Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 4)*

Oleh Mihir Bose; Terj. Mahfud Ikhwan 

 

Khanna vs Bahchcan

Rajesh Khanna dan Amitabh Bachchan benar-benar berbeda. Penulis Shobhaa De membuat paparan sangat jelas betapa berbedanya dua orang ini.

“Amitabh adalah sosok yang tidak mencolok. Anda bisa mengenali suaranya, matanya, dan di atas semuanya adalah auranya. Itu adalah aura yang berhasil mengubah orang atau individu paling biasa menjadi manusia setengah dewa. Amitabh memakai aura itu dengan sangat baik. Atau memanfaatkannya, sampai kemudian karir dan imejnya mulai merosot. Dengan hal itulah, ia tetap setingkat di atas Khanna… Namun Khanna memang bukan bagian dari lingkaran Nehru-Gandhi. Ia cuma anak kota biasa yang baik-baik saja. Amitabh muncul dengan paket lengkap, dan seluruh pendahulunya sudah jelas-jelas mempersiapkan (tempat untuk)-nya. Bicaranya tertata, bagus bacaannya, berbudi-bahasa dan tahu tatakrama, ia adalah jenis orang yang nyaman dengan dunia salon. Tidak dengan Rajesh, yang menangggung beban yang tak terhitung dan dirundung keraguan atas kemampuan diri sendiri. Keduanya jeblok saat masuk politik—Amitabh langsung terlempar di babak awal, sementara Rajesh terkatung-katung di sana. Rajesh ditandai oleh perasaan tercampakkan yang tak ditutupinya, sementara Amitabh dengan kediamannya yang disengaja. Satu hal yang sama-sama mereka miliki adalah sikap acuh-tak-acuh. Rajesh boleh jadi menjadi kakaji (paman) bagi orang-orang yang menggantungkan hidup kepadanya, sementara Amitabh bisa berpura-pura berbaur dengan para sosialita penjilat yang mati-matian ingin menari bersamanya di depan publik. Namun, tak ada yang akan menepuk punggung mereka atau bertingkah sok akrab dengan keduanya. Itu penting bagi megabintang yang tengah meredup untuk menjaga jarak, agar daya sihir itu tetap awet.”

Tentu saja Shobhaa De menulis hal ini pada 1998, ketika Amitbah tampak tengah jatuh dan tersingkir, dan baru bisa bangkit kembali lewat televisi dan kemudian balik lagi ke film.

Rajesh Khanna, lahir dengan nama Jatin Khanna, adalah seorang anak angkat yang, setelah sempat menjajal sebentar dunia teater, memenangkan kontes bakat—sesuatu yang tak pernah diraih oleh Amitabh. Ia membuat debutnya lewat film garapan Chetan Anand, Aakhiri Khat (1966). Mengingat nama besar Chetan Anand di dunia film, ini jelas awal yang sangat berbeda, laksana langit dan bumi, jika dibandingkan dengan yang dialami Bachchan bersama filmnya Abbas di Goa. Pada 1969, ketika Amitabh masih berkeliling mengempit foto hasil jepretan Ajitabh, Khanna sudah bermain dua peran, ayah dan anak yang sama-sama jadi pilot, dalam Aradhana. Sosoknya yang gagah dalam balutan seragam, tingkah yang ia suguhkan, bagaimana ia mengerlingkan mata dan menggelengkan kepala saat memberi isyarat kepada gadis yang jadi pasangannya, segera membuatnya menjadi pahlawan romantis paling dipuja. Lagu-lagu dari R.D. Burman juga membantu film tersebut menjadi hit besar.

Pada Desember 1969, Khanna kembali membintangi film lain, Do Raaste-nya Raj Khosla. Hasilnya adalah kegemparan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Bollywood. Ketika Do Raaste mulai tayang di Roxy, di seberang jalan Aradhana yang diputar di Opera House sedang laku-lakunya. Dan Bombay menyaksikan fenomena luar biasa: dua film yang dibintangi orang yang sama, di saat yang sama, sama-sama penuh sesak oleh penonton.

Fenomena Rajesh Khanna ini menenggelamkan semua orang di Bollywood, dan histeria yang ditimbulkannya tak ada yang menandingi, baik sebelum maupun setelahnya. Dengan hit demi hit, sementara seluruh perempuan di seluruh penjuru negeri dibuat kejang-kejang olehnya, Rajesh Khanna mengaku merasa “ada di sisi Tuhan”. Lima tahun kemudian, pada 1977, manakala Amitabh Bachchan tengah memantapkan namanya menjadi pahlawan terbesar Bollywood, tanpa tanding, karir Khanna tengah menukik. Dikisahkan, pada suatu sore, ia keluar dari rumah, berdiri di teras, di bawah guyuran hujan, dan bertanya kepada Tuhan, kenapa ia mendapatkan cobaan sebegitu rupa.

Bachchan tahu bahwa ia berada di bawah bayang-bayang sang superstar. Maka, pada 1970, ia dengan senang hati menerima tawaran untuk berperan menjadi seorang dokter bagi seorang pasien yang tengah sekarat, Anand, yang dimainkan Khanna dalam film yang berjudul Anand. Motivasi Bachchan adalah apabila ia bermain bersama sang superstar, maka ia akan memperoleh perhatian. Ini berkat nasihat Mehmood, seorang aktor dan sutradara. Mehmood adalah saudara Anwar Ali, yang merupakan karib Bachchan. Lewat perantaranyalah Bachchan bisa numpang di rumah Mehmood yang selalu terbuka dan bisa mengenalnya, dan mengajaknya main di Bombay to Goa (1972). Mehmood menasihati, “Rancanglah penampilanmu di samping Rajesh Khanna. Bayangkan dia sekarat… itu pasti akan hebat… seluruh negeri pasti akan menangis tersedu-sedu.”

Dan begitulah yang kemudian terjadi, kata Bachchan. “Yang jelas, menjadi satu tim dengan Rajesh Khanna, idola terbesar India, membuatku mendapatkan tempat penting dan terhormat yang sama (dengannya).”

Belakangan Bachchan mengatakan, “Rajesh Khanna—yang namanya telah bercap superstar—membuatku memperoleh perhatian. Juga tentu saja karena kisah yang menakjubkan dan naskah yang luar biasanya yang ditulis Hrishida (panggilan untuk Hrishikesh Mukerjee, sutradara Anand—penerj.). Film itu terlihat begitu nyata, membuat para penggemar Rajesh Khanna benar-benar nelangsa.”

Adegan terakhir menunjukkan (tokoh yang dimainkan) Bachchan, seorang dokter yang murung, sensitif, tengah menyaksikan (tokoh yang dimainkan) Khanna, seorang pasien yang menanggung rasa sakit dan deritanya dengan senyum dan senantiasa menunjukkan semangat hidup, mati. Yang sangat menolong adalah bahwa film ini dibuat oleh para lulusan dari apa yang disebut sebagai Sekolah Film Bimal Roy; Hrishikesh Mukerjee, sang sutradara, yang juga penggagas cerita, dan Gulzar, yang menulis naskah, adalah para (bekas) asisten Roy, dengan musik digarap oleh Salil Chowdhury.

Saat pembuatan film ini, ikatan persahabatan terbangun antara Bachchan dan Mukerjee; Bachchan memuja sang sutradara dan akan bilang dengan nada mesra betapa Mukerjee telah menenangkannya ketika ia memainkan adegan terakhir manakala (tokoh yang diperankan) Khanna mati. Memikirkan bagaimana penampilannya di adegan itu membuatnya jadi sangat grogi dan tak mampu tampil dengan baik, sampai Mukerjee menenangkannya. Dengan Mukerjee-lah Bachchan bermain di delapan film, paling banyak dibanding dengan sutradara lain. Pada tahun-tahun yang akan datang, Bachchan akan disutradarai oleh banyak orang, tapi Mukerjee-lah yang selalu jadi tolok ukurnya bagaimana seorang sutradara memperlakukan dirinya—sementara beberapa sutradara juga meminta masukan dari Mukerjee bagaimana cara menangani Bachchan. […]

Penampilan Bachchan memenangkan Filmfare Award untuk Aktor Pembantu Terbaik. Meski para kritikus sudah mulai memberi perhatian kepadanya, dan memberikan pujiannya, tak ada seorang pun yang berpikir bahwa ia akan lebih dari sekadar aktor watak yang kuat, semacam Balraj Sahni versi ’70-an. Namun, setidaknya, ada yang berubah dari seorang kritikus yang selalu menulis jelek dan tanpa ampun tentangnya, Bikram Singh, seorang kritikus film dari The Times of India, yang oleh Bachchan dibilang, “selalu muak dengan kemuraman wajah dan tatapan kosongku.” Ini adalah kesuksesan pertamanya, saat ia benar-benar menunjukkan kemampuan aktingnya. Bombay to Goa garapan Mehmood juga sukses di box office, namun di situ Bachchan cuma nongol sebagai kameo konyol saja.

Namun, mengingat Bollywood tak berbeda dengan semua industri sinema, yang mana box office di atas segalanya, Bombay to Goa tetap menarik perhatian. Pada tahun berikutnya, sutradara Prakash Mehra mencanangkan membuat Zanjeer. Ia pun melirik Amitabh, meskipun Bachchan cuma pilihan kelima setelah Dev Anand, Raaj Kumar, Dharmendra, dan Rajesh Khanna. Dev Anand, pilihan pertama Mehra, minta diizinkan untuk menyanyi lebih banyak lagu, namun Mehra bersikeras bahwa jenis karakter di film ini tak memungkinkan untuk itu. Yang aneh, Anand malah menawarkan diri untuk menjadi produser dan mendanai film itu lewat Navketan (perusahaan film milik Dev Anand dan saudaranya Chetan Anand—penerj.) dan menawari Mehra untuk jadi sutradaranya. Itu tawaran yang membuat Mehra terkejut, sebab awalnya ia menawari sang aktor veteran satu peran dan di akhir justru ialah yang ditawari pekerjaan.

Mehra kemudian membuat janji dengan Dharmendra, tapi waktunya tidak cocok dengan jadwalnya. Rajesh Khanna, sementara itu, merasa bahwa karakter si tokoh utama tak cocok dengan imejnya yang romantis. Pran, yang akan memainkan tokoh Pathan di film, kemudian menyarankan Mehra untuk menonton Bombay to Goa, khususnya untuk melihat si aktor muda, Amitabh. Maka, disertai dua penulis naskah, Salim Khan dan Javed Akhtar, yang di Bollywood dikenal sebagai duo Salim-Javed, Mehra pergi ke bioskop.

Seperti yang sudah terjadi, Pran, yang tak pernah suka nonton film di bioskop, sebenarnya belum menonton film itu. Ia hanya mengandalkan apa yang dikatakan anaknya kepadanya. Film itu punya satu adegan perkelahian, dan tepat di momen saat melihat adegan itu Mehra berteriak: “Mil gaya!”, yang berarti “kita dapat!”. Ketika seluruh orang di bioskop dibuat terkejut oleh teriakannya, Mehra bangkit dari duduknya dan keluar begitu saja. Ia tak butuh menonton film itu sampai selesai.

Ia bilang kepada Javed, “Kita sudah dapat jagoan kita.”

(Bersambung…)

 

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006), khususnya bab 15, ‘A Shy Man and His Use of Anger’.

Iklan
Standar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s