film dan agama, Film India dan Islam, Film India dan Religiositas, Sejarah Film India, terjemahan

Islam di Film India (Bag. 5)*

Oleh Rachel Dwyer; Terj. Mahfud Ikhwan

ManishaAdult.preview 2

Busana “Bercorak Islam”

Bermacam genre film-film bercorak Islam menunjukkan beragam busana yang dianggap cocok untuk dipakai seorang muslim di istana Mughal, busana biduan istana (kotah), atau orang-orang Islam di jalanan Bombay modern. Film-film dongeng bercampur dengan gaya oriental ala Hollywood, terlihat di film-film Valentino, Douglas Fairbanks Jr., dan film-film epik injili Cecil B. deMille (yang menyajikan Timur Tengah kontemporer dan imej-imej populer lain untuk menggambarkan ‘Timur’), sementara film-film sejarah menampilkan dokumen-dokumen sejarah. Kedua genre ini secara bersamaan juga menampilkan seni, kromolitografi, dan teater bercorak Islam.

Dalam film-film sosial Islam, juga genre lain, pria muslim sering tidak memakai pakaian yang khusus, yaitu dengan tampilan ala Barat atau piyama-kurta, namun ada juga beberapa yang menggunakan pakaian yang menandakan bahwa mereka muslim. Beberapa pria muslim, sebagaimana juga pendeta Hindu, intelektual, penjahat, dan orang Sikh, memakai jenggot dan mengenakan kopiah, seperti salah satu karakter teman dalam film Salim Langde Pe Mat Ro (1989, stdr. Saeed Mirza). Untuk suasana formal, terutama di film-film sejarah, orang Islam digambarkan memakai sherwani (sejenis baju-rok) dan piyama longgar atau ketat. Ini adalah pakaian yang diadopsi oleh Nehru dan sering disebut sebagai pakaian paling resmi di India, karena dianggap diadaptasi dari pakaian istana, meskipun peci ala Nehru bukan pakaian muslim. Seorang Pathan (suku muslim dari Afghan) memakai gaya yang khas dengan turban dan rompi berbordir, seperti tokoh yang diperankan aktor Pran di Zanjeer (1973, stdr. Prakash Mehra). Sementara, Muslim Punjabi biasanya memakai sejenis salwar khameez. Kadang, busana yang dipakai itu dibuat sangat spesifik untuk Muslim, meskipun itu tidak realistis. Misalnya, para pelajar yang memakai kopiah Turki di film Phool (1942, stdr. K. Asif), boleh jadi dipakai oleh para pendukung kekhalifahan Turki, namun belakangan malah sering dipakai untuk komedi, seperti yang dipakai Shammi Kapoor di Dil Deke Dekho (1958, stdr. Nasir Husain) atau Rishi Kapoor dalam Amar, Akbar, Anthony (1977, stdr. Manmohan Desai)—pakaian yang tak lagi dipakai namun dicap sebagai ciri orang Islam (Amin 2004). Pakaian lain yang dilebih-lebihkan sebagai ciri Muslim daalah pakaian yang dipakai pemain qawwali, yang sering dilengkapi oleh gerak-gerik dan bahasa yang dimirip-miripkan (aslinya).

Pakaian perempuan muslim biasanya lebih realistis karena mereka ditunjukkan memakai jenis pakaian muslim seperti salwar khameez atau baju Punjabi, yang aslinya merupakan busana Muslim yang menjadi populer di India barat daya, dan juga menjadi pakaian nasional atau bahkan pakaian internasional. Pakaian itu terdiri atas celana panjang (salwar longgar atau churidars ketat), baju panjang, dan kerudung. Macam gayanya tak terbatas, sementara kerudung sendiri bisa dipakai dengan cara berbeda-beda, tergantung tujuan dipakainya, apa dipakai menutup kepala, menutup dada, atau dipakai seperti kerudungnya orang Barat. Dalam beberapa film, perempuan Muslim memakai sherara (kulot panjang berbahan kaos). Untuk film masa kini (pakaian) itu biasa dipakai untuk acara perkawinan, meskipun di film lama dipakai dalam keseharian.

Sementara para perempuan Hindu yang berkerudung muncul sebagai perempuan tua, yang menutupi kepalanya dan kadang wajahnya, dengan kerudung yang kebanyakan dikaitkan dengan Islam. Begitulah yang muncul di film, dan hal itu memainkan peran penting dalam beberapa genre, semisal genre film sosial bercorak Islam dan film Islam bertema biduan. Dalam film sosial bercorak Islam, si lakon pria menangkap kelebatan sekilas si lakon perempuan, namun kerudungnya (burqa tertutup) seringkali menuntunnya pada tragedi pada kesalahan mengenali, semisal di film Chaudhvin ka chand (1960, strd. M. Sadiq). Dibukanya burqa bisa jadi adalah tanda sebuah transisi di film, seperti yang terlihat pada Bombay (1995, stdr. Mani Ratnam) ketika burqa Shaila Bano tertiup angin saat ia berlari untuk bertemu Shekhar, yang menandakan bahwa dia telah menanggalkan nilai-nilai tradisionalnya. Di film bertema biduan, si lakon perempuan memang memakai kerudung, namun kehormatannya bukan untuk khalayak umum. Di Pakeezah (1971, stdr. Kamal Amrohi), si lakon perempuan bersikeras mempertahankan kehormatannya (karena itulah orang yang mencintainya menamainya Pakeezah, Suci), dan menuduh orang yang mencoba merampoknya dengan menyingkap kerudungnya di lagunya yang sangat terkenal ‘Inhe logon ko’ (‘Tanya orang ini’). Kerudung memiliki nilai erotis karena ide menutup dan membukanya, dan sejumlah lagu di film Hindi berbicara soal kerudung, bahkan ketika si lakon perempuan tak lagi memakainya.

Ringkasnya, tradisi berbahasa, sastra,, musik dan busana yang memiliki akar di dunia Muslim India Utara telah beralihrupa menjadi sebuah estetika bercorak Islam yang kosmopolitan di Bombay, dimuali di teater dan kemudian di film, yang kemudian merembes ke seluruh kultur masyarakat India dari abad ke-20 hingga sekarang.

 

*Diterjemahkan tanpa izin dari Filming The Gods (2006, Routledge), khususnya Bab 3 (The Islamicate Film).

Iklan
Standar