Amitabh Bachchan, Angry Young Man, Sejarah Film India, terjemahan

Lelaki Pemalu dan Amarahnya (Bag. 5)

Oleh Mihir Bose; terj. Mahfud Ikhwan

 

Zanjeer dan Sukses-sukses Setelahnya

Ia bilang kepada Javed, “Kita sudah dapat jagoan kita.”

Masalahnya sekarang, siapa yang akan jadi jagoan perempuannya?

Penolakan Khanna artinya juga mundurnya Mumtaz. Seorang aktris dari kalangan kelas menengah muslim yang terhormat, yang terkenal karena badannya yang semok dan bibirnya yang menawan, Mumtaz telah membintangi banyak film sukses bersama Khanna, dengan yang paling sukses adalah saat ia memenangi Aktris Terbaik pada 1970. Karena Khanna bukan jagoannya, ia pun tak tertarik lagi. Beruntungnya Amitabh, Jaya Baduri masuk. Putri dari seorang penyair Bengali, Jaya telah menjadi seorang aktris sejak kanak-kanak, ketika pada usia 13 ia bermain di film Satyajit Ray, Mahanagar. Ia juga adalah salah satu lulusan pertama Institut Film Poona yang baru berdiri.

Keduanya sudah pernah berakting bersama, meskipun kerjasama pertama mereka di film Guddi, yang jadi pertemuan pertama mereka, tidak berumur panjang karena, setelah beberapa kali syut, Amitabh mundur dengan alasan yang membingungkan Jaya. Boleh jadi karena saat itu Amitabh punya jadwal sendiri untuk membuat film lebih dari satu dalam satu waktu, yang itu membuatnya tidak cocok dengan tuntutan film tersebut. Seiring berlalunya waktu, Zanjeer pun datang mempersatukan mereka, meskipun dengan cara yang benar-benar India. Menurut Jaya, hal ini bukan kelanjutan dari nonton film bareng, terus pergi sebelum film selesai, sebagaimana yang sekarang diketahui khalayak. Tak ada pacaran ala Barat, tidak juga romantis-romantisan, apalagi pakai lilin segala. Sebagian besar waktu yang mereka habiskan bersama didampingi oleh teman-teman mereka, sementara Amitabh akan mengajaknya berkeliling kota dengan Fiatnya dan menghadiahinya sari-sari yang mahal. Masalahnya, sari-sari tersebut semuanya berwarna putih dengan pelipit jambon, warna yang dibenci Jaya. Meski demikian, Jaya memakainya agar tak mengecewakan Amitabh.

Pembuatan Zanjeer penuh dengan masalah. Pran, yang bermain sebagai seorang Pathan, seorang penjahat yang bersahabat dengan seorang polisi yang tengah menegakkan keadilan, untuk beberapa alasan adalah jualan utama film tersebut. Ia adalah bintang yang sudah mapan. Namun, di hari pertama syuting, ia mengancam mundur dari film setelah ia tahu bahwa ia diharuskan melakukan adegan menyanyi. Lagu dan lirik lagu itu memberinya kesulitan. Sebagai aktor yang telah main menjadi penjahat Bollywood selama hampir tiga dekade, dan dikenal baik di kalangan industri sebagai Pran Sahib, sebagaimana ia dipanggil, ia tidak akan menyanyi dan menari, lebih-lebih pakai lari-lari di antara pohon-pohon. Mehra mesti buru-buru ke rumah Pran, memohon-mohon kepadanya, bilang bahwa tanpanya film itu tak akan laku, sebab Amitabh yang jadi tokoh utamanya tak akan bisa membuat film tersebut jadi box office.

Pran yang merekomendasikan Amitabh tanpa pernah melihatnya mendapati bahwa anak itu masih hijau dan perlu dilatih. Mereka punya satu adegan bersama di kantor polisi ketika Amitabh akan menendang kursi yang akan diduduki oleh Pran untuk menunjukkan amarahnya. Amitabh tak bisa menunjukkan amarah yang semestinya. Ia akrab dengan anak Pran dan, dengan tata krama ala India, ia memanggilnya Paman Pran. Pran bertutur kepada penulis biografinya, “Aku tahu yang bergolak di hatinya. Maka aku bilang kepadanya, ‘Jangan menganggapku sebagai paman. Anggap aku penjahat. Lupakan soal paman-pamanan itu, tendang saja kursinya.’ Setelah itu barulah ia bisa melakukan adegan itu cukup baik. Ia sangat sopan.”

Pran, dalam sosoknya yang ikonik di Zanjeer.

Bollywood tersenyum meremehkan saat film itu belum rilis. Mehra, seorang penulis lirik gagal yang kemudian beralih menjadi sutradara, belum sepenuhnya punya nama. Tim penulis, Salim-Javed, malah tak punya apa-apa untuk diandalkan. Salim adalah seseorang yang bercita-cita jadi aktor, yang memainkan beberapa peran sangat kecil, dan karir aktingnya tak jelas mau ke mana; Javed adalah penulis-upahan yang sibuk menulis dialog-dialog film yang terlupakan. Ketika Zanjeer dibuat, Bandhe Haath, film Bachchan yang lain, tengah rilis dan jeblok. Itu artinya, ia sudah jeblok dalam 13 film, sehingga mood di kamp Zanjeer begitu muram—hal yang membuat Prakash Mehra mengumumkan produksi keduanya yang berjudul Hera Pheri, sebuah komedi yang akan dibintangi Bachchan dan Vinod Khanna, cuma untuk berusaha mengangkat moral Bachchan dan mengentaskannya dari depresi. Namun, pada 23 Mei 1973, ketika Zanjeer buka layar di Liberty Theatre Mumbai, film itu segera mencetak sejarah. Film itu, tanpa disangka, melejit.

Jika sebelum Zanjeer Bachchan adalah orang yang penuh kegagalan, maka setelahnya semua hal yang dilakukannya akan sukses. Dari 70-sekian film yang ia bintangi antara 1973 hingga 1984 (tahun ketika ia mengaso dari film untuk masuk ke politik), hanya tiga film yang gagal balik modal. Sebuah survei di tahun 1984 menunjukkan bahwa, dari 15 film terlaris sepanjang masa di sinema Hindi, 40 persennya dibintangi oleh Bachchan. Bahkan, film-film yang pada awalnya jeblok menjadi film-film sukses setelah dirilis ulang. Malah, film-film Bachchan yang dirilis ulang itu bisa menangguk uang lebih banyak dibanding film-film hit dari aktor lain. Pada 1 Mei 1980, Bachchan menjadi sampul di India Today. Ia difoto dengan jaket merah, menyandar di pohon palem, dengan tajuk besar: The One-Man Industry (Pemain Tunggal Industri Film). Di situ, penulis Vir Sanghvi menyatakan:

“Pada suatu waktu di setiap harinya lebih dari satu laksa (100 ribu) orang menontonnya menyanyi, menari, dan berkelahi di layar bioskop. Setiap tahun, lebih dari empat krore (100 juta) orang menyaksikannya memerangi kekuatan jahat. Setiap ia keluar rumah, investasi seharga 550 krore rupee (500 juta) bertumpu di pundaknya. Seperti dikatakan dengan jengkel oleh produser Prancis Alain Chamaz, yang gagal membujuknya memberikan tanda tangan kontrak, ‘Amitabh Bachchan adalah industri itu sendiri’.”

Bagaimanapun, ketika Zanjeer sedang dibuat, dan sebelum Bachchan menjadi industri film itu sendiri, ia telah terlibat di sebuah film yang mendefinisikan era modern Bollywood; era 1970, dan setelahnya. Jika Mother India dan Mughal-E-Azam adalah film ikonik dari dekade 1950-an dan awal 1960-an, maka film itu, Sholay, telah membuktikan sebagai film paling diingat yang pernah diproduksi Bollywood, yang membawa sinema Hindi ke level yang belum pernah dicapainya.

(Bersambung…)

 

*Diterjemahkan dari Mihir Bose, Bollywood: A History (2006).

Iklan
Standar