film, film india dan saya

Nana dan Saya

Oleh Mahfud Ikhwan

Saya sudah menyukainya bahkan sebelum tahu namanya. Tak seperti kata orang Jawa bahwa rasa suka muncul dari seringnya berjumpa, saya menyukainya karena ia begitu sulit ditemui. Ia begitu misterius. Hampir selalu muncul tanpa tanda pengenal, tanpa inisial, tapi daya pukaunya luar biasa. Pertemuan dengannya selalu jadi peristiwa fenomenal dalam ingatan saya. Saya hampir selalu bisa mengingat pertemuan itu, detil-detilnya, kapan dan di mana. Baca lebih lanjut

Iklan
Standar
film

3 Idiots dan Sebuah Pertanyaan*

Oleh Mahfud Ikhwan


Entah kenapa, setiap menemukan sebuah film India yang menarik, saya reflek, segera menengok ke perfilman Indonesia. Ada kalanya tengokan reflek itu akan dilanjutkan oleh sebuah studi komparasi imajiner. Namun, yang lebih banyak terjadi adalah munculnya pertanyaan bernada keluhan, “kapan ya…?”

***

Ketika pertama kali menonton Lagaan (2001), saya langsung teringat dengan, paling tidak, dua film perjuangan kita yang pernah tenar: Naga Bonar dan Tjut Nya Dien. Lagaan, film tentang perjuangan sekelompok penduduk desa di India untuk lepas dari membayar pajak kepada penguasa kolonial Inggris lewat permainan kriket, mengingatkan pada dua film masa Orba tersebut paling tidak dalam satu hal: pendekatannya yang berbeda untuk sebuah film perjuangan. Namun, film yang dibintangi Aamir Khan itu tetap saja menerbitkan sebuah pertanyaan: kapan Indonesia bisa bikin film perjuangan tanpa melibatkan keris dan bedil?

Tapi, perasaan setelah menonton Lagaan jauh lebih baik dibanding sesudah menonton The Legend of Bhagat Singh (2002). Film garapan sutradara Rajkumar Santoshi dan dibintangi Ajay Devgan ini, dalam ukuran ideal saya tentang sebuah film (India), tempatnya berada di bawah Lagaan. Tapi, luar biasanya dan gilanya—sehingga saya harus memaki, “wassyu!! Kok bisa ya India bikin film begini?”— film ini berkisah tentang sepak terjang Bhagat Singh, seorang pemuda Sikh, berhaluan komunis-anarkis, yang memilih jalan kekerasan (sembari mengentuti cara ahimsa ala Gandhi) dalam menghadapi pemerintah kolonial Inggris. Bhagat Singh, yang di film digambarkan membaca Lenin sesaat sebelum digantung, langsung mengingatkan saya kepada Tan Malaka, atau Haji Misbach, atau Semaoen, atau Koetil. Dan, wow, bayangkan betapa indahnya masa saat di sebuah bioskop di Indonesia kita menemukan poster film berjudul “Dari Penjara ke Penjara” atau “Haji Merah”, atau “Setelah Hikayat Kadiroen”, atau semacam itu, “Legenda Koetil”.

Perasaan yang sama saya alami setelah menonton Gandhi, My Father (2007). Film ini membikin ngatuk karena bertele-tele, tidak fokus, dan terlalu banyak maunya. Tapi, film yang diproduseri Anil Kapoor ini mengangkat hal yang mencengangkan tentang Mahatma Gandhi. Dari Gandhi, My Father, saya baru tahu kalau di balik kesuksesan Gandhi menjadi sosok bapak paling ideal bagi seluruh umat manusia, hampir seperti nabi pada abad ke-20 ini, ia ternyata gagal total menjadi bapak bagi anak kandungnya sendiri, Harilal. Jangan bayangkan, kegagalan itu soal kegagalan untuk bisa seperti Nehru yang sukses mengkader anak dan keturunannya menjadi pemimpin India berikutnya. Dalam film itu diperlihatkan, Gandhi bahkan gagal menjadikan Harilal, anaknya, sekadar sebagai orang baik. Di film itu Gandhi tampak tak berdaya menghadapi pembangkangan Harilal, yang pindah-pindah agama semau-maunya, berhutang sembarangan, hingga mabuk-mabukan sampai akhir hidupnya. Edan bukan? Sekarang, mari berandai-andai tentang sebuah film Indonesia yang bercerita tentang kebiasaan mabuk Pangeran Diponegoro, atau sebuah film tentang brengseknya HOS Tjokroaminoto dalam mengurus uang iuran anggota SI, atau tentang betapa sulitnya Soekarno menahan hasrat kelelakiannya. Maka, lagi-lagi, saya tak punya kata lain selain pertanyaan setengah putus asa, “kapan ya?”

Dan pertanyaan serupa itu sekali lagi muncul ketika saya belum lagi menyelesaikan menonton 3 Idiots (2009). Ya, itu bukan film terbaik atau bahkan bukan film India terbaik yang pernah saya tonton. Tapi, yang jelas, seperti deretan film-film India yang telah saya daftar sebelumnya, film ini sukses membuat saya ngungun untuk kemudian bertanya, “kapan Indonesia bisa bikin film kayak begini?”

***

Yang pertama harus saya utarakan, 3 Idiot telah membawa saya kepada pengalaman yang sama sekali baru dalam menonton film India.

Selepas booming Kuch Kuch Hota Hai (1998), rasa-rasanya berlimpah sekali film dengan latar belakang kampus dan dunia intrauniversiter. Namun, film-film macam itu—setahu saya—hanya meminjam kampus sebagai tempat kisah-kasih dua remaja berpaut dan kemudian meraja. Lebih dari cinta dan tari, tak ada. Baru di 3 Idiots inilah saya menemukan kehidupan kampus, panorama ruang kuliah, hingga sesak pengap asrama, muncul di layar lebar dengan cara yang jauh ‘lebih layak dan semestinya’.  Dalam film ini, kita bisa dapatkan suasana kelas, perdebatan, hingga kegelisahan intelektual dan masa depan yang serupa dengan, ambil contoh, With Honor, Dead Poet Society, atau Good Will Hunting. Ditambah adegan-adegan mabuk-mabukan di malam hari, botol-botol anggur di bawah kursi, dan olok-olok pekok seputar Tuhan dan agama, membuat suasana kampus di 3 Idiots menjadi lebih lengkap lagi. Maka, bagi mereka yang pernah menghuni bedeng-bedeng di pojok fakultas, atau yang pernah menumpang tidur, mandi, cuci, hingga menggarap skripsi di markas-markas unit kegiatan mahasiswa, 3 Idiot akan menjadi sebuah mesin waktu dan wahana nostalgia yang lumayan menjanjikan. Ini pengalaman baru yang pertama.

Pengalaman baru lain yang saya dapat dari film ini adalah humor yang melumuri sekujur film. Sejak TVRI menayangkan serial kolosal Haidar Ali di awal ‘90an, yang kemudian disusul dengan Mahabharatta dan Ramayana di TPI, dan kemudian banjir film Amitabh Bachchan-Sridevi hingga tahun 2000-an, film India jenis komedi adalah yang paling saya hindari. Eksyen, kolosal, drama, drama banget, atau triller bolehlah, tapi dengan komedi India saya selalu bermasalah. Dalam bayangan saya, film komedi India tak bisa lepas dari sosok opsir polisi India yang berkumis hitler dan bercelana pendek atau seorang adik ipar yang berambut seperti petruk yang setiap kata-katanya memakai kalimat, “demi kakak ipar” sembari menggoyang-goyangkan kepalanya. Bayangan itu semakin diperparah lagi dengan suara cempreng yang biasanya diberikan oleh penyulih suara. Dalam bayangan seperti itulah, 3 Idiot memacak saya dengan humor-humor, yang menurut saya, tak saya temukan dalam film-film India yang pernah saya tonton sebelumnya. Menyebabkan pesawat terbang mendarat darurat dengan pura-pura kena serangan jantung, atau lupa memakai celana karena terburu-buru, atau kesetrum karena mengencingi kabel berlistrik, adalah adegan-adegan konyol yang bisa ditemukan di film-film India jauh sebelum masa kejayaan aktor Govindha. Demikian juga dengan adegan-adegan komikal lain yang banyak bertebaran. Tapi ketika Rancho menjelaskan definisi mesin di depan dosen dengan cara yang ringkas dan mudah dimengerti, dengan mencontohkan resleting celana, sembari mengontraskannya dengan definisi ala buku ajar yang rumit dan berputar-putar, itu jelas humor yang canggih.

Demikian juga ketika film ini menampilkan kemiskinan keluarga Raju Rastogi. “Melihat rumah Raju, mengingatkanku kepada film hitam-putih tahun 50-an,” demikian kata Farhad, sang narator film. Maka, pada setiap adegan yang berlatar di rumah raju, film muncul dengan warna hitam-putih, dalam komposisi yang, tak bisa tidak, mengingatkan saya dengan rumah yang dihuni Sarbhajaya dan dua anaknya, Durga dan Apu, pada film Pater Pancali (1954) garapan Satyajit Ray. Itu humor yang mengocok perut sekaligus getir-mengiris.

Apakah itu humor Hollywood? Jika jenisnya adalah Forrest Gump, mungkin saja. Tapi jelas, itu sama sekali berbeda dengan humor-humor ala American Pie dan film-film epigonnya—yang belakangan jadi referensi paling sahih sekaligus satu-satunya bagi film-film komedi Indonesia belakangan ini. Mungkinkah humor-humor ini dipinjang dari film-film Eropa? Entahlah, saya tak tahu. Tapi yang pasti, humor jenis ini, belum pernah saya temukan dalam ratusan film India yang pernah saya tonton.

Namun, yang paling penting dari semua pengalaman baru itu adalah apa yang mau disampaikan oleh film ini. Film ini, oleh sutradaranya, Rajkumar Hirani, ditujukan untuk menjadi komentar sosial atas realitas yang terjadi di ranah pendidikan India, khususnya pendidikan tinggi. Seperti yang bisa ditangkap dalam dialog antara mahasiswa Rancho dan Pak Rektor Viru, India dihantui oleh angka bunuh diri pelajar tertinggi di dunia. Hal ini, menurut Rancho, dan tentu saja menurut film ini, dikarenakan pendidikan di India memperlakukan peserta didiknya seperti mesin; dengan ujung dari semuanya semata adalah pekerjaan dan kesuksesan material. Film ini mengecam kebiasaan menghafal, cara pengajaran yang teksbook, sistem rangking yang tidak hanya melahirkan persaingan yang tak sehat, tapi juga kebiasaan saling memakan di antara sesama. Dan, tentu saja, sebuah cara berpikir yang menyamakan pendidikan dengan selembar ijazah! Ya, ya, bagi yang pernah menonton dan kemudian memuja Dead Poet Society, pasti akan menganggap tak ada yang baru dari film macam begitu. Menurut saya juga demikian. Yang baru adalah: sebuah film yang senada Dead Poet Society, dengan tampilan yang lebih menyenangkan, telah muncul di dalam khazanah perfilman India.

Sebuah film yang belum dimiliki Indonesia!

***

Meski masih banyak film India yang menurut saya lebih bagus, saya juga tak keberatan mengakui kalau saya menyukai film ini. Bahkan, sangat menyukainya. Film ini, selain lucu dan menghibur, disajikan dalam racikan cerita kuat, dengan scene-scene yang saling berjalin, juga dengan karakter-karakter yang dibangun sangat rapi sekaligus masuk akal. Saya tak tahu sejauh mana novel Five Point Someone karya Chetan Bhagat menyumbang keseluruhan cerita film, namun untuk hal ini penulis naskah Abhijat Joshi patut mendapat pujian. Tentu saja harus dikatakan kalau ada bagian yang terlalu dilebih-lebihkan, seperti adegan Rancho menolong kelahiran Mona, putri tertua Viru, dengan memakai vacuum cleaner. Ah, itu MacGyver banget. Juga ending yang, meski tak gampang ditebak, sungguh terlalu memuaskan itu. Tapi, tentu itu, bisa saya terima dengan amat lapang dada. Saya menonton film India, apa bagaimana? Sebab, bisa jadi, seperti lagu, tarian, dan adegan-adegan mengharukan yang selalu berhasil, adegan yang dilebih-lebihkan dan ending yang amat memuaskan tampaknya adalah bagian dari ke-India-an yang memang harus dipertahankan.

Meski di situs Internet Movie Database (IMDB), ada sebuah ulasan yang mencaci maki film ini, salah satunya karena memasang Aamir Khan yang telah melewati kepala empat untuk memerankan mahasiswa, saya berani katakan kalau Aamir Khan melakukan pekerjaannya dengan baik. Sebagai Rancho, ia tampak 20 tahun lebih muda dari umurnya—hal yang tak bisa dilakukan oleh Shahrukh Khan di Kuch Kuch Hota Hai. Di mata saya, tampilan wajah Aamir Khan di 3 Idiots tak banyak berbeda dengan tampilannya di Ghulam (1998), film yang mengharu-biru desa saya sepuluh tahun lalu. Sementara itu, Kareena Kapoor, yang menurut saya tampilannya selalu menggangu film yang dibintanginya, juga tampil jauh lebih baik saat memerankan Phia, putri Pak Rektor Viru, gadis yang dicintai Rancho. Meski demikian, yang paling membekas dari film ini di kepala saya pastilah tingkah laku dan cara bicara Omi Vaidya, yang memerankan Cathur Ramalingam, musuh 3 Idiots. Siapa yang telah menonton film ini, saya yakin, kata “tuchuk-tuchuk”, sekaligus mimik muka yang menyertainya, tak akan bisa dihapus dari ingatan dalam waktu yang lama.

***

Belum lama ini kita diharu-biru oleh film Laskar Pelangi (dan sekuel-sekuelnya), yang bercerita tentang perjuangan anak-anak Belitong untuk sekolah dan mencapai cita-citanya. Sebelumnya, kita juga punya Denias, yang berkisah tentang seorang bocah pedalaman Papua yang rela melintasi lembah, gunung, dan hutan untuk bisa sekolah. Dua film ini punya pesan sama yang jelas: sekolahlah meski apa pun yang terjadi, sebab hanya dengan sekolah hidupmu akan berubah. Kedua film ini sukses, bahkan sukses besar, terutama secara komersial.

Dan karena justru itulah, selepas menonton 3 Idiots, muncul pertanyaan di kepala saya: kapan Indonesia punya film kayak begini?

Denias maupun Laskar Pelangi bukan film yang buruk. John de Rantau pada film pertama dan Riri Riza untuk film kedua telah melakukan pekerjaan terbaik yang bisa dilakukan oleh sutradara Indonesia di mana pun. Namun, bagi saya, kedua film itu terlalu lurus. Film-film pendidikan kita ini dibuat seakan Paulo Freire tak pernah menulis risalah-risalah pendidikannya. Film-film itu dibikin seolah-olah kecaman-kecaman keras Ivan Illich terhadap sekolah tak pernah kita dengar. Atau, dalam kalimat yang lebih keras, film-film ini muncul seakan-akan “Sajak Sebatang Lisong”-nya Rendra belum pernah didengar saat dibacakan. Film-film ini, dalam benak saya, sama sekali menganggap kalau dunia pendidikan kita baik-baik saja.

Ya ya ya, tentu saja orang-orang seperti Arie Sihasale atau Mira Lesmana tak akan terima dengan pendapat saya ini. Saya rasa, mereka akan katakan, “karena ada masalah dengan pendidikan kita, maka kami membuat Denias dan Laskar Pelangi.”

Okelah. Menggugah kesadaran masyarakat pinggiran untuk menyekolahkan anak adalah tindakan mulia. Demikian juga, sungguh perbuatan budiman untuk  menyemangati anak-anak agar pergi sekolah, apapun yang terjadi, agar kelak bisa menjadi orang-orang berguna bagi nusa dan bangsa. Namun, tindakan ini menjadi berbahaya jika khalayak sampai menerima pesan bahwa yang jadi biang masalah sebenarnya adalah kesadaran masyarakat yang rendah tentang pentingnya sekolah. Lebih fatal lagi jika film-film ini hanya membuat para birokrat menangis, tanpa membuat mereka sadar bahwa kebijakan yang mereka bikin telah membuat sekolah menjadi amat mahal dan tidak menyenangkan. Yang lebih berbahaya, film-film macam begini mempercepat reifikasi di kepala sebagian besar kita bahwa “sekolah adalah wajib, sehingga semahal apa pun harus kita tebus” dan “sekolah yang tinggi akan menjamin kesuksesan seseorang”. Efek lebih jauh—dan ini jelas telah terjadi di masyarakat—para orangtua hanya akan memasukkan anak mereka ke sekolah yang memungkin anak mereka sukses seperti yang mereka harapkan. Jika ini terjadi, ujung-ujungnya adalah apa yang digambarkan secara getir oleh 3 Idiots: keluarga Qureshi yang memaksa anak mereka yang suka fotografi dan ketika Pak Rektor Viru yang memaksa anaknya yang suka menulis untuk sekolah teknik.

Saya tak mungkin membenci film bagus macam Denias atau Laskar Pelangi. Tapi, berdasar pengalaman saya sekolah sejak umur 3 tahun hingga 23 tahun, saya membutuhkan film tentang pendidikan yang lebih dari macam itu. Membayangkan ada seorang sutradara Indonesia menggarap film ala Dead Poet Society mungkin hanya khayalan, sebab film macam itu sepertinya agak berat untuk menjaring lebih banyak penonton. Memikirkan ada penulis naskah yang senada dengan Not One Less-nya  Zang Yimou mungkin juga berat, sebab sepertinya film macam begitu kurang dramatis untuk menguras air mata para pejabat. Maka, saya rasa, saya merindukan ada seorang sutradara atau penulis naskah untuk membuat film yang riang, ringan, tapi sekaligus kritis. Semacam 3 Idiots.

Ada nggak ya? Kapan…?

Ditulis selepas Piala Dunia 2010,

(*pernah dimuat di mahfudikhwan.multiply.com. dimuat ulang di blog ini dengan beberapa penyesuaian.

Standar