memang senantiasa merasa bahwa tugas sinema bukanlah untuk berkotbah, tapi menghibur.

Pada 1956, setelah menyelesaikan sekolah menengahnya di Allahabad, Bachchan berangkat ke sekolah asrama, Sherwood College, di wilayah perbukitan Nainital. Ini adalah sekolah milik misionaris yang dikepalai Pendeta R.C. Llewwllyn. Agak aneh sebenarnya keluarga Bachchan bisa menyekolahkan anaknya di sekolah asrama. Ini berkat bapaknya pindah pekerjaan dan memperoleh penghasilan yang lebih baik. Sebelumnya, sang ayah berangkat ke Inggris untuk menempuh PhD, yang disponsori oleh Nehru. Namun, ketika kembali ke kampus Allahabad University, tempat ia mengajar Sastra Inggris, ia justru mendapati gajinya dikurangi. Karena gusar, ia keluar dari pekerjaannya. Nehru kemudian memberinya pekerjaan sebagai Kepala Divisi Bahasa Hindi di Kementerian Luar Negeri (pada masa Nehru, Perdana Menteri juga menjabat sebagai Menteri Luar Negeri). Ini artinya keluarga tersebut mesti pindah ke Delhi, memperoleh penghasilan lebih baik, dan Amitabh pun bisa masuk ke sekolah asrama.

Di sekolah, ia menunjukkan kecakapan di bidang sains, sementara, meski tidak jelek, ia bosan dengan pelajaran seni. Oleh karena itu, ia bahkan bercita-cita menjadi seorang saintis. Meski begitu, ia adalah anggota aktif pementasan drama, yang dibimbing oleh orang Inggris bernama Mr. Berry. Untuk penampilannya sebagai Mayor di lakon Inspector General karya Gogol, ia memenangkan Kendall Cup, piala yang namanya mengacu kepada Geoffrey Kendall, ayah dari Jennifer (istri superstar Raj Kapoor) dan Felicity, yang memimpin rombongan teaternya berkeliling India, mementaskan drama-drama Shakespeare, terutama di sekolah-sekolah asrama. Kendall sendirilah yang memberikan piala itu kepada Amitabh. Amitabh selanjutnya mengasah bakat teaternya di Kirorimal College di Delhi lewat kelompok teaternya, “The Players”.

Walaupun memilih jalur sains, nilai akademiknya cuma di angka rata-rata. Ia hanya memperoleh izajah kelas dua ketika lulus pada 1962. Lalu ia merantau beberapa tahun di Calcutta, bekerja sebagai boxwallah, istilah India untuk menyebut orang yang bekerja mengatur agensi-agensi yang didirikan penjajah Inggris dan yang mengontrol bermacam perusahaan.

Jelas itu jauh dari awal yang cemerlang. Ia tidak lulus dengan nilai bagus, dan seperti yang kemudian dituturkannya: “Aku ambil tawaran yang kudapat, dan itu adalah divisi batubara dari rumah agensi bernama Bird and Co. Aku kerja dua tahun di sana sebelum pindah ke perusahaan bongkar-muat, Blacker dan Co.” Gajinya lebih baik, ia bisa beli mobil, sebuah Morris Minor hitam, yang kemudian ditukar yang lebih besar lagi, Standard Herald. Gaji penuh pertamanya 480 rupe, yang habis untuk membayar sewa kamar 300 rupe, kamar yang dibaginya dengan delapan orang di Russell Street, jalan utama di pusat Calcutta. Bird and Co menyediakan makan siang gratis, sementara makan malam didapat Bachchan dari sembarang tempat di pinggiran-pinggiran jalan Calcutta. “Perjalanan hidup yang biasa, sangat medioker,” katanya.

Namun, Calcutta memberinya kesempatan lebih di bidang drama amatir. Naskah-naskah Sartre, Arthur Miller, Tennese Williams, Beckett, Shakespeare, Harold Pinter, semua dipentaskan. Bachchan pernah berperan sebagai Nick di Who;s Afraid of Virginia Wolf dan menjadi Casio untuk Othello. Bosnya, David Gilani, berpikir bahwa akting Bachchan punya standar tinggi.

Meski begitu, Bachchan mesti menanggung prasangka rasial yang masih menyelimuti Calcutta pada awal ‘60-an, satu setengah dekade setelah Inggris pergi. Ia bilang, “Ada dua grup teater di sana. Ada kelompok Calcutta Dramatic Society, yang merupakan kelompok teater milik orang Inggris dan beranggotakan para bule. Kelompok lainnya adalah The Amateurs, yang isinya orang India, kebanyakan anak-anak sekolahan. Jadi, di antara dua kelompok ini adalah diskriminasi warna kulit. Di klub renang juga masing sangat sedikit orang Indianya. Beberapa di antara kami adalah orang-orang yang pertama diterima sebagai anggota. Belakangan, tentu saja sudah ada kemajuan. Diskriminasi sudah berkurang.”

 

*Diterjemahkan dari Bollywood: A History, Mihir Bose (2006), khususnya Bab 15, “A Shy Man and His Use of Anger”.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s